Harga Minyak Dunia Menguat, Terkerek Pasokan yang Menipis

CNN Indonesia | Kamis, 24/09/2020 08:03 WIB
Harga minyak dunia menguat tipis ditopang oleh penurunan pasokan di AS. Namun, penguatan harga minyak terkekang oleh kekhawatiran covid-19. Harga minyak dunia menguat tipis ditopang oleh penurunan pasokan di AS. Namun, penguatan harga minyak terkekang oleh kekhawatiran covid-19. Ilustrasi kilang minyak. (AFP/Ian Timberlake).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak mentah dunia naik tipis pada penutupan perdagangan, Rabu (23/9), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan harga minyak didorong oleh data pemerintah AS, yang menunjukkan penurunan pasokan minyak mentah dan bahan bakar atau bensin.

Namun, kekhawatiran terkait pandemi covid-19 membatasi kenaikan harga minyak.

Dilansir dari Antara, Kamis (24/9), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November menguat 5 sen menjadi US$41,77 per barel di London ICE Futures Exchange.


Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober naik 13 sen menjadi US$39,93 per barel di New York Mercantile Exchange.

Pada perdagangan pekan lalu, baik minyak mentah, bensin, dan minyak sulingan AS harganya merosot. Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan, persediaan minyak mentah berkurang 1,6 juta barel.

Stok bensin turun lebih besar dari yang diperkirakan, jatuh 4 juta barel. Sementara, stok distilat (hasil penyulingan) membukukan penarikan mengejutkan sebesar 3,4 juta barel.

"Kejutan besar adalah hasil penyulingan jauh di bawah rata-rata," kata Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn.

Namun, kian tingginya kasus infeksi covid-19 di berbagai negara di dunia, termasuk pembatasan baru pada bisnis di Inggris memicu kekhawatiran terhadap permintaan. Keadaan diperparah dengan kemungkinan pasokan lebih dari Libya.

Sementara di AS, Aktivitas bisnis juga menurun sepanjang September. Hal ini menunjukkan hilangnya momentum dalam ekonomi saat kuartal ketiga hampir berakhir dan pandemi tetap berlangsung.

Sejak pandemi, minyak runtuh akibat hancurnya permintaan. Pada April lalu, Brent sempat jatuh di bawah US$16 per barel, level terendah dalam 21 tahun terakhir.

[Gambas:Video CNN]



(wel/bir)