Jokowi Ungkap 5 Usaha Tahan Banting dari 'Infeksi' Corona

CNN Indonesia | Kamis, 21/01/2021 14:52 WIB
Jokowi mengatakan ada 5 sektor usaha yang tahan banting dari tekanan corona, yaitu, pangan, farmasi, rumah sakit, teknologi, jasa keuangan dan pendidikan. Jokowi menyebut lima sektor usaha tahan dan kuat dari infeksi corona. Mereka adalah, pendidikan, teknologi, pangan, jasa keuangan, rumah sakit. (Biro Setpres/Muchlis).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan ada lima sektor usaha yang akan bertahan di masa pandemi covid-19. Mereka adalah pangan, farmasi dan rumah sakit, teknologi, jasa keuangan, dan pendidikan.

Jokowi menyatakan meski sektor pangan bertahan di masa pandemi, tetapi ada persoalan yang harus diatasi. Itu menyangkut substitusi impor, terutama terkait komoditas gula, kedelai, bawang putih, dan bawang putih.

"Urusan gula impor jutaan, padahal ada lahan semua. Kedelai, Indonesia juga punya lahan luas. Jagung juga masih impor jutaan ton, harus diselesaikan. Bawang putih dulu tidak impor, dulu kan menanam bawang putih tapi sekarang tidak karena kalah bersaing," papar Jokowi dalam 11th Kompas100 CEO Forum "Let's Collaborate; Rising in Pandemic Era", Kamis (21/1).


Untuk itu, Jokowi mengajak pengusaha bekerja sama dengan petani. Dengan kerja sama, Jokowi berharap persoalan impor bisa diselesaikan.

"Saya mengajak agar para CEO bisa merancang sebuah pola kerja sama dengan petani, sehingga masalah komoditas-komoditas itu bisa diselesaikan," terang Jokowi.

Selain pangan, Jokowi juga menyinggung ketergantungan sektor farmasi terhadap bahan baku yang mayoritasnya masih impor. Menurutnya, Indonesia seharusnya bisa membangun industri farmasi dari hulu sampai hilir.

[Gambas:Video CNN]

"Saya juga lihat, mungkin hampir 80 persen-85 persen masih impor. Kenapa tidak dilakukan di Indonesia," jelas Jokowi.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca dagang Indonesia surplus US$21,74 miliar sepanjang 2020 di tengah pandemi virus corona. Realisasinya berbanding terbalik dengan 2019 lalu yang tercatat defisit sebesar US$3,2 miliar pada Januari-Desember 2019.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan surplus terjadi karena nilai ekspor mencapai US$163,31 miliar  atau lebih besar dari impor yang hanya mencapai US$141,57 miliar.

(aud/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK