Corona Buat Ekonomi Prancis Ciut 8,3 Persen

afp, CNN Indonesia | Jumat, 29/01/2021 21:27 WIB
Ekonomi Prancis menyusut 8,3 persen pada 2020 terpukul virus corona. Ekonomi Prancis menyusut 8,3 persen pada 2020 terpukul virus corona.(REUTERS/Charles Platiau)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonomi Prancis menyusut 8,3 persen pada 2020 terpukul virus corona. Pandemi ini membuat sebagian negara Eropa masuk jurang resesi terparah sejak Perang Dunia II.

Dikutip dari AFP, prospek dari kelanjutan lockdown bisa menutup prospek perbaikan ekonomi tahun ini. Badan statistik Prancis mengungkap penurunan ekonomi memang kurang dari proyeksi awal yakni 9 persen.

Awalnya, kantor statistik INSEE serta Bank of France memproyeksi negara tersebut bisa kontraksi 9 persen. Sementara, pemerintah memproyeksi 11 persen.


Namun, ada sedikit perbaikan karena melonjaknya konsumsi masyarakat pada Desember. Tercatat, konsumsi rumah tangga meningkat hingga 23 persen pada Desember, setelah mengalami penurunan 18 persen pada November.

Belanja akhir tahun tersebut bisa membuat PDB Prancis turun hanya 1,3 persen pada kuartal IV kurang dari 4 persen yang diperkirakan oleh sebagian besar ekonom.

"Ini mengejutkan, karena kami memiliki enam minggu lockdown pada kuartal terakhir dan tiga minggu jam malam" di sebagian besar negara, kata Selin Ozyurt, Ekonom asuransi kredit dan grup analitik Euler Hermes.

Pemerintah mengerahkan sekitar 300 miliar euro dalam bantuan keuangan sehingga para pekerja yang diberhentikan dapat terus dibayar selama lockdown.

Namun, bisnis makanan tetap tutup sejak 30 Oktober, dan pejabat pemerintah memperingatkan minggu ini bahwa jam malam nasional pukul 18.00 tidak benar-benar memperlambat peningkatan kasus covid. Sehingga, Prancis sedang mempertimbangkan rencana lockdown kembali.

"Paruh pertama 2021 akan kembali terbebani oleh kemungkinan langkah-langkah kesehatan yang lebih ketat," kata Emmanuel Jessua, ekonom di lembaga penelitian Rexecode.

Dia mengatakan pertumbuhan setahun penuh tidak mungkin mencapai target pemerintah sebesar 6,0 persen.

"Jika GPD jatuh lagi pada kuartal pertama, itu akan sangat mengkhawatirkan," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(age/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK