Moody's Catat RI Peringkat ke-6 Pesan Vaksin Corona Terbanyak

CNN Indonesia | Selasa, 24/11/2020 13:16 WIB
Moody's menyebut RI ada di peringkat ke-6 setelah AS, Uni Eropa, dan India, yang memesan vaksin corona dengan kontrak terbanyak. Moody's menyebut RI ada di peringkat ke-6 setelah AS, Uni Eropa, dan India, yang memesan vaksin corona dengan kontrak terbanyak. Ilustrasi. (AP/Ted S. Warren).
Jakarta, CNN Indonesia --

Moody's Investors Service memprediksi pengembangan dan distribusi vaksin corona akan mendorong pemulihan ekonomi global ke arah lebih baik di tahun depan.

Dalam laporan terbarunya yang dirilis Senin (23/11), tercatat ada beberapa negara maju dan negara berkembang berpenghasilan menengah yang telah mendapatkan kontrak untuk ratusan juta dosis vaksin.

Indonesia sendiri berada di urutan ke-6 setelah AS, Uni Eropa, India, Covax (inisiatif yang dikoordinasikan oleh aliansi vaksin Gavi, Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi, dan WHO) dan Inggris, dalam daftar negara dengan kontrak vaksin terbanyak.


Ada 200 juta lebih kontrak pemesanan vaksin corona oleh Indonesia yang telah terkonfirmasi, dan 200 juta dosis lainnya yang berpotensi akan dikontrak.

"Penduduk negara-negara ini akan menjadi yang pertama mendapatkan vaksinasi, dan ekonomi mereka diuntungkan dari pelonggaran terkait krisis kesehatan masyarakat. Semakin awal krisis kesehatan di suatu negara mereda, maka pemulihan ekonomi negara tersebut akan semakin kuat," tulis Moody's, Selasa (24/11).

Meski demikian, Moody's tetap memperkirakan bahwa ketersediaan vaksin secara global untuk masyarakat umum hanya mungkin terjadi sekitar pertengahan 2021.

Pasalnya, hingga kini, berita tentang efektivitas vaksin yang sedang dikembangkan tidak banyak mengurangi kekhawatiran terhadap peningkatan kasus covid-19 di AS dan Eropa.

Karena itu lah, proyeksi ekonomi Moody's didasarkan pada tingkat risiko penurunan infeksi dan kebijakan lockdown (penguncian wilayah) baru dalam dua bulan ke depan, serta potensi vaksinasi yang meluas selama 12 bulan ke depan.

"Jika penguncian lebih parah dari yang kita perkirakan, efek negatif pada PDB dapat diimbangi jika vaksin virus corona tersedia lebih cepat dan penyerapannya lebih luas dari yang kita perkirakan,"jelasnya.

Hingga saat ini, pengumuman terbaru tentang uji coba vaksin yang dikembangkan oleh Pfizer Inc. (A2 stable), AstraZeneca PLC (A3 stable) dan Moderna Therapeutics telah memberikan dampak positif bagi kepercayaan pasar.

"Di luar tiga perusahaan tersebut, perusahaan farmasi lain juga mengembangkan dan menguji vaksin corona. Jika beberapa dari vaksin lain akhirnya disetujui untuk digunakan, pilihan dan ketersediaan vaksin akan semakin meluas," terang laporan tersebut.

Tetapi, Moody's juga mengingatkan ada banyak rintangan yang menanti usai uji coba tahap ketiga vaksin dinyatakan berhasil.

Di antaranya adalah memenuhi persyaratan persetujuan oleh regulator di masing-masing negara, produksi miliaran dosis yang diperlukan untuk vaksinasi massal, memastikan penyimpanan yang tepat, dan membangun jaringan distribusi.

Di samping itu, perlu dipahami pula bahwa variabel penting dalam keberhasilan vaksin adalah kesediaan masyarakat untuk divaksinasi dan berapa persentase populasi yang perlu divaksinasi agar penyebaran virus dapat dikendalikan.

"Di sisi lain, ketersediaan vaksin pun kemungkinan besar akan berbeda-beda di setiap negara. Biaya dan akses terhadap vaksin akan menjadi kendala utama khususnya untuk negara-negara yang kurang berkembang," tandas Moody's.

[Gambas:Video CNN]

(hrf/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK