Bank Dunia Catat Utang Negara Miskin Capai US$744 M pada 2019

CNN Indonesia | Selasa, 13/10/2020 03:45 WIB
Bank Dunia mencatat utang negara miskin menembus US$744 miliar atau sekitar Rp10.963 triliun (asumsi kurs Rp14.700) pada 2019. Bank Dunia mencatat utang negara miskin menembus US$744 miliar atau sekitar Rp10.963 triliun (asumsi kurs Rp14.700) pada 2019. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Dunia mencatat utang 73 negara termiskin di dunia mencapai US$744 miliar atau sekitar Rp10.963 triliun (asumsi kurs Rp14.700) pada 2019, sebelum pandemi corona. Angka itu tumbuh 9,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam laporan yang dikutip dari AFP, Selasa (13/10), Bank Dunia menilai pertumbuhan utang itu mencerminkan "urgensi bagi kreditur dan debitur untuk berkolaborasi demi mencegah risiko krisis utang pemerintah yang meningkat karena pandemi covid-19".

Virus corona yang mewabah sejak Maret lalu memukul perekonomian global. Pada April lalu, kelompok negara G20 sepakat untuk mendukung penangguhan utang bagi negara termiskin di dunia.


Presiden Bank Dunia David Malpass menyatakan keringanan yang diberikan lebih lemah dari perkiraan karena "tidak semua kreditur berpartisipasi sepenuhnya." Tercatat, hanya US$5 miliar penangguhan yang diberikan dari perkiraan US$8 miliar hingga US$11 miliar.

Laporan tersebut juga menyatakan beban utang yang ditanggung negara termiskin dunia ke negara lain, sebagian besar negara G20, mencapai US$178 miliar tahun lalu.

Porsi China selaku kreditur terbesar dari negara G20 meningkat dari 45 persen pada 2013 menjadi 63 persen tahun lalu.

Malpass menyorot kurangnya partisipasi kreditur dari sektor swasta. Selain itu, ia juga menengarai negara maju yang tidak sepenuhnya menjalankan porsinya.

"Beberapa dari kreditur bilateral terbesar, termasuk beberapa dari China, masih belum berpartisipasi dalam moratorium. Hal itu menguras negara-negara miskin," ujar Malpass.

Malpass juga mendesak transparansi terkait utang, merujuk ke China yang ia sebut dalam beberapa kasus telah memberikan penundaan pembayaran pokok utang namun terus mengenakan bunga. Hal itu berisiko menambah beban utang, alih-alih meringankannya.

[Gambas:Video CNN]



(afp/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK