UEA Jadi Negara Arab Pertama Rilis Pembangkit Listrik Nuklir

CNN Indonesia | Minggu, 02/08/2020 09:56 WIB
Uni Emirat Arab meluncurkan pembangkit listrik tenaga nuklir. Ini menjadikan UEA sebagai negara Arab pertama yang memiliki sumber energi nuklir. Uni Emirat Arab meluncurkan pembangkit listrik tenaga nuklir pada Sabtu (1/8). Ini menjadikan UEA sebagai negara Arab pertama yang memiliki sumber energi nuklir. Ilustrasi. (AP Photo/ISNA, Hamid Foroutan).
Jakarta, CNN Indonesia --

Uni Emirat Arab (UEA) resmi meluncurkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertamanya pada Sabtu (1/8). Pembangkit listrik tersebut membuat UEA sebagai negara Arab pertama yang memiliki sumber energi nuklir.

PLTN itu dikenal sebagai Unit 1 Barakah yang terletak di wilayah Al Dhafrah, Abu Dhabi. Proyek tersebut diongkosi oleh cukong-cukong minyak di Arab.

Menurut Emirates Nuclear Energy Corporation, Unit 1 merupakan yang pertama dari total empat PLTN yang rencana dibangun UEA.


Perusahaan tersebut memaparkan pembangunan PLTN Unit 2 telah selesai baru-baru ini, sementara dua PLTN lainnya masih dalam proses rekonstruksi.

Keempat PLTN tersebut dapat memproduksi hingga 5,6 gigawatt listrik dan memasok 25 persen listrik bagi UEA ketika selesai dan beroperasi secara penuh.

Kepala Eksekutif Emirates Nuclear Energy Corporation Mohamed Ibrahim Al Hammadi mengatakan peresmian PLTN Unit 1 ini merupakan momen bersejarah bagi UEA.

"Kita sekarang berada satu langkah lebih dekat untuk mencapai cita-cita kita untuk memasok sampai seperempat kebutuhan listrik nasional dan memberdayakan pertumbuhan pembangunan dengan energi yang aman, dapat diandalkan, dan bebas emisi," ucap Al Hammadi seperti dikutip CNN, Minggu (2/8).

Pembangunan PLTN ini merupakan salah satu upaya UEA melepaskan ketergantungannya akan minyak dan gas sebagai sumber energi nasional.

UEA merupakan salah satu pemasok minyak mentah dan gas terbesar di dunia. Perekonomian negara Emirat tersebut terus berkembang secara pesat selama beberapa dekade terakhir akibat penjualan minyak dan gasnya.

Produksi minyak dan gas UEA menyumbang hampir satu pertiga GDP nasional. Pada 2019 lalu, UEA memasok minyak mentah senilai US$50 miliar ke berbagai negara.

Meski Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mendukung PLTN tersebut, sejumlah ahli energi mempertanyakan urgensi UEA membangun reaktor energi nuklir di saat situasi tak menentu di Timur Tengah.

Beberapa ahli bahkan menganggap UEA memiliki potensi mengembangkan energi panas atau solar energy ketimbang energi nuklir.

Kepala Nuclear Consulting Group Paul Dorfman menganggap investasi UEA terhadap pembangunan energi nuklir di negaranya berisiko menjadikan kawasan Timur Tengah terutama kawasan Teluk Arab tidak stabil.

Menurut Dorfman, energi nuklir juga berpotensi merusak lingkungan dan meningkatkan proliferasi nuklir di kawasan.

Dalam sebuah opini yang dirilis tahun lalu, Dorfman berpendapat bahwa investasi terhadap pembangunan PLTN "cukup aneh" mengingat biaya pembangunan energi nuklir tengah meningkat, sementara biaya pembuatan energi terbarukan (renewable energy) tengah turun.

"Karena energi nuklir tampaknya tidak masuk akal secara ekonomi di kawasan Teluk Arab, yang memiliki beberapa sumber energi matahari terbaik di dunia, minat UEA untuk mengembangkan PLTN mungkin ada yang disembunyikan, seperti proliferasi senjata nuklir," terang Dorfman.

Tanggapan serupa dilontarkan ahli energi Bakar Institute dari Rice University Jim Krane. Menurut Krane, berdasarkan perhitungan biaya, pembangkit listrik tenaga nuklir menjadi "pilihan yang tidak kompetitif" bagi UEA.

Namun, Krane menekankan kepentingan strategis UEA dengan kepemilikan PLTN tersebut. Ia mengatakan UEA menjadi negara yang memiliki teknologi nuklir ketika di Timur Tengah setelah Israel dan Iran.

[Gambas:Video CNN]



(rds/bir)