Bio Farma Olah Bahan Baku dari China Jadi 3 Juta Dosis Vaksin

CNN Indonesia | Jumat, 22/01/2021 06:40 WIB
PT Bio Farma telah memproduksi 3 juta dosis vaksin corona siap pakai untuk kemudian dikirimkan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). PT Bio Farma telah memproduksi 3 juta dosis vaksin corona siap pakai untuk kemudian dikirimkan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Ilustrasi. (iStockphoto/Roop_Dey).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Bio Farma (Persero) sudah mengolah bahan baku atau bulk vaksin corona atau covid-19 dari China menjadi 3 juta dosis vaksin siap pakai per 20 Januari 2021. Vaksin jadi itu juga sudah melewati tahap uji kualitas kontrol untuk kemudian dikirimkan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Setelah dikirim ke BPOM, Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan vaksin akan mendapat sertifikat lot release yang menyatakan bahwa vaksin layak untuk digunakan. Selanjutnya, vaksin bisa didistribusikan ke masyarakat.

"Sampai hari ini, saya dapat laporan terakhir sudah ada 3 juta dosis vaksin yang sudah selesai diproduksi dan proses quality control untuk nanti dikirimkan ke BPOM untuk mendapatkan (sertifikat) lot release," ungkap Honesti di Gedung DPR/MPR, Rabu (20/1) lalu.


Honesti mengatakan hasil produksi ini berasal dari tiga tahap pengerjaan. Masing-masing tahap bisa menghasilkan 1 juta dosis vaksin jadi.

Kendati baru menghasilkan 3 juta vaksin jadi, perusahaan tetap berupaya mengejar target maksimal produksi, yaitu mencapai 12 juta dosis pada Februari 2021. Seluruh produksi ini menggunakan 15 juta bahan baku vaksin yang sudah masuk sejak pertengahan Januari ini.

"Tahap satu kemarin sudah datang 15 juta dengan overfill 10 persen, berarti kami dapat tambahan 10 persen menjadi 16,5 juta yang sudah datang, ini yang sekarang kami proses produksi," jelasnya.

Sementara, sampai akhir tahun, perusahaan negara di bidang farmasi itu akan memproduksi vaksin dari 140 juta bahan baku yang direncanakan masuk bertahap ke Indonesia dari Januari sampai Juni 2021.

"Rencana awalnya selama 10 bulan (selesai) dari 140 juta itu, tapi kami yakinkan untuk bisa dipercepat karena kebutuhan kita untuk program vaksinasi juga cukup tinggi," tuturnya.

Lebih lanjut, vaksin yang sudah jadi ini disimpan di ruangan pendingin untuk selanjutnya didistribusikan ke daerah melalui jaringan perusahaan dan anak usaha. Ia menyebut Bio Farma dan para anak usahanya, yaitu PT Indofarma (Persero) Tbk dan PT Kimia Farma (Persero) Tbk memiliki total 48 cabang penyimpanan di berbagai wilayah.

"Teknologinya kami siapkan digital solution yang memang sudah end to end, mulai dari pabrik, proses produksi, distribusi, sampai diserahkan dari pemerintah ke provinsi, itu semua bisa dimonitor real time," katanya.

Honesti mengungkapkan vaksin yang sudah jadi bisa bertahan sekitar 1 tahun sampai 1,5 tahun ke depan. Syaratnya, vaksin disimpan dengan kondisi suhu 2 derajat sampai 8 derajat celcius sebelum digunakan.

"Kita akan monitoring stabilitas suhunya," imbuhnya.

Potensi 663 Juta Dosis 

Honesti mengungkapkan Indonesia akan memiliki 663 juta dosis vaksin covid-19 dengan berbagai merek bila seluruh perjanjian kerja sama berjalan lancar dan disetujui. Jumlah itu mencukupi seluruh kebutuhan yang mencapai 426 juta dosis.

Rinciannya, vaksin dari Sinovac China sebanyak 3 juta vaksin jadi dan 140 juta vaksin dalam bentuk bahan baku. Lalu, vaksin dari Novavax sebanyak 50 juta dosis.

Jumlah vaksin dari Novavax, Kanada masih mungkin bertambah menjadi 80 juta dosis bila mendapat kesepakatan. Kemudian, Honesti mengatakan Indonesia mendapat komitmen pengadaan vaksin dari Covax atau GAVI sekitar 54 juta dosis.

Vaksin merupakan merek yang disediakan WHO sebagai bantuan kepada negara-negara di dunia, khususnya negara berpendapatan rendah. "Tapi seandainya mereka memiliki supply lebih, another 54 juta dosis, artinya 108 juta dosis memungkinkan atau 20 persen dari total populasi yang mendapatkan vaksin di kita," tuturnya.

Selanjutnya, ada vaksin AstraZeneca dari Inggris sebanyak 50 juta dosis ditambah opsi tambahan 50 juta dosis lagi. "Tapi ini tergantung apakah Covax atau GAVI bisa mensupply untuk level maksimal atau tidak, kalau misal Covax memberikan 108 juta dosis, kemungkinan opsi ini tidak akan dieksekusi," ungkapnya.

Sisanya, Indonesia sedang menego Pfizer dari Amerika Serikat dan Jerman pemilik BioNTech. Komitmennya saat ini 50 juta dosis.

"Ada beberapa jenis vaksin lain di Kepmenkes, ada tujuh vaksin di KMK tersebut dan ada dua yang belum dinego, yaitu Moderna dan Sinopharm yang kerja sama dengan G42, perusahaan UEA," ucapnya.

[Gambas:Video CNN]

Secara total, vaksin yang sudah dinego mencapai 329 juta dosis. Tapi dengan potensi yang ada mencapai 438 juta dosis.

"Tapi kalau seandainya kita mendapatkan full supply dari Covax atau GAVI, kemungkinan kita miliki 663 juta dosis, sementara kebutuhan hanya 426 juta dosis," pungkasnya.

(uli/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK