Ketegangan AS-China Angkat Rupiah ke Rp14.514 per Dolar AS

CNN Indonesia | Jumat, 24/07/2020 09:29 WIB
Rupiah menguat ke Rp14.514 per dolar AS terangkat ketegangan antara AS dengan China. Ketegangan dikhawatirkan tekan ekonomi AS sehingga menekan dolar. Ketegangan AS-China angkat rupiah ke Rp14.514 per dolar AS. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah berada di level Rp14.514 per dolar AS pada Jumat (24/7) pagi. Posisi ini menguat 66 poin atau 0,45 persen dari Rp14.580 pada Kamis (23/7).

Rupiah menguat bersama sebagian mata uang Asia, seperti dolar Singapura yang menguat 0,1 persen, ringgit Malaysia 0,02 persen, yen Jepang 0,31 persen, peso Filipina 0,06 persen, dan baht Thailand 0,07 persen.

Hal serupa terjadi di jajaran mata uang utama negara maju. Dolar Australia menguat 0,21 persen, poundsterling Inggris 0,09 persen, dolar Kanada 0,1 persen, euro Eropa 0,14 persen, franc Swiss 0,09 persen.


Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra optimistis rupiah akan bertahan di teritori positif hingga sore nanti. Hal ini karena memanasnya hubungan AS dan China membuat dolar AS tertekan.

"Memanasnya hubungan AS dengan China karena isu penutupan kantor konsulat China di Houston AS telah menekan dolar AS," kata Ariston kepada CNNIndonesia.com, Jumat (24/7).

Menurutnya, pasar khawatir ekonomi AS akan terpengaruh karena memanasnya hubungan negara tersebut dengan China. Jika benar demikian, maka ekonomi Negeri Paman Sam akan lebih tertekan di tengah pandemi virus corona

"Rupiah bisa melanjutkan penguatan karena hal tersebut dengan potensi kisaran Rp14.500 per dolar AS sampai Rp14.650 per dolar AS," kata Ariston.

[Gambas:Video CNN]

Namun, ia menyarankan pasar terus memantau perkembangan konflik AS dengan China. Bila hal tersebut ikut mengganggu ekonomi dunia, maka sentimennya akan menjadi negatif untuk rupiah karena pasar akan beralih ke aset yang lebih aman.

"Pasar bisa segera beralih bila isu AS dan China juga dianggap mengganggu pemulihan ekonomi global yang bisa menyebabkan harga aset berisiko tertekan termasuk rupiah," pungkas Ariston.



(aud/agt)

[Gambas:Video CNN]