TAIPAN

Zhang Yong, Raja Restoran Hotpot Jadi Orang Terkaya Singapura

CNN Indonesia | Minggu, 07/02/2021 10:01 WIB
Pemilik gerai restoran hotpot Haidilao, Zhang Yong, merupakan orang terkaya di Singapura. Bersama istrinya, total harta Zhang menembus US$19 miliar. Pemilik gerai restoran hotpot Haidilao, Zhang Yong, merupakan orang terkaya di Singapura. Bersama istrinya, total harta Zhang menembus US$19 miliar. Ilustrasi. (CNNIndonesia/Basith Subastian).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bisnis apabila digeluti dengan serius bisa membawa pemiliknya menjadi konglomerat. Hal itu yang dialami oleh Zhang Yong, orang terkaya di Singapura.

Berdasarkan catatan Forbes, per 19 Agustus 2020, Zhang bersama istrinya, Shu Ping menduduki peringkat wahid orang tajir di Negeri Singa dengan total harta berkisar US$19 miliar atau Rp267,9 triliun (asumsi kurs Rp14.100 per dolar AS). Sebagian besar sumber kekayaannya berasal dari kerajaan restoran hotpot khas Sichuan, Haidilao.

Zhang lahir dari keluarga miskin di Distrik Jianyang, Sichuan, China pada 1970. Ia mengaku tidak pernah makan di restoran hingga ia berumur 19 tahun dan tak pernah lulus dari sekolah menengah atas (SMA).


Lepas mengikuti pendidikan vokasi di Chengdu, Zhang bekerja sebagai tukang las di salah satu pabrik traktor yang hanya membayarnya US$14 per bulan. Pekerjaan itu ia tekuni selama enam tahun sembari melakukan riset pasar untuk mendapatkan peluang bisnis.

Zhang sempat menjajal dua bisnis tapi berujung gagal. Hingga akhirnya, Dewi Fortuna datang pada 20 Maret 1994. Saat itu, Zhang bersama Shu dan dua orang rekannya, Shi Yong hong dan Li Haiyan, mendirikan restoran hotpot Haidilao di Jianyang.

Nama Haidilao sendiri merujuk pada istilah keberuntungan dalam permainan mahjong yaitu saat pemain meraih kemenangan berkat batu (tile) terakhir yang diambil di atas meja. Bermodalkan 8.000 yuan, Haidilao menjagokan kuliner rebusan kaldu pedas khas Sichuan yang berisi sayuran dan daging. 

"Saya tidak punya uang, jadi yang lain menjadi investor sebenarnya, meski jumlah investasi kami kurang dari 10 ribu yuan," ujar Zhang dalam petikan wawancaranya bersama koran lokal The Economic Observer.

Awalnya, restoran self-cook itu hanya terdiri dari empat meja. Meski tak berkontribusi secara finansial, Zhang mengajukan diri sebagai pemimpin yang memiliki visi untuk mengembangkan aset bisnis itu menjadi 150 ribu yuan dalam lima tahun.

Dalam beberapa bulan, Zhang menambah satu lantai dan menjadikan Haidilao sebagai restoran hotpot terbesar di Jianyang. Namun, ambisinya tak berhenti di situ. Ia melihat potensi kuliner khas Sichuan di bawa ke seluruh daratan China.

"Restoran kami memiliki dekorasi terbaik dan bahkan menyediakan penyejuk udara. Pada 1998, kami membuka gerai kedua Lou Wai Lou," kata Zhang.

Ia terus melebarkan sayap Haidilao ke berbagai penjuru dunia. Mengutip laporan keuangan Haidilao, per Juni 2020, perusahaan mengelola 935 restoran di mana 868 restoran di antaranya beroperasi di China. Sementara, 67 restoran sisanya tersebar di Hong Kong, Macau, Singapura, Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Vietnam, Malaysia, dan Australia.

Pesatnya perkembangan bisnis Zhang bukan tanpa alasan. Haidilao bukan hanya mengandalkan sajian yang enak tetapi pengalaman kuliner yang berkesan bagi pelanggan. Bahkan, restoran menawarkan layanan manicure, sikat sepatu hingga papan permainan bagi pelanggan yang tengah menunggu antrean.

"Posisi pasar kami sederhana: kami menyediakan tempat berkualitas tinggi untuk bertemu teman dan keluarga," ujarnya.

Seiring bertambahnya gerai, jumlah karyawan Haidilao juga meningkat hingga menembus 60 ribu orang. Pada 2010, Zhang juga membuka sekolah pelatihan manajemen restoran. Ia berharap bisa memberdayakan pemuda desa yang akses pendidikannya terbatas.

Mengutip Reuters, pada 2018, Zhang membawa Haidilao International Holding Ltd untuk melantai di bursa Hong Kong. Ia dan istrinya menguasai 58 persen saham perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar awal mencapai US$12 miliar. Langkah itu membuat keduanya masuk ke jajaran orang terkaya di China.

Pada tahun yang sama, Zhang memboyong keluarganya untuk pindah ke Singapura dan berganti warga negara. Dilaporkan South China Morning Post, keputusan Zhang itu sempat memicu kemarahan warga Negeri Tirai Bambu hingga memboikot sejumlah gerainya.

Selama pandemi, bisnis restoran Zhang terpukul. Pada paruh pertama 2020, pendapatannya turun 16,6 persen secara tahunan yaitu dari 11,7 miliar yuan atau sekitar Rp25,5 triliun (asumsi kurs Rp2.180 per yuan) menjadi 9,76 miliar yuan atau Rp21,27 triliun.

Imbasnya, perusahaan mencatat rugi 964,5 juta yuan atau Rp2,1 triliun. Kinerja negatif itu berbanding terbalik dari periode yang sama tahun lalu di mana perusahaan meraup laba 912,16 juta yuan atau Rp1,98 triliun.

[Gambas:Video CNN]



(sfr/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK