BI Proyeksi PPKM Jawa-Bali Tahan Konsumsi Masyarakat

CNN Indonesia | Kamis, 21/01/2021 17:53 WIB
Bank Indonesia (BI) menilai Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) memengaruhi mobilitas masyarakat dan menahan konsumsi. Bank Indonesia (BI) menilai Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) memengaruhi mobilitas masyarakat dan berdampak pada konsumsi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) memperkirakan laju pertumbuhan konsumsi masyarakat tertahan selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali pada 11-25 Januari 2021.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan konsumsi masyarakat terganggu karena PPKM membuat mobilitas dan aktivitas masyarakat terbatas. Sekitar 75 persen pekerja harus bekerja di rumah (work from home).

Apalagi, terjadi peningkatan jumlah kasus harian virus corona atau covid-19. Kasus harian bahkan sempat memecahkan rekor, yaitu pertambahan 14.224 orang yang positif dalam sehari.


"Yang terpengaruh adalah mobilitas karena kenaikan kasus, tentu saja mempengaruhi konsumsi, konsumsi masih naik cuma tingkat kenaikannya sedikit lebih rendah dari yang kami perkirakan," ujar Perry saat konferensi pers hasil rapat dewan gubernur BI secara virtual, Kamis (21/1).

Kendati begitu, ia melihat konsumsi mungkin tidak turun jauh karena hasil survei bank sentral nasional menunjukkan bahwa keyakinan penjualan dari dunia usaha masih meningkat. Begitu juga dengan keyakinan konsumsi dari masyarakat meski tingkat kenaikannya sedikit lebih rendah dari perkiraan.

Kendati begitu, Perry tidak memberi proyeksi seberapa besar proyeksi angka pertumbuhan konsumsi tersebut. Namun, ia memandang pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan masih bisa mencapai asumsi BI, yaitu 4,8 persen sampai 5,8 persen.

Pasalnya, ekonomi masih bisa ditopang oleh laju ekspor yang diramal cukup baik. Hal ini tercermin dari realisasi ekspor Indonesia yang hanya turun 2,61 persen pada 2020.

Pertumbuhan ekspor masih lebih baik daripada impor yang turun 17,34 persen, sehingga neraca dagang Indonesia membukukan surplus US$21,74 miliar pada 2020. Surplus tercatat menjadi yang tertinggi sejak 2011.

Selain ekspor, konsumsi pemerintah juga diramal masih akan menopang keseluruhan ekonomi nasional. Khususnya dari aliran bantuan sosial (bansos) hingga dana infrastruktur.

"Ini mendorong ekspansi fiskal, investasi, dan pertumbuhan ekonomi," imbuhnya.

Indikasi lain juga terlihat dari proyeksi aliran modal asing yang masuk (capital inflow) ke Indonesia pada tahun ini. Perhitungan BI akan ada capital inflow mencapai US$19,1 miliar pada 2021 atau lebih tinggi dari US$11 miliar pada 2020.

[Gambas:Video CNN]



(uli/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK