Ekonom Nilai Joe Biden Bisa Lahirkan Kebijakan Terprediksi

CNN Indonesia | Jumat, 06/11/2020 13:33 WIB
Ekonom menilai calon presiden AS Joe Biden lebih memiliki kebijakan yang bisa diprediksi dan menguntungkan sejumlah negara termasuk Indonesia. Ekonom menilai calon presiden AS Joe Biden lebih memiliki kebijakan yang bisa diprediksi dan menguntungkan sejumlah negara termasuk Indonesia.(AFP/ANGELA WEISS).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal menilai calon presiden AS Joe Biden lebih memiliki kebijakan yang bisa diprediksi. Dengan demikian, hal tersebut lebih menguntungkan bagi sejumlah negara termasuk Indonesia.

"Terpilihnya Joe Biden tentunya akan mempunyai kebijakan yang lebih predictable (bisa diprediksi) lebih bisa ditebak arahnya, dan ini membuat apa yang kita rencanakan itu mudah dijalankan," ujarnya dalam diskusi New Normal dalam Perdagangan Internasional, Jumat (6/11).

Saat ini, penghitungan hasil Pilpres AS 2020 masih berlangsung dengan ketat. Hingga Jumat (6/11) dini hari waktu Indonesia, Biden masih unggul dengan perolehan suara elektoral 253, sedangkan Donald Trump mengantongi 213. Butuh setidaknya 270 surat suara elektoral bagi kandidat untuk memenangkan Pilpres AS.


Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo menuturkan Indonesia bersikap netral atas hasil Pilpres AS tersebut.

"Terkait dengan election di AS, saya pikir Indonesia perlu netral siapa pun yang memerintah yang terpilih nanti," ucapnya.

Menurutnya, yang lebih utama adalah kerja sama perdagangan dengan AS ke depannya. Terlebih, Indonesia sendiri sudah mengantongi perpanjangan pemberian fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) dari AS.

Keputusan perpanjangan SGP diberikan oleh United States Trade Representative (USTR) pada Sabtu (30/10) lalu, setelah USTR melakukan kajian pada fasilitas GSP Indonesia sejak 2018 lalu. Harapannya, Indonesia bisa memaksimalkan fasilitas bebas bea masuk dari AS tersebut.

"Kita perlu melakukan adjustment (penyesuaian), intinya perlu merangkul semua negara tidak hanya AS, untuk menjadi mitra dagang dan investasi yang sifatnya win win (saling menguntungkan)," ucapnya.

Sebelumnya, kalangan pengusaha juga menyampaikan aspirasi serupa. Wakil Ketua Umum Apindo Bidang Hubungan Internasional Shinta W. Kamdani menilai kebijakan Biden diramal lebih terstruktur, tidak meledak-ledak, dan lebih ramah kepada China. Namun, kondisi ini tidak serta merta mempengaruhi nilai perdagangan dengan Indonesia.

"Karena Indonesia bukanlah partner dagang yang cukup signifikan bagi AS, tapi memiliki potensi yg besar kemungkinan siapapun presiden AS, mereka akan punya kebijakan yang akan disesuaikan dengan agenda besar perdagangan dari residennya. Kemungkinan besar relasi dagang Indonesia-AS akan relatif stabil," katanya.

Namun, Shinta mengatakan Biden diperkirakan tetap akan melanjutkan perang dagang dengan China seperti Trump. Karenanya, jika Biden terpilih dunia usaha juga harus tetap mengantisipasi kelanjutan perang dagang AS-China.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK