Sri Mulyani Pangkas Proyeksi Ekonomi Jadi Minus 2,2 Persen

CNN Indonesia | Senin, 21/12/2020 14:25 WIB
Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini berada di kisaran minus 2,2 persen hingga minus 1,7 persen karena pandemi virus corona. Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini berada di kisaran minus 2,2 persen hingga minus 1,7 persen karena pandemi virus corona. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke kisaran minus 2,2 persen hingga minus 1,7 persen.

Angka itu memburuk dibandingkan prediksi yang dibuat pada periode September hingga Oktober 2020 lalu yang masih di rentang minus 1,7 persen hingga 0,6 persen.

"Kemenkeu lihat sampai minggu kedua Desember ini, outlook kami minus 1,7 persen sampai minus 2,2 persen. Masih lebih baik dari rata-rata ASEAN dan emerging market," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers virtual APBN Kita Desember, pada Senin (21/12).


Sri Mulyani mengungkapkan perkembangan pandemi covid-19 membuat proyeksi laju ekonomi berubah-ubah. Revisi itu tidak hanya dilakukan oleh pemerintah tetapi juga sejumlah lembaga internasional.

"Ketidakpastian yang tinggi membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh berbagai institusi mengalami revisi," terang Sri Mulyani dalam paparannya.

Bank Dunia (World Bank) misalnya merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini, yaitu dari kisaran minus 2 persen hingga minus 1,6 persen menjadi minus 2,2 persen. Bank Pembangunan Asia (ADB) juga memangkas prediksinya dari minus 1 persen menjadi minus 2,2 persen.

Jika dirinci, komponen yang menyebabkan prediksi laju ekonomi tahun ini terseret adalah konsumsi rumah tangga di mana lajunya diperkirakan minus 2,7 persen hingga minus 2,4 persen. Menurut Sri Mulyani, konsumsi masih tertahan karena eskalasi pandemi.

Berikutnya, konsumsi pemerintah diramal tumbuh minus 0,3 persen hingga 0,3 persen. Risiko kontraksi terjadi akibat penyerapan belanja barang yang lebih rendah, terutama pada aktivitas jasa pemerintah realisasinya terkendala wabah corona.

Selanjutnya, laju investasi diperkirakan minus 4,5 persen hingga minus 4,4 persen. Kemudian, pertumbuhan ekspor diprediksi minus 6,2 persen hingga minus 5,7 persen. Terakhir, pertumbuhan impor diperkirakan minus 15 persen hingga minus 14,3 persen.

Khusus untuk kuartal IV 2020, Kemenkeu memperkirakan lajunya di kisaran minus 2,9 hingga minus 0,9 persen. Angka ini lebih baik dibandingkan kuartal II dan III di mana angkanya masing-masing minus 5,3 persen dan minus 3,5 persen.

Tahun depan, Sri Mulyani optimistis laju ekonomi bakal kembali positif di angka 5 persen. Hal itu ditopang oleh vaksinasi dan upaya pengendalian pandemi, kebijakan pemulihan serta agenda reformasi.

"Tentu semua forecast ini sangat tergantung pada kondisi covid dan vaksinasi, apakah bisa membalikkan kepercayaan sehingga aktivitas ekonomi dari sisi agregat supply dan demand bisa mendekati normal," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]



(uli/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK