BI Ajak Perbankan Seret Turun Bunga Kredit

CNN Indonesia | Kamis, 19/11/2020 18:04 WIB
BI mengajak seluruh perbankan untuk menurunkan tingkat bung kredit, seiring dengan pertumbuhan minus penyaluran kredit bank per Oktober 2020. BI mengajak seluruh perbankan untuk menurunkan tingkat bung kredit, seiring dengan pertumbuhan minus penyaluran kredit bank per Oktober 2020. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) mengajak seluruh perbankan untuk segera menurunkan tingkat suku bunga kredit mereka. Tujuannya, untuk mengangkat laju pertumbuhan kredit yang terkontraksi minus 0,47 persen pada Oktober 2020.

"Kami dengan tidak segan-segannya mengharapkan perbankan untuk menurunkan tingkat suku bunga kredit. Mari kita turunkan suku bunga kredit," terang Gubernur BI Perry Warjiyo saat konferensi pers virtual Rapat Dewan Gubernur periode November 2020, Kamis (19/11).

Bank sentral nasional mencatat pertumbuhan kredit bank terus menurun dari bulan ke bulan pada tahun ini di tengah pandemi virus corona atau covid-19. Laju kredit yang sudah mencapai 0,12 persen pada September, kembali turun menjadi minus 0,47 persen pada bulan lalu.


Sementara, Dana Pihak Ketiga (DPK) masih menikmati pertumbuhan dua angka alias double digit. Dana nasabah di bank berada di kisaran 12,12 persen dari sebelumnya 12,88 persen pada periode yang sama.

Masalahnya pertumbuhan kredit bank yang ciut akan memberi dampak pada perekonomian nasional. Hal ini membuat roda pemulihan ekonomi tersendat.

"Maka sudah saatnya tentu saja ini penyaluran kredit harus terus didorong, sudah saatnya kita membangun optimisme, untuk meningkatkan ekonomi," katanya.

Di sisi lain, Perry menilai alasan paling kuat yang membuat pertumbuhan kredit melempem adalah pertimbangan bank terhadap risiko kredit macet bila tetap memaksakan penyaluran kredit.

"Tentu saja jawaban adalah faktor persepsi risiko," imbuhnya.

Pasalnya, ketika bank tetap memaksakan penyaluran kredit, maka bukan tidak mungkin kredit itu malah jadi bermasalah. Ketika bermasalah, bank perlu menyiapkan dana pencadangan risiko kredit yang tak sedikit.

Perry turut melihat bank tidak berani 'jor-joran' mengalirkan kredit karena aktivitas ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih di tengah pandemi. Begitu juga aktivitas dunia usaha.

Sementara faktor lain dilihat Perry seharusnya tidak memberi dampak negatif pada pertumbuhan kredit, misalnya biaya administrasi. Menurutnya, biaya ini seharusnya rendah karena bank terbantu dengan digitalisasi.

Lalu, alasan lain berupa biaya dana (cost of fund) seharusnya tidak jadi masalah karena bank sentral nasional telah menurunkan tingkat suku bunga acuannya. Teranyar, BI memangkas tingkat bunga acuan sebesar 25 basis poin dari 4 persen menjadi 3,75 persen pada November 2020.

"Bahkan, kalau dihitung sejak Juli tahun lalu berarti penurunannya 225 basis poin," tuturnya.

Dengan bunga acuan yang lebih rendah, maka ini akan turut menurunkan tingkat deposito bank yang merupakan patokan bunga atas tabungan berjangka nasabah di bank.

Tingkat deposito yang rendah menandakan bank bisa memperkecil pengeluaran beban untuk membayar dana yang tersedia dari nasabah.

[Gambas:Video CNN]

Kendati begitu, Perry tetap mengajak agar bank segera menurunkan tingkat bunga kredit agar mampu menarik minat kredit dari masyarakat dan dunia usaha.

"Sudah saatnya, tentu saja ini penyaluran kredit harus terus didorong, sudah saatnya kita membangun optimisme, untuk meningkatkan ekonomi," tandasnya.

(uli/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK