Corona, Neraca Dagang RI 2020 Surplus US$21,74 Miliar

CNN Indonesia | Jumat, 15/01/2021 09:42 WIB
BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$21,74 miliar sepanjang 2020 di tengah pandemi virus corona. BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$21,74 miliar sepanjang 2020 di tengah pandemi virus corona.(ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$21,74 miliar sepanjang 2020 di tengah pandemi virus corona. Realisasinya jauh lebih tinggi dari defisit US$3,2 miliar pada Januari-Desember 2019.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan surplus terjadi karena nilai ekspor mencapai US$163,31 miliar atau turun 2,61 persen dari US$167,68 miliar pada 2019. Sementara impor mencapai US$141,57 miliar atau turun 17,34 persen dari US$171,28 miliar pada periode yang sama.

"2020 ini luar biasa dengan adanya pandemi sehingga permintaan turun, tapi dengan penurunan 2,61 persen, sebenarnya kondisi kita tidak buruk," ungkap Suhariyanto saat rilis neraca perdagangan Indonesia periode Desember 2020 secara virtual, Jumat (15/1).


Secara rinci, ekspor secara tahunan untuk migas turun 29,52 persen, pertanian naik 13,98 persen, industri pengolahan naik 2,95 persen, dan pertambangan turun 20,7 persen. "Kendati ekspor pertanian naik tinggi, tapi sharenya ke ekspor rendah, sehingga belum bisa menopang," paparnya.

Sedangkan impor tahunan berasal dari barang konsumsi yang turun 10,93 persen, bahan baku penolong minus 18,32 persen, dan barang modal melorot 16,73 persen.

"Pandemi mengganggu dari sisi supply dan demand," katanya.

Sementara secara bulanan, Indonesia membukukan surplus dagang senilai US$2,1 miliar pada Desember 2020. Capaiannya lebih rendah dari US$2,61 miliar pada November 2020, namun lebih tinggi dari US$28,2 juta pada Desember 2019.

Surplus neraca perdagangan terjadi karena nilai ekspor mencapai US$16,54 miliar atau naik 8,39 persen dari US$15,26 miliar pada November 2020. Sedangkan nilai impor mencapai US$14,44 miliar atau naik 14 persen dari US$11,58 miliar pada bulan sebelumnya.

"Peningkatan ekspor didukung harga minyak mentah meningkat 17,48 persen, meski masih turun 28,9 persen secara tahunan. Peningkatan juga di harga tembaga, nikel, dan lainnya," ujarnya.

Secara rinci, kinerja ekspor ditopang oleh ekspor minyak dan gas (migas) mencapai US$1,02 miliar atau naik 33,66 persen pada bulan sebelumnya. Sementara, ekspor nonmigas sebesar US$15,52 miliar atau naik 7,06 persen.

"Ini merupakan ekspor tertinggi sepanjang tahun ini," ujarnya.

Total ekspor nonmigas mencapai 93,84 persen dari total ekspor Indonesia pada bulan lalu. Rinciannya, ekspor pertanian turun 3,75 persen menjadi US$430 juta, industri pengolahan naik 6,79 persen menjadi US$12,92 miliar, dan pertambangan naik 11,23 persen menjadi US$2,17 miliar.

"Pertumbuhan ekspor pertambangan menggembirakan, yang meningkat cukup tajam adalah batu bara baik secara volume dan nilai karena ada kenaikan harga batu bara yang tinggi. Hasil tambang lainnya biji tembaga," jelasnya.

Berdasarkan kode HS, peningkatan ekspor terjadi di komoditas lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, mesin dan perlengkapan elektrik, pakaian dan aksesorisnya bukan rajutan, dan pakaian aksesoris rajutan.

"Lemak dan minyak hewan nabati ini banyak diekspor ke China, India, dan Malaysia," imbuhnya.

Sementara penurunan ekspor terjadi di komoditas besi dan baja, kapal, perahu, dan struktur terapung, ikan dan udang, bahan kimia anorganik, dan pupuk.

Berdasarkan negara tujuan ekspor, peningkatan nilai ekspor nonmigas terjadi ke Amerika Serikat sebesar US$265,9 juta, India US$254,6 juta, Belanda US$100,2 juta, Korea Selatan US$82,2 juta, dan Jepang US$63,3 juta.

"Ekspor ke AS meningkat untuk pakaian dan aksesorisnya baik yang rajutan dan bukan," jelasnya.

Penurunan ekspor terjadi ke Jerman US$32,4 juta, Australia US$31,1 juta, Thailand US$29,7 juta, Kenya US$14,6 juta, dan Brasil US$14,2 juta.

Secara pangsa pasar, ekspor Indonesia masih lebih didominasi ke China mencapai 21,39 persen dari total ekspor, berupa besi dan baja, bahan bakar mineral, dan lemak dan minyak hewan nabati. Selain China, ekspor Indonesia banyak ke AS, Jepang, India, Malaysia, dan Singapura.

Dari sisi impor, impor migas mencapai US$1,48 miliar atau naik 36,57 persen dari US$1,08 miliar. Sedangkan impor nonmigas naik 11,89 persen dari US$11,58 miliar menjadi US$12,96 miliar.

Suhariyanto mencatat kenaikan impor terjadi di barang konsumsi sebesar 31,89 persen menjadi US$1,72 miliar. "Kenaikan impor dari garlic dari China, mesin cooling dari China, buah-buahan seperti jeruk mandarin dan apel segar, daging frozen dari India," tuturnya.

Lalu, impor bahan baku/penolong naik 14,15 persen menjadi US$10,19 miliar dan barang modal melonjak 3,89 persen menjadi US$2,53 miliar. "Ada berbagai perlengkapan mesin yang diimpor dari berbagai negara seperti Italia dan Korea Selatan," imbuhnya.

Berdasarkan kode HS, kenaikan impor berasal dari komoditas mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, ampas atau sisa makanan, bahan bakar mineral, dan besi dan baja.

Penurunan impor berupa logam mulia, perhiasan, dan permata, perangkat optik, fotografi, sinematografi, medis, serelia, aluminium dan barang daripadanya, serta biji dan buah mengandung minyak.

Berdasarkan negara asal impor, peningkatan impor nonmigas terjadi dari China mencapai US$550,1 miliar, Brasil US$135,1 juta, Korea Selatan US$132,7 juta, Perancis US$108,3 juta, dan Malaysia US$98,6 juta. Pangsa impor Indonesia masih didominasi dari China 34,28 persen.

Sebaliknya, penurunan impor terjadi dari Jepang US$95,5 juta, Hong Kong US$63,6 juta, Cheska US$36,1 juta, Afrika Selatan US$36,1 juta, dan Kanada US$30,3 juta.

[Gambas:Video CNN]



(uli/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK