Rupiah Lemas Dengar Kabar Lockdown Jilid II Sejumlah Negara

CNN Indonesia | Selasa, 22/09/2020 09:21 WIB
Rupiah terkoreksi tipis 5 poin ke posisi Rp14.705 per dolar AS pada perdagangan Selasa (22/9), setelah mendengar kabar wacana lockdown sejumlah negara. Rupiah terkoreksi tipis 5 poin ke posisi Rp14.705 per dolar AS pada perdagangan Selasa (22/9), setelah mendengar kabar wacana lockdown sejumlah negara. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.705 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Selasa (22/9) pagi. Mata uang garuda terkoreksi 5 poin atau 0,03 persen dari Rp14.705 dari posisi kemarin sore.

Sementara, mata uang di Asia bergerak bervariasi. Tercatat, dolar Singapura melemah 0,02 persen, yen Jepang menguat 0,12 persen, baht Thailand melemah 0,23 persen.

Kemudian, yuan China menguat 0,24 persen, dolar Hong Kong bergerak stagnan, ringgit Malaysia melemah 0,28 persen, dan peso Filipina melemah 0,12 persen.


Berbeda, mayoritas mata uang utama negara maju justru bergerak melemah terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,06 persen, dolar Kanada melemah 0,02 persen, euro Eropa melemah 0,09 persen, franc Swiss melemah 0,09 persen. Sementara, rubel Rusia berhasil menguat 0,17 persen.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra memperkirakan rupiah bergerak melemah hari ini. Pasar khawatir beberapa negara akan kembali memberlakukan lockdown karena kasus penularan virus corona terus meningkat.

"Rupiah berpotensi berbalik melemah hari ini dengan potensi kisaran Rp14.650-Rp14.850 per dolar AS," ucap Ariston kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/9).

Pelemahan rupiah sejalan dengan proyeksi penguatan dolar AS terhadap mata uang yang lebih berisiko pagi ini di Pasar Asia. Di sini, pasar juga mencermati kebijakan fiskal AS yang tak kunjung terbit untuk pemulihan ekonomi di AS.

"Penguatan dolar AS ini menyusul pelemahan indeks saham global kemarin karena berbagai kekhawatiran seperti mengenai kemungkinan lockdown kembali karena kenaikan kasus di beberapa negara Eropa dan paket stimulus fiskal AS yang masih tidak keluar," jelas Ariston. 

[Gambas:Video CNN]



(aud/bir)