Nasib Perang Dagang usai Biden Dilantik Jadi Presiden AS

CNN Indonesia | Kamis, 21/01/2021 08:13 WIB
Amerika Serikat telah resmi memiliki presiden baru, Joe Biden pada Rabu (20/1) waktu AS. Bagaimana nasib perang dagang AS-China usai Biden menjadi presiden? Amerika Serikat telah resmi memiliki presiden baru, Joe Biden pada Rabu (20/1) waktu AS. (iStockphoto/andriano_cz).
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat telah resmi memiliki presiden baru, Joe Biden, menggantikan Donald Trump pada Rabu (20/1) waktu AS. Di tangan Biden, berbagai kebijakan kini menjadi pertanyaan, termasuk perang dagang dengan China yang dikibarkan oleh Trump semasa memimpin negeri Paman Sam.

Lalu, bagaimana nasib perang dagang AS-China usai Biden menjadi presiden?

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho meramalkan perang dagang AS-China justru kian panas di era Biden. Sebab, Biden pernah menilai bahwa Trump tidak berhasil meningkatkan produksi dalam negeri sehingga kebutuhan domestik perlu ditutup impor dari China dan menimbulkan defisit perdagangan.


Selain itu, Biden pernah mengkritik bahwa AS di bawah kepemimpinan Trump justru 'kalah besar' di kesepakatan dagang fase pertama dengan China. Salah satunya, AS menangguhkan tarif untuk impor produk elektronik China senilai US$160 miliar hanya karena negeri tirai bambu setuju membeli barang AS senilai US$200 miliar.

"Apakah perang dagang akan menurun tensinya? Saya rasa tidak akan, tetap ada bahkan meningkat, karena salah satu kritik Biden terhadap Trump adalah ketika Trump menandatangani perjanjian fase 1 dengan China. Di bawah kesepakatan fase 1 dengan China itu (AS dinilai) tidak bisa meningkatkan industri produksi dalam negeri," ungkap Andry, dikutip Selasa (19/1).

Bahkan, Andry mendapat sinyal bahwa AS di tangan Biden justru berpotensi menggandeng negara lain untuk ikut memusuhi China. Potensi ini, sambungnya, juga terbaca dari janji Biden untuk mendorong produksi AS dan meningkatkan pengadaan infrastruktur dalam rangka mendukung produksi.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai perang dagang antara AS-China kemungkinan memang masih akan berlangsung di era Biden. Namun, berbeda dengan Andry, proyeksinya, perang dagang bisa lebih mereda.

Sebab, Josua melihat Biden merupakan pemimpin yang lebih mengandalkan jalur diplomasi dalam menyelesaikan masalah ketimbang Trump yang terlalu berani untuk langsung mengibarkan bendera perang.

"Biden mungkin lebih ke jalur multilateral," ucap Josua.

Ekonom sekaligus Rektor Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro juga berpandangan begitu, perang dagang masih ada. Tapi ini bisa menguntungkan Indonesia.

"Dengan terpilihnya Joe Biden, perang dagang akan masih ada dan ini efeknya ke rantai pasokan dan Indonesia bisa mendapat keuntungan. Jadi akan ada dua super power, gajah sama gajah berkelahi, tapi pelanduk cerdik di tengah-tengah bisa ambil keuntungan," tutur Ari.

[Gambas:Video CNN]



(uli/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK