PUPR Siapkan Rp4,5 T dan 242 Bendungan untuk Hadapi Banjir

CNN Indonesia | Sabtu, 17/10/2020 06:01 WIB
Kementerian PUPR menganggarkan Rp4,5 triliun untuk program penanggulangan banjir pada tahun ini. Kementerian PUPR menganggarkan Rp4,5 triliun untuk program penanggulangan banjir. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian PUPR menganggarkan Rp4,5 triliun untuk program penanggulangan banjir pada tahun ini. Selain itu, 242 bendungan yang telah dibangun akan dikerahkan untuk menampung potensi penambahan debit air di sejumlah wilayah.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR Jarot Widyoko mengatakan persiapan ini dilakukan sesuai koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan intensitas air hujan di Indonesia akan bertambah sebanyak 30 persen sampai 40 persen mulai Oktober 2020. Hal ini dipicu oleh La Lina atau kondisi penurunan suhu atmosfer di kawasan Samudera Pasifik.

Jarot memaparkan proyeksi BMKG akan terjadi La Lina di Kalimantan pada Oktober 2020 dengan estimasi puncak musim hujan pada Desember 2020 sampai Januari 2021. Lalu, La Lina di Maluku pada Oktober dengan puncak hujan Januari 2021.


Kemudian, La Lina di Sumatera pada Oktober-November 2020 dan puncak hujan pada November. Di Jawa, La Lina pada Oktober-November 2020 dan puncak hujan Februari 2021.

Selanjutnya, Sulawesi dengan La Lina pada November 2020 dan puncak hujan Januari-April 2021. Sementara Bali-Nusa Tenggara dan Papua tidak mengalami La Lina, namun diprediksi mengalami puncak hujan masing-masing pada Februari 2021 dan Desember 2020.

"Dengan perkiraan La Lina ini, kami siapkan SOP untuk memaksimalkan daya tampung bendungan-bendungan, aliran air sungai, sampai tindakan darurat di balai bendungan," ungkap Jarot saat berbincang dengan awak media secara virtual, Jumat (16/10).

Dari sisi anggaran, dana Rp4,5 triliun dialokasikan untuk normalisasi sungai sebesar Rp2,9 triliun, penguatan tebing sungai Rp600 miliar, pemeliharaan sungai Rp500 miliar, kolam retensi Rp200 miliar, perencanaan teknis Rp200 miliar, dan perbaikan drainase Rp100 miliar.

"Perencanaan teknis misalnya di Sungai Ciliwung. Lalu Sungai Citarum, kami buat sodetan Cisangkuy, sehingga bisa mengalihkan hampir 220 ribu meter kubik. Underpass di Kramat Sentiong dan underpass Kemayoran itu kami coba maksimalkan agar tidak terjadi (banjir) seperti kemarin," tuturnya.

Selain itu, Kementerian PUPR juga mempersiapkan banyak alat berat, mulai dari kantong pasir sebanyak 327 ribu, geobag 15 ribu, kawat bonjong 65 ribu, dump truck 102 unit, mobil pick up 13 unit, truck trailer 13 unit, excavator 138 unit, amphibi excavator 49 unit, mobile pump 51 unit, perahu karet 60 unit, dan mesin outboard 18 unit. Semua ini tersebar di balai bendungan di berbagai daerah.

Namun, ada penambahan sarana dengan target pemenuhan pada Oktober-November 2020, yaitu 14 unit excavator standar, 6 unit amphibi long, 4 unit pompa banjir, 4 unit speed boat, 100 unit geobag, 9 unit excavator long, 6 unit excavator mini, 2 unit alat bor, 9 unit MTA, 5 unit amphibi long mini, 4 buah weedharvester, 2 unit pompa, dan 14 ribu kawat bronjong.

Sementara peningkatan prasarana dilakukan melalui pengumpulan data monitoring hujan, optimalisasi muka air waduk, hingga pengembangan sistem full telemetri dengan nilai Rp51,5 miliar.

Untuk penampungan air, Kementerian PUPR akan memaksimalkan 242 bendungan yang sudah ada saat ini. Total daya tampung mencapai 7,2 miliar meter kubik dengan tingkat keterisian 2,8 miliar meter kubik atau 38,88 persen.

"Maka sisa volume tampungan 4,4 miliar meter kubik. Kami siapkan informasi prakiraan hujan untuk 10 hari ke depan agar dapat mengatur muka air waduk sehingga tersedia tampungan air untuk pengendalian banjir," terangnya. 

[Gambas:Video CNN]



(uli/age)