Daya Beli Lemah, Bisnis Ritel Diproyeksi Minus 2,6 Persen

CNN Indonesia | Selasa, 04/08/2020 07:06 WIB
Aprindo memproyeksi bisnis ritel pad kuartal kedua terkontraksi hingga minus 2,6 persen karena daya beli masyarakat melemah dan ramainya PHK. Aprindo memproyeksi bisnis ritel pad kuartal kedua terkontraksi hingga minus 2,6 persen karena daya beli masyarakat melemah dan ramainya PHK. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) memprediksi bisnis ritel sepanjang kuartal kedua 2020 terkontraksi minus 2,5 persen hingga minus 2,6 persen. Secara keseluruhan, pada semester I, industri ritel diperkirakan tumbuh di bawah satu persen.

"Di kuartal pertama kami tinggal 2,7 persen. Di kuartal kedua, (proyeksi) berada di minus 2,5 sampai minus 2,6 persen. Ini indikator yang hampir sama juga dengan ekonomi kita," ujar Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey kepada CNNIndonesia.com Senin (3/8).

Lebih lanjut Roy menuturkan menyusutnya pertumbuhan ritel sudah diprediksi. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya daya beli masyarakat akibat banyaknya perusahaan yang merumahkan karyawan dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).


Lebih lanjut ia menjelaskan penurunan terparah indeks rata-rata penjualan riil terjadi pada Mei 2020, yakni sebesar 20,6 persen. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, penjualan ritel masih tumbuh 7,7 persen.

Sementara, pada April indeks penjualan riil tercatat sebesar minus 16,9 persen dan pada Juni mencapai minus 14,4 persen. "Juni mengalami perbaikan karena ada PSBB transisi tapi tetap masih minus," ucapnya.

Penurunan terbesar pada kuartal kedua, lanjut Roy, disebabkan oleh anjloknya penjualan kelompok sandang. Namun, turunnya kelompok sandang masih diimbangi oleh kelompok sandang (makanan-minuman) yang masih tumbuh positif. 

"Pada Mei minus 74 persen, sementara April minus 70 persen. Tapi diimbangi oleh penjualan ritel pangan hingga akhirnya indeks penjualan riil terkontraksi minus 20,6 Mei dan April minus 16,9 persen," tuturnya.

Meski demikian, ia melihat industri ritel masih punya harapan tumbuh pada kuartal III dan IV 2020. Pasalnya, Presiden Joko Widodo telah meminta jajarannya untuk mempercepat realisasi bantuan sosial dan stimulus ekonomi.

Hal ini, menurutnya, dapat mendorong konsumsi masyarakat lebih tinggi dibanding kuartal II dan kuartal III mendatang.

"Apalagi ditambah kredit korporasi sektor swasta. Ini bisa menggerakkan sektor riil. Perusahaan bisa merestrukturisasi kreditnya dan pekerja dapat kembali berproduksi," imbuh Roy.

Optimisme peritel juga tumbuh lantaran ada uji coba vaksin Covid-19 oleh Bio Farma. "Sudah ada gambaran ada vaksin yang mulai diuji klinis. Jadi ini ekspektasi yang tentunya membangkitkan optimisme," jelasnya.

Menurut Roy, sejauh tidak ada gelombang kedua Covid-19, ia yakin industri ritel tetap bisa tumbuh meskipun hanya sekitar 1 sampai 2 persen pada tahun ini.

Apalagi, masih ada momentum libur natal dan tahun baru yang di mana biasanya masyarakat mulai meningkatkan konsumsinya.

"1-2 persen tumbuh itu sudah bagus. Karena kita tahu proyeksi ekonomi kita saja kan oleh Bank Dunia nol persen kan? Jadi tentu harapannya konsumsi semester II lebih besar dari semester I," tandasnya.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK