BPH Migas Desak Percepat Realisasi Pipa Gas Bumi Cisem

BPH Migas, CNN Indonesia | Sabtu, 26/09/2020 18:23 WIB
BPH Migas menegaskan bahwa proyek pipa gas bumi harus dimulai tepat waktu setelah terbengkalai selama 14 tahun. BPH Migas menegaskan bahwa proyek pipa gas bumi harus dimulai tepat waktu setelah terbengkalai selama 14 tahun. (Foto: dok. BPH Migas)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala BPH Migas M Fashurullah Asa bersama anggota Komisi VII DPR RI Ridwan Hisjam dan Direktur Gas Bumi Sentot Harijady BTP beraudiensi dengan Bupati Batang Wihaji di Kantor Bupati Batang, Jumat (25/9).

Kunjungan kerja tersebut sekaligus merupakan upaya percepatan pembangunan pipa transmisi Cirebon-Semarang sebagai Proyek Strategis Nasional yang terbengkalai selama 14 tahun. Proyek pipa gas bumi tersebut mutlak dibutuhkan untuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Batang, yang ditandai dengan peletakan batu pertama pada Juni lalu.

Ifan sapaan Fashurullah mengatakan, perlu ada percepatan alokasi gas dan kepastian demand di daerah Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Batang yang masih sangat rendah. Ia kemudian menyampaikan usulan anggota Wantimpres Habib Muhammad Luthfi bin Yahya tentang pembangunan pabrik pupuk yang disebut akan meningkatkan serapan gas sebesar 100 MMSCFD.


"Saat groundbreaking, HOA sudah siap, dan saat ini PT Rukun Raharja menyatakan sudah siap menjadi calon investor yang akan mendanai proyek tersebut. Jadi mestinya sudah berjalan saat ini. Konsesi 30 tahun berlaku dalam proyek ini, kalau pipa gas besar dan demand-nya tinggi, maka peluang BEP bisa lebih cepat, enggak sampai 30 tahun," kata Ifan .

Menurutnya, kebutuhan pasokan gas bisa dipenuhi dari Lapangan Utilisasi Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) Bojonegoro yang dikelola Pertamina EP Cepu (PEPC). Dengan harga gas yang lebih murah, serapan tenaga kerja bakal signifikan hingga membentuk industri.

Bupati Batang Wihaji menyatakan pihaknya berkomitmen membuat Kawasan Ekonomi Khusus ramah bagi investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Ia bertekad untuk membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya bagi warga, dan mengutamakan kepentingan bangsa.

Wihaji juga setuju atas ide pembangunan pabrik pupuk tersebut, namun di sisi lain, ia pun mengakui keseluruhan proses pembangunan pipa transmisi Cirebon-Semarang akan membutuhkan kerja keras dari berbagai pihak.

"Terkait rencana lompatan-lompatan besar inilah, tentu kami memerlukan arahan. Kadang-kadang ada ego antarkabupaten, antardinas, bahkan antarkementerian, tetapi intinya tetap lapangan kerja bagi rakyat. Kita perlu kepastian, listrik, air bersih, termasuk juga jaringan gas yang akan kita bangun ini. Tapi tentu memang harus kompetitif, sehingga semua bisa mendapatkan margin. Termasuk juga kompetitif terhadap negara lain, sehingga produk-produk hasil industri bisa laku jika dijual keluar negeri," kata Wihaji.

Selain itu, hal lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah ketersediaan alokasi gas untuk investasi di Batang, serta harga yang kompetitif. Sementara Ridwan Hisjam menegaskan bahwa pembangunan Pipanisasi Cirebon-Semarang harus berjalan pada akhir September ini.

Tak hanya meminta PT Rekind selaku pemenang lelang pipa transmisi dan PT PGN untuk meningkatkan sinergi jelang realisasi pipa Cisem, Ridwan juga mengingatkan peran BUMN sebagai penggerak perekonomian nasional.

"Sebagai BUMN yang berkaitan erat dengan pembangunan pipanisasi gas Cirebon-Semarang, kami ingatkan untuk menjalankan dengan baik tupoksinya, agar manfaatnya dapat dirasakan oleh rakyat," kata Ridwan.

Setelah audiensi dengan Bupati Batang, rombongan melanjutkan kunjungan lapangan ke Kawasan Industri Terpadu Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Turut hadir dalam kunjungan kerja tersebut adalah Kepala Dinas ESDM Propinsi Jateng Sujarwanto, Direktur PT Rekind Achmad Muchtasyar, Direktur PT Rukun Raharja Sumantri, Dirut PT JPN Iqbal, Dirut PT EHK Hendrayana, dan PIC KIT Batang Dicky Pramanto.

(rea)