Next Normal, KAI Bakal Naikkan Okupansi Penumpang

CNN Indonesia | Selasa, 11/08/2020 13:56 WIB
KAI berencana meningkatkan okupansi pada fase normal selanjutnya. Perseroan akan berkoordinasi dengan regulator terkait protokol kesehatan yang diperlukan. KAI berencana meningkatkan okupansi pada fase normal selanjutnya. Perseroan akan berkoordinasi dengan regulator terkait protokol kesehatan yang diperlukan. Ilustrasi. ANTARA FOTO/SISWOWIDODO).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyatakan tingkat keterisian penumpang (okupansi) maksimal kereta api akan kembali ditingkatkan menuju fase normal selanjutnya (next normal).

"Menuju next normal, kami berkoordinasi dengan regulator mengenai protokol kesehatan, sehingga harapannya protokol (maksimal) 70 persen bisa ditingkatkan," kata Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo pada video conference, Selasa (11/8).

Kendati demikian, ia belum dapat menyebut berapa kenaikan yang dimaksud nantinya.


Pasalnya, sambung Didiek, eksekusi rencana tersebut bergantung pada kebijakan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) dengan menyesuaikan protokol Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi.

Dia menilai peningkatan okupansi perlu dilaksanakan segera. Sebab, dengan okupansi 70 persen serta berbagai promosi yang diberikan untuk menarik penumpang, perusahaan masih merugi.

Didiek menyebut pendapatan KAI selama pandemi hanya mampu menutupi biaya tetap operasi. Karenanya, perusahaan memerlukan pemasukan tambahan untuk memastikan keberlangsungan operasional.

"Kami belum mendapatkan keuntungan, tapi paling tidak dapat menutupi biaya tetap yang menjadi beban kami," ucap dia.

Didiek menyatakan siap menjalankan protokol kesehatan baru jika protokol perlu diperketat seiring dengan meningkatnya jumlah penumpang. Ada pun protokol standar yang diberlakukan KAI saat ini yaitu pengecekan suhu tubuh, mewajibkan penggunaan masker.

Untuk penumpang jarak jauh diwajibkan mengenakan face shield.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa animo masyarakat untuk kembali menggunakan transportasi massal seperti kereta api kian baik. Ini tercermin dari penjualan tiket kereta api jarak jauh selama Idul Adha dan akhir pekan yang habis terjual.

Ia juga menyebut bahwa antusias penumpang tak tergerus meski KAI mewajibkan rapid test untuk seluruh calon penumpang kereta api jarak jauh.

"Sehari dan seminggu setelah Iduladha semua kereta api jarak jauh okupansi penuh terisi. Dari kapasitas maksimal 70 persen, semua terjual," jelasnya.

Sebelumnya, Direktur Niaga KAI Maqin U Norhadi mengatakan okupansi untuk kereta api jarak jauh kurang dari 10 persen dari kapasitas normal atau sekitar 220 ribu penumpang per bulan pada awal Agustus 2020.

Sebagai pembanding, periode yang sama tahun lalu, jumlahnya mencapai 3,5 juta penumpang per bulan.

"Sejauh ini belum normal. Kereta api jarak jauh okupansi tidak mencapai 10 persen dari normal," kata Maqin beberapa waktu lalu.

[Gambas:Video CNN]



(wel/sfr)