Mengenal Resesi Ekonomi dan Celengan yang Perlu Disiapkan

CNN Indonesia | Kamis, 06/08/2020 08:41 WIB
Resesi ekonomi akibat corona makin mendekati Indonesia. Apa itu resesi dan yang perlu disiapkan untuk menghadapinya. Berikut ulasannya. Resesi makin mendekati ekonomi RI setelah ekonomi minus 5,32 persen pada kuartal II 2020. Masyarakat perlu bersiap supaya resesi tak menekan hidup mereka. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia minus 5,32 persen pada kuartal II 2020 secara tahunan. Angkanya berbanding terbalik dengan kuartal II 2019 yang masih tumbuh 5,05 persen.

Kepala BPS Suhariyanto menyebut kontraksi ini menjadi yang pertama sejak kuartal I 1999 silam atau era Presiden Habibie. Saat itu, ekonomi Indonesia minus 6,13 persen.

Jika tidak hati-hati, kondisi itu bisa menyebabkan Indonesia terperosok ke jurang resesi ekonomi.


Apa itu artinya Indonesia sudah masuk ke jurang resesi?

Dalam ilmu ekonomi, negara bisa disebut mengalami resesi apabila ekonominya terkontraksi atau minus dalam dua kuartal berturut-turut. Secara kuartalan Indonesia sebenarnya sudah minus sejak kuartal IV 2019 lalu hingga kuartal II 2020.

Secara kuartalan, ekonomi Indonesia minus 1,74 persen. Kemudian, ekonomi kembali minus 2,41 persen pada kuartal I 2020 dan minus 4,19 persen pada kuartal II 2020.

Ini artinya, ekonomi domestik sudah terkontraksi tiga kuartal berturut-turut kalau dilihat secara kuartalan. Hanya saja, bukan berarti Indonesia sudah masuk ke jurang resesi setelah ekonominya minus tiga kuartal berturut-turut bila dilihat secara kuartalan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan perhitungan resesi merujuk pada pertumbuhan ekonomi secara tahunan, bukan kuartalan. Secara tahunan, Indonesia baru tercatat minus pada kuartal II 2020.

"Biasanya dalam melihat resesi itu dari year on year (tahunan) untuk dua kuartal berturut-turut. Jadi dalam hal ini, kuartal II 2020 pertama kali ekonomi Indonesia mengalami kontraksi," ungkap Sri Mulyani dalam video conference, Kamis (6/8).

Jika ekonomi kembali minus pada periode Juli-September 2020, maka Indonesia baru bisa disebut resesi. Dengan kata lain, kuncinya ada pada kuartal III 2020 nanti.

"Kalau kuartal III 2020 kami bisa hindarkan (dari pertumbuhan negatif), maka Indonesia Insya Allah secara teknikal tidak mengalami resesi," tegas Sri Mulyani.

Negara Lain Resesi Duluan

Indonesia masih lebih beruntung. Paling tidak, sampai saat ini ekonomi belum mengalami resesi.

Itu berbeda dengan beberapa negara lain sudah masuk ke jurang resesi lebih dulu akibat pandemi virus corona. Hal ini khususnya terjadi pada mitra dagang Indonesia.

Singapura salah satunya. Ekonomi negara tersebut terkontraksi pada kuartal I 2020 sebesar 0,3 persen dan kembali kontraksi pada kuartal II 2020 sebesar 12,6 persen.

[Gambas:Video CNN]

Begitu juga dengan Hong Kong. Negara tersebut mencatatkan ekonominya minus 9,1 persen pada kuartal I 2020 dan kembali minus pada kuartal II 2020 sebesar 9 persen.

Hal yang sama terjadi pada Uni Eropa yang mencatatkan minus selama dua kuartal berturut-turut. Rinciannya, pada kuartal I 2020 ekonominya minus 2,5 persen dan kuartal II 2020 minus 14,4 persen.

Sebaliknya, China berhasil keluar dari ancaman resesi. Pada kuartal I 2020, ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut terkontraksi 6,8 persen. Namun, berhasil kembali tumbuh positif pada kuartal II 2020 sebesar 3,2 persen.

Sementara, ekonomi Vietnam berhasil tetap 'hijau' sepanjang semester I 2020. Detailnya, kuartal I 2020 ekonomi Vietnam tumbuh 3,8 persen dan kuartal II 2020 tumbuh melambat sebesar 0,4 persen.

Perlu Siap

Walaupun penentuan resesi atau tidak masih dua bulan lagi, tapi ada baiknya masyarakat siap-siap terhadap kemungkinan terburuk. Sebab, beberapa pengamat melihat Indonesia mustahil terhindar dari resesi.

Bagaimana tidak, seluruh komponen ekonomi berdasarkan pengeluaran hancur lebur atau minus. Begitu juga dengan mayoritas lapangan usaha yang 'merah' sepanjang kuartal II 2020.

Untuk komponen berdasarkan pengeluaran terlihat tingkat konsumsi masyarakat minus 5,51 persen. Kemudian, investasi minus 8,61 persen, ekspor minus 11,66 persen, konsumsi pemerintah 6,9 persen, konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) minus 7,76 persen, dan impor minus 16,96 persen.

Lalu dari lapangan usaha, sektor transportasi dan pergudangan terlihat paling hancur karena minus hingga 30,84 persen. Diikuti oleh sektor akomodasi dan makan minum yang minus 22,02 persen, jasa lainnya minus 12,6 persen, dan jasa perusahaan minus 12,09 persen.

Selanjutnya, perdagangan minus 7,57 persen, konstruksi minus 5,39 persen, administrasi pemerintahan minus 3,22 persen, industri minus 6,19 persen, serta pengadaan listrik dan gas minus 5,46 persen.

Sementara, hanya tujuh sektor yang mampu tumbuh pada kuartal II 2020. Sektor itu adalah pertanian yang tumbuh 2,19 persen, infokom tumbuh 10,88 persen, jasa keuangan tumbuh 1,03 persen, jasa pendidikan tumbuh 1,21 persen, real estate tumbuh 2,3 persen, jasa kesehatan tumbuh 3,71 persen, dan pengadaan air tumbuh 4,56 persen.

Lalu apa yang harus disiapkan kalau ekonomi mengalami resesi?

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet menyatakan masyarakat sebaiknya meningkatkan porsi tabungannya di tengah ketidakpastian ini. Sebab, situasi ekonomi akan bertambah buruk jika Indonesia benar-benar masuk ke jurang resesi.

"Kalau seperti ini kecenderungannya menabung. Jadi masyarakat menabung untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk akan terjadi akibat pelemahan pertumbuhan ekonomi," ucap Yusuf.

Hal ini berlaku bagi seluruh golongan masyarakat, dari kelas menengah ke bawah sampai kelas menengah ke atas. Selain itu, masyarakat juga harus menyeleksi lagi barang-barang yang dibeli setiap bulannya.

"Jadi lebih dihemat biar tetap ada sisa untuk menabung," imbuh Yusuf.

Penyeleksian barang yang dibeli setiap bulannya, sambung Yusuf, khususnya harus dilakukan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Pasalnya, pendapatan mereka umumnya hampir sama dengan tingkat kebutuhan per bulan.

Untuk kelas menengah dan menengah atas, Yusuf menyarankan untuk menambah portofolio investasi. Ini karena biasanya jumlah tabungan mereka sudah berlebih dan ada pos dana darurat.

Menurut Yusuf, masyarakat kelas menengah dan menengah atas bisa membeli surat berharga negara (SBN). Imbal hasil yang ditawarkan dinilai cukup menguntungkan dan investasi tersebut dijamin oleh pemerintah.

Sementara, Ekonom BCA David Sumual merekomendasikan masyarakat berinvestasi saham. Mumpung, mayoritas saham kini memiliki harga atau valuasi yang lebih murah dibandingkan sebelum ada virus corona.

"Saham kan sudah banyak sekarang yang valuasinya rendah," kata David.

Selain itu, masyarakat juga perlu melakukan inovasi dalam mencari pendapatan sehari-hari. Jangan sampai, masyarakat hanya mengandalkan pendapatan rutinnya saja.

"Harus kreatif, harus berinovasi. Banyak pekerjaan-pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah. Misalnya berjualan secara online, kemarin banyak yang membuat masker," jelas David.

(aud/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK