Kemenkeu Sudah Ramal Ekonomi RI Minus Sejak Maret Lalu

CNN Indonesia | Selasa, 29/09/2020 18:16 WIB
Kemenkeu mengaku sudah meramal ekonomi dalam negeri minus karena tertekan corona sejak Maret lalu, atau sejak pertama kali virus mematikan itu masuk RI. Kemenkeu sudah meramal ekonomi dalam negeri minus tertekan corona sejak Maret lalu. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan pemerintah sebenarnya sudah memperkirakan ekonomi domestik akan minus tertekan pandemi virus corona sejak Maret 2020. Artinya, pemerintah sudah memproyeksi ekonomi Indonesia ambruk sejak virus corona masuk pertama kali ke Indonesia pada Maret 2020 lalu.

"Ketika kami membayangkan bahwa perekonomian ini akan menjadi dalam tekanan atau negatif, kami sudah membayangkan hal ini akan terjadi sejak Maret yang lalu," ungkap Suahasil dalam Seminar Nasional Sinergi Pengawasan APIP-SPI-APH secara virtual, Selasa (29/9).

Meski kasus pertama penularan virus corona di Indonesia baru terjadi Maret 2020, tetapi Suahasil melihat wabah itu akan berbahaya untuk ekonomi sejak Februari 2020. Pasalnya, corona telah menyerang China sejak akhir 2019 lalu.


"Ketika Maret 2020 kami memperkirakan Indonesia juga akan kena dan memang terkena, saat itu pula kami berpikir bahwa yang namanya anggaran negara harus menjadi tulang punggung dari banyak kehidupan ekonomi," terang Suahasil.

Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia anjlok hingga minus 5,32 persen pada kuartal II 2020. Realisasi itu berbanding terbalik dengan kuartal I 2020 yang masih positif meski sudah turun, yakni 2,97 persen.

Untuk membangkitkan lagi perekonomian dalam negeri, pemerintah mengalokasikan dana hingga Rp695,2 triliun guna menangani pandemi virus corona di Indonesia. Alhasil, belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pun membengkak di tengah turunnya penerimaan negara.

[Gambas:Video CNN]

"Penerimaan turun, belanja naik. Maka yang terjadi defisit. Dalam situasi covid-19 seperti ini tidak mungkin menurunkan belanja, belanja menjadi tulang punggung, karena itu belanjanya harus dipastikan cukup dan bermanfaat menangani perekonomian," jelas Suahasil.

Dengan demikian, pemerintah menaikkan target defisit yang semula di bawah 3 persen menjadi 6,34 persen. Menurutnya, defisit akan lebih dari 3 persen hingga 2022 mendatang.

"Bukannya tidak terbatas, tapi terbatas (defisit APBN) sampai 2022 untuk menangani pandemi covid-19 ini," jelas Suahasil.

(aud/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK