Pemerintah Siapkan Kawasan Industri Baru di Kuala Tanjung

CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2020 18:02 WIB
Wamen BUMN Kartika Widjoatmojo mengatakan sudah berdiskusi dengan pengusaha China untuk menyiapkan kawasan industri di Kuala Tanjung. Pemerintah sedang menyiapkan kawasan industri baru di Kuala Tanjung. (Dok. Feri Agus).
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo mengatakan pemerintah sedang menyiapkan sejumlah kawasan industri baru di dalam negeri. Salah satunya kawasan industri di Kuala Tanjung.

"Kami siapkan beberapa kawasan (industri) baru. Kami diskusikan dengan pengusaha China (kawasan industri) di Kuala Tanjung," ungkap pria yang akrab disapa Tiko dalam diskusi virtual HSBC Orchestrating The Next Move: Transforming Indonesia Into Asia's Next Supply Chain Hub, Rabu (16/9).

Tiko menyatakan pemerintah akan mendorong lebih banyak lagi pengembangan kawasan industri baru demi menarik investor menanamkan dananya di Indonesia. Namun, pemerintah akan menunggu RUU Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker) rampung terlebih dahulu sebelum melakukan itu.


"Kami upayakan setelah ada Omnibus Law kami bisa dorong, kami siapkan beberapa kawasan baru," terang Tiko.

Sejauh ini, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengklaim pembahasan RUU Omnibus Law Ciptaker telah mencapai 90 persen. Pemerintah terus membahas beleid itu bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Sementara, pemerintah kini telah memiliki kawasan industri baru di Batang, Jawa Tengah. Tiko bilang kawasan itu memiliki luas 4 ribu hektare (ha).

"Kami berikan beberapa untuk perusahaan asal China dan Amerika Serikat (AS)," imbuh Tiko.

[Gambas:Video CNN]

Sebelumnya, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyatakan harga tanah di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah ditawarkan di bawah Rp1 juta per meter. Beberapa tanah ada yang ditawarkan sekitar Rp500 ribu-Rp600 ribu per meter.

"Kami sekarang bangun kawasan industri di Batang. Itu kawasan terbaik. Tanah lebih murah dari Vietnam di bawah Rp1 juta, ada yang Rp500 ribu-Rp600 ribu (per meter)," ungkap Bahlil.

Bahlil menyatakan sejauh ini sudah ada tiga perusahaan yang berminat menanamkan investasi di Batang. Beberapa contohnya adalah pabrik otomotif dan baterai.

"Segera launching tahun ini," pungkas Bahlil.

 

(aud/agt)