Pengamat: Sentilan Ahok ke Pertamina Sinyal Rombak Direksi

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Kamis, 17/09/2020 11:21 WIB
Pengamat Universitas Paramadina Hendri Satrio menilai sentilan Ahok ke Pertamina sebagai sinyal perombakan direksi. Pengamat Universitas Paramadina Hendri Satrio menilai sentilan Ahok ke Pertamina sebagai sinyal perombakan direksi. (CNN indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengamat dari Universitas Paramadina Hendri Satrio mengendus sentilan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kepada jajaran direksi BUMN migas itu sebagai sinyal perombakan direksi.

"Menurut saya, ada dua hal kemungkinan maksud bicara Ahok. Pertama, sinyal akan ada perombakan direksi. Kedua, ya Ahok sedang cari panggung," ujarnya, mengutip Antara, Kamis (17/9).

Namun demikian, Hendri tak menjelaskan lebih rinci alasan perombakan direksi yang dimaksud. Ia hanya menanggapi Ahok sebagai Komut Pertamina memiliki wewenang untuk membenahi perusahaan pelat merah tersebut bila disinyalir ada kebijakan yang tidak tepat.


"Ya diberesin saja, saya rasa dia punya wewenang untuk itu. Tidak perlu berbicara kritik melalui media sosial. Kasihan sama pekerja Pertamina yang sudah bekerja dengan baik dan benar, terkena imbasnya," terang dia.

Sementara, Ekonom dari UGM Fahmy Radhi menilai kritik Ahok ke Pertamina bisa diartikan agar perusahaan lebih transparan dalam mengelola bisnisnya.

"Saya rasa, itu bukan membuka aib perusahaan. Tapi bermaksud agar secara tata kelola perusahaan, Pertamina agar lebih transparan," katanya.

Fahmy mengungkapkan Ahok menyadari betul salah satu tugasnya sebagai Komut adalah membasmi mafia migas di Pertamina.

Sebelumnya, Ahok membuka bobrok manajemen Pertamina secara lugas lewat akun Youtube Poin, Senin (14/9). Sebagai komisaris utama, Ahok mengatakan manajemen hobi melobi menteri terkait pergantian direksi perusahaan.

Bahkan, Ahok tak tahu soal pergantian direksi yang baru saja dilakukan di tubuh Pertamina. Makanya, ia mengaku sempat marah-marah ke manajemen.

"Ganti direktur bisa tanpa kasih tahu saya. Saya sempat marah-marah juga. Direksi-direksi semua mainnya lobi ke menteri karena yang menentukan itu menteri," kata Ahok.

Kemudian, ia bilang tak ada perubahan gaji karyawan meski yang bersangkutan sudah dicopot atau pindah posisi. Misalnya, karyawan A mendapatkan gaji Rp100 juta, tapi setelah dicopot atau pindah jabatan jumlah gaji yang diterima tetap sama.

[Gambas:Video CNN]

"Masa dicopot gaji masih sama. Alasannya karena orang lama. Ya harusnya gaji mengikuti jabatan Anda kan. Tapi mereka buat gaji pokok besar semua. Jadi bayangkan gaji sekian tahun gaji pokok bisa Rp75 juta. Dicopot, tidak ada kerjaan pun dibayar segitu. Gila saja nih," imbuh Ahok.

Selain itu, Ahok juga mengungkapkan kekesalannya soal pengelolaan utang di Pertamina. Pasalnya, perusahaan terlalu mudah menarik utang, padahal sudah memiliki beban utang yang tinggi.

"Sudah utang US$16 miliar. Tiap kali otaknya minjam duit. Saya kesel nih," kata Ahok.

Sementara, VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengungkap pihaknya menghargai pernyataan Ahok. Menurutnya, apa yang disampaikan Ahok sejalan dengan program restrukturisasi perusahaan.

"Kami menghargai pernyataan Pak BTP (Ahok) sebagai komisaris utama yang memang bertugas untuk pengawasan dan memberikan arahan. Hal ini juga sejalan dengan restrukturisasi Pertamina yang sedang dijalankan direksi agar perusahaan menjadi lebih cepat, lebih adaptif dan kompetitif," kata Fajriyah.

Ia menyatakan Pertamina dan beberapa anak perusahaan telah menerapkan ISO 37001:2016 mengenai Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP).

Selain itu, perusahaan juga menjalankan kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk memastikan seluruh kebijakan yang diambil sesuai dengan prosedur.

(bir/sfr)