Alasan Bank RI Belum Garap Pasar Malaysia dan Singapura

CNN Indonesia | Senin, 05/10/2020 16:27 WIB
OJK membeberkan sejumlah alasan perbankan nasional belum masif memperlebar bisnis ke Malaysia dan Singapura. Salah satunya, belum ada kerja sama antarnegara. OJK membeberkan sejumlah alasan perbankan nasional belum masif memperlebar bisnis ke Malaysia dan Singapura. Salah satunya belum ada kerja sama antarnegara. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan sejumlah alasan yang membuat perbankan nasional belum memperlebar bisnis dengan menggarap pasar Asia Tenggara (ASEAN), seperti Malaysia dan Singapura.

Pertama, otoritas antarnegara belum meneken persetujuan kerja sama pembukaan akses pasar. Hal ini menjadi hambatan bagi perbankan untuk masuk ke negara tetangga.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan Malaysia sebenarnya sudah meneken persetujuan kerja sama akses pasar bagi perbankan asal Indonesia yang ingin masuk ke negeri Jiran. 


Pasalnya, Indonesia sudah memberi akses pasar yang sama ke bank-bank asal Malaysia, misalnya yang terafiliasi Grup CIMB Niaga dan Maybank. Namun, akses pasar serupa belum diberikan oleh Singapura kepada Indonesia. 

"Perbankan sudah ada bilateral dengan Malaysia, Singapura secara formal belum. Namun, kami mempunyai pembicaraan bilateral resiprokalnya, nanti dengan negara lain juga," kata Wimboh saat rapat dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR/MPR, Senin (5/10).

Kedua, bank mempertimbangan potensi keuntungan dan biaya operasional di negara tetangga.

"Dengan Malaysia sudah terbuka lebar, tapi perbankan kita (Indonesia) masih mikir dua kali karena terlalu mahal capital ini. Perbankan kita juga masih (hitung) profit, loss-nya, belum ini," ujarnya.

Ketiga, Wimboh bilang ada perbankan yang masih fokus untuk menata efisiensi dan kinerja bisnis di pasar domestik sehingga belum tertarik menggarap pasar regional. Ada juga bank yang masih fokus memperbaiki kualitas sumber daya manusia dan teknologi yang digunakan.

"Jadi meskipun ini sudah dibuka, kalau kami minta (bank) untuk keluar, mereka masih berpikir panjang. Nanti akan kita coba lihat lagi timeline-nya," tuturnya.

Atas kondisi ini, Wimboh mengklaim OJK berusaha 'putar otak' agar kesempatan yang ada tetap bisa dimaksimalkan oleh para bank. Caranya, dengan menelurkan kebijakan yang sekiranya bisa mendukung kesiapan bank ke depan.

"Nanti dicoba insentif apa yang bisa kami sampaikan," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Sebagai informasi, saat ini, beberapa bank nasional sudah memiliki kantor di sejumlah negara, misalnya PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk alias BNI di Hong Kong, Jepang, Inggris, hingga AS. Begitu juga dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk di Timor Leste, Singapura, Hong Kong, China, dan lainnya.

Kendati demikian, kantor ini masih berupa perwakilan bank. Hal ini berbeda dengan CIMB Niaga dan Maybank yang sudah berafiliasi dengan bank lokal dan mengembangkan bisnisnya di Indonesia.

(uli/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK