China Bakal Pungut Bea Masuk 212 Persen Anggur Australia

CNN Indonesia | Jumat, 27/11/2020 15:51 WIB
China akan mengenakan tarif bea masuk produk anggus Australia hingga 212 persen setelah menemukan bukti awal dumping. China akan mengenakan tarif bea masuk produk anggus Australia hingga 212 persen setelah menemukan bukti awal dumping. Ilustrasi. (AFP/DANIEL LEAL-OLIVAS).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengusaha anggur Negeri Kanguru menjadi korban dari ketegangan antara Australia dan China akhir-akhir ini. Pasalnya, pemerintah China pada Jumat (27/11) mengumumkan akan memberlakukan bea tarif berat terhadap produk anggur Australia setelah menemukan bukti awal dumping.

Melansir CNN Business, China akan memberlakukan tarif untuk anggur Australia sebesar 107,1 persen hingga 212,1 persen mulai Sabtu (28/11).

Langkah ini kian memperburuk hubungan Canberra-Beijing. China menyatakan tarif diberikan setelah pihaknya menerima keluhan dari Asosiasi Industri Anggur China.


Setelah dilakukan investigasi, Menteri Perdagangan China Gao Hucheng menyebut pihaknya menemukan praktik dumping atau subsidi dari pemerintah Australia ke sektor terkait untuk menjatuhkan harga.

Atas hal itu, China menyatakan bahwa Australia telah merugikan pelaku usaha anggur lokal di China.

Keputusan tersebut menjadi pukulan hebat untuk industri anggur Australia lantaran China merupakan negara tujuan ekspor terbesar Australia.

Pada catatan tahun finansial terakhir yang berakhir pada September 2020, 39 persen dari total ekspor anggur Australia dikirim ke China.

Hubungan dingin kedua negara telah berlangsung cukup lama. Keputusan tarif merupakan buntut dari sikap awal Australia yang meminta dilakukannya investigasi terkait asal muasal dari virus corona.

Hal itu membuat Beijing marah dan menjadikan pasar dagang Australia target balasan. Sebelum ini Australia juga sudah 'dihukum' lewat penangguhan importasi daging sapi dan penetapan tarif tinggi pada gandum barley.

Tak tinggal diam, pada Agustus lalu Canberra menutup penjualan produk susunya kepada sebuah perusahaan China, Lion Dairy, yang kemudian memicu dijualnya perusahaan kepada Bega Cheese, perusahaan lokal Australia seharga US$413 juta.

Pekan ini pun menjadi babak baru dari pergulatan Australia-China yang baru pada pekan lalu menandatangani perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP).

Dugaan bahwa RCEP akan memperbaiki hubungan keduanya tampaknya tak akan terwujud.

China bahkan mengakui bahwa hubungan keduanya telah rusak. Pekan lalu, Juru Bicara Menteri Luar Negeri China mengatakan tChina tidak bertanggung jawab atas renggangnya hubungan kedua negara.

"Mereka (Australia) telah mengambil serangkaian tindakan yang salah terkait dengan China yang menjadi akar penyebab hubungan China-Australia mengalami penurunan tajam dan terjebak dalam situasi sulit saat ini," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]



(wel/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK