Kemenkeu Akui Sulit Pulihkan Rasio Utang dalam Waktu 1 Tahun

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 01/10/2020 19:20 WIB
Kemenkeu mengakui sulit untuk memulihkan rasio utang akibat covid-19 ke level normal karena potensi defisit anggaran akibat pandemi itu masih besar. Kemenkeu akui sulit pulihkan rasio utang akibat covid-19 dalam waktu setahun. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu mengungkapkan pemerintah kemungkinan tidak akan bisa mengembalikan rasio utang dan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ke kisaran normal hanya dalam waktu setahun ke depan. Sebab, defisit diperkirakan masih tetap besar pada tahun depan sehingga dibutuhkan bantuan utang untuk menutupnya.

Saat ini, rasio utang Indonesia sebesar 34,53 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) per Agustus 2020. Pada kondisi normal, rasio utang berada di bawah 30 persen dari PDB.

Sedangkan defisit anggaran biasanya di bawah 3 persen. Namun tahun ini diperkirakan bengkak menjadi 6,34 persen. Defisit bengkak akibat kebutuhan dana penanganan pandemi virus corona atau covid-19.


"Tentang utang, kami punya tantangan, ini tidak mungkin selesai satu tahun. Disiplin fiskal perlu waktu bertahun-tahun buat defisit kita di bawah 3 persen lagi, bahkan sering di bawah 2 persen," ucap Febrio saat sesi tanya jawab bersama awak media secara virtual, Kamis (1/10).

Febrio mengatakan kebutuhan dana penanganan covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) memang mau tidak mau membuat defisit anggaran akan bengkak pada tahun ini. Begitu juga pada tahun depan karena pemulihan ekonomi masih berlangsung.

Pada tahun ini, dengan defisit APBN 6,34 persen maka rasio utang akan naik dari kisaran 30 persen ke 36 persen dalam satu tahun. Sementara untuk tahun depan, proyeksinya defisit akan sedikit turun ke kisaran 5,7 persen, sehingga tak drastis kembali ke bawah 3 persen.

[Gambas:Video CNN]

Dari proyeksi defisit tersebut, rasio utang diperkirakan tetap tinggi di kisaran 39 persen sampai 40 persen. Pasalnya, potensi penerimaan negara belum bisa maksimal ketika pemulihan masih berlangsung.

"Baru mulai 2022 ke 2023, itu (penurunan rasio utang dan defisit APBN) harusnya bisa terjadi karena faktor pertumbuhan ekonomi (yang mulai naik). Kalau pertumbuhan ekonomi terjadi, budget defisit di bawah 3 persen, pertambahan utang akan lebih lambat dari pertumbuhan PDB," jelasnya.

Kendati tak bisa menyulap rasio utang dan defisit APBN dengan cepat, namun Febrio mengklaim kondisi Indonesia masih jauh lebih baik dari negara-negara lain.

"Rasio utang kita cuma 30 persenan, negara berkembang lainnya rata-rata 50 persen ke atas. Banyak negara yang 60 persen, 70 persen. Komparasi ini penting karena menyangkut kredibilitas fiskal," pungkasnya.

(uli/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK