OJK Nilai Asuransi Umum Lebih Tahan Efek Covid Ketimbang Jiwa

CNN Indonesia | Selasa, 27/10/2020 22:12 WIB
OJK menilai dampak virus corona terhadap sektor asuransi jiwa lebih dalam dibandingkan asuransi umum. OJK menilai dampak virus corona terhadap sektor asuransi jiwa lebih dalam dibandingkan asuransi umum. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan sektor asuransi umum lebih tahan (resilience) pada dampak pandemi covid-19 ketimbang sektor asuransi jiwa. Namun, secara umum kinerja premi, investasi, dan premi industri jasa asuransi mengalami kontraksi.

"Dalam hal ini, dampak pada sektor industri asuransi jiwa relatif lebih dalam kalau dibandingkan asuransi umum," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Riswinandi, dalam acara Indonesia Financial Sector Outlook 2021, Selasa (27/10).

Data OJK menyebut premi industri asuransi tercatat sebesar Rp176,32 triliun pada Agustus 2020. Angka itu turun 6,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp187,70 triliun.


Detailnya, premi asuransi jiwa turun 9,3 persen dari Rp120,84 di Agustus 2019 menjadi Rp109,60 triliun tahun ini. Kemudian, premi asuransi umum berkurang 4,62 persen dari Rp51,68 triliun menjadi Rp49,29 triliun.

"Dampak pada sektor industri asuransi jiwa relatif lebih dalam kalau dibandingkan asuransi umum. Salah satunya terkait portofolio bisnis asuransi jiwa yang sebagian besar didominasi produk terkait dengan investasi dan Paydi (Produk Asuransi Yang Dikaitkan Dengan Investasi)," katanya.

Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) memaparkan per semester I 2020 mayoritas investasi perusahaan asuransi jiwa ditempatkan pada reksa dana yakni Rp142,95 triliun. Disusul, portofolio saham senilai Rp113,85 triliun, SBN Rp76,89 triliun, dan deposito Rp36,24 triliun.

Di sisi lain, iklim investasi pasar modal cenderung fluktuatif karena pandemi covid-19 yang memengaruhi perekonomian.

[Gambas:Video CNN]

Namun, Riswinandi mengatakan kondisi pasar modal saat ini membaik ketimbang periode Maret-April dimana IHSG saat itu sempat menyentuh level terendah di 3.997. IHSG telah kembali ke level psikologis 5.000-an pada Oktober ini.

"Tapi, kami menilai dinamika di pasar modal masih akan sangat dipengaruhi oleh upaya penanganan pandemi oleh pemerintah. Ini kami simpulkan dimana pasar modal sempat mengalami sentimen negatif akibat PSBB tahap 2 di Indonesia terutama di DKI Jakarta," ucapnya.

(ulf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK