Ikuti Tren Aset Berisiko, Rupiah Menguat ke Rp14.455

CNN Indonesia | Selasa, 28/07/2020 09:37 WIB
Nilai tukar rupiah menguat 0,55 persen ke Rp14.455 per dolar AS pada perdagangan Selasa (28/7) pagi. Nilai tukar rupiah menguat 0,55 persen ke Rp14.455 per dolar AS pada perdagangan Selasa (28/7) pagi. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.455 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Selasa (28/7) pagi. Posisi tersebut menguat 0,55 persen dibandingkan perdagangan Senin (27/7) sore di level Rp14.535 per dolar AS.

Pagi ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,06 persen, dolar Hongkong menguat 0,01 persen, dolar Singapura menguat 0,12 persen, dolar Taiwan menguat 0,44 persen, won Korea Selatan menguat 0,32 persen, dan peso Filipina menguat 0,17 persen.

Selanjutnya, yuan China juga menguat 0,11 persen diikuti ringgit Malaysia yang menguat 0,13 persen dan baht Thailand dengan penguatan 0,19 persen. Hanya rupee India yang masih terpantau melemah sebesar 0,01 persen.


Sementara itu, mayoritas mata uang di negara maju terpantau melemah di hadapan dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,04 persen, dolar Australia melemah 0,24 persen dan franc Swiss melemah 0,09 persen. Hanya dolar Kanada yang terpantau menguat sebesar 0,07 persen.

Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra memprediksi hari ini rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp14.450-14.600 per dolar AS.

Pagi ini aset berisiko di pasar keuangan terlihat menguat seperti indeks saham Asia, mata uang utama dunia dan emerging markets.

"Tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun terlihat naik kembali ke area 0,61persen, setelah sebelumnya bergerak di bawah 0,60 persen, yang mengindikasikan pasar kembali masuk ke aset berisiko," ujar Ariston kepada CNNIndonesia.com.

[Gambas:Video CNN]

Penguatan aset berisiko ini didukung oleh faktor rencana stimulus fiskal AS senilai US$1 triliun untuk membantu perekonomian AS yang tertekan karena pandemi.

"Selain itu laporan kemajuan vaksin Moderna dan Pfizer yang diperkirakan bisa digunakan di akhir tahun juga menjadi pendorong penguatan aset berisiko termasuk rupiah," pungkasnya.

(hrf/sfr)