Holding Ultra Mikro Akan Gaet 30 Juta Nasabah UMKM Baru
CNN Indonesia
Kamis, 18 Mar 2021 18:58 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Wamen BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyebut holding ultra mikro yang diisi BRI, Pegadaian, dan PNM akan menggaet 30 juta nasabah UMKM baru hingga 2024. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Septianda Perdana).
Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan holding ultra mikro yang diisi oleh PT BRI (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero), dan PT PNM (Persero) akan menciptakan 30 juta nasabah UMKM baru pada 2024 mendatang. Holding BUMN itu akan dibentuk dalam waktu dekat.
"Targetnya empat tahun ke depan, kita bisa onboard 30 juta nasabah baru di tiga entitas bisnis ini secara terintegrasi," ungkap Tiko, sapaan akrabnya, saat rapat bersama Komisi VI DPR, Kamis (18/3).
Dari segi operasional, eks direktur utama Bank Mandiri itu mengatakan kementerian sudah memetakan bagaimana pembagian dan penempatan lokasi cabang masing-masing perusahaan ke depan setelah holding terbentuk.
Ia memastikan cabang akan tetap tersebar di seluruh Indonesia untuk menjangkau para nasabah UMKM.
"Saat ini sudah lakukan piloting dalam bentuk co-location di mana cabang-cabang di desa. BRI ke depan akan dilengkapi dengan loket untuk Pegadaian dan untuk Mekaar (program PNM) untuk menjangkau pembiayaan kepada masyarakat, khususnya ibu-ibu," tuturnya.
Bersamaan dengan pemetaan ini, nantinya dipastikan Pegadaian dan PNM tak perlu lagi menyewa ruko atau gedung sendiri untuk menjalankan operasi bisnis mereka. Mereka bisa menempelkan unitnya di BRI hanya dengan membangun counter atau safe deposit, sehingga biaya pembukaan kantor ke depan bisa lebih sedikit.
Selanjutnya, aktivitas bisnis Pegadaian dan PNM di BRI dikendalikan dengan sistem digital. Dengan skema ini, ia memastikan keuangan masing-masing perusahaan pelat merah bisa lebih efisien dan sehat.
Dari sisi bunga pembiayaan, ia memastikan akan turun, meski tidak menyebut bisa mencapai kisaran berapa untuk masing-masing entitas. Tapi proyeksinya akan lebih rendah dari bunga pinjaman dari masing-masing sumber untuk tiap perusahaan.
Tiko mencatat biaya pendanaan BRI kini berada di kisaran 2,3 persen. Sementara, Pegadaian sekitar 6-7 persen dan PNM 9-10 persen.
Dari sisi tenaga kerja, ia kembali menekankan tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK). Bahkan, tidak ada pengurangan manfaat dari gaji dan tunjangan masing-masing karyawan.
"Bahkan kami meyakini dengan efisiensi akan ada kenaikan laba PNM dan Pegadaian dan bisa di-pass on kepada benefit dari karyawan. Kami akan terus komunikasikan bahwa holding ini bukan hanya mengejar benefit bisnis, tetapi juga untuk kesejahteraan pegawai," jelasnya.
Lebih lanjut, Tiko mengatakan rencana holding ultra mikro sudah mendapat restu dari berbagai lembaga keuangan. Mulai dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang diketuai Menteri Keuangan Sri Mulyani, hingga Komite Privatisasi yang dipimpin Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto.
Para lembaga juga sudah memberi pesan-pesan khusus kepada Kementerian BUMN terkait pembentukan holding. OJK misalnya, ingin agar ekosistem holding bisa menerapkan panduan perlakuan akuntansi sesuai PSAK 71 mengenai Instrumen Keuangan.
"Kemudian ada satu anak perusahaan di Pegadaian yang diminta untuk investasi ke depan yang adalah anak usaha pegadaian dalam hal jual-beli emas," ujarnya.
Lalu, wasit lembaga keuangan bank dan non-bank itu juga ingin penerbitan saham atau rights issue dilakukan dengan valuasi saham yang wajar, sehingga mendapat perlindungan dari pemegang saham minoritas.
Sementara BI menitipkan agar PNM dan Pegadaian tetap punya sumber pendanaan lain di luar BRI. Kemudian, bank sentral nasional ingin agar segala transaksi menggunakan QRIS.
Sedangkan LPS memberi masukan agar holding turut menggandeng Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebagai mitra, sehingga kehadiran holding tidak mematikan bisnis mereka dan menghindari aksi monopoli.
"KSSK secara bersama memastikan bahwa pelaksanaan (holding untuk) UMi ini tidak menimbulkan resiko sistemik bagi perbankan nasional," ucapnya.
Terakhir, Komite Privatisasi meminta agar saham minoritas di Pegadaian dan PNM juga ditawarkan ke publik saat rights issue.
Dari sisi pendanaan, Tiko mengungkapkan rencananya BRI akan rights issue pada kuartal III 2021. Namun, belum ada proyeksi nilainya, tapi yang pasti dana itu akan digunakan untuk membeli saham seri B negara milik Pegadaian dan PNM.
"Harapannya, konsultasi dengan Komisi VI dan XI bisa diselesaikan hari ini. Kemudian pemerintah akan menyetorkan modal nontunai dan pertahankan satu lembar saham dwiwarna di PNM dan Pegadaian, sehingga pemeirntah memiliki kontrol langsung ke PNM dan Pegadaian melalui saham dwiwarna itu," imbuh dia.
Direktur Utama BRI Sunarso memastikan holding ultra mikro bukan merger atau penggabungan tiga perusahaan secara permanen menjadi satu entitas. Sebab, masing-masing perusahaan masih bisa menjalankan model bisnisnya masing-masing, meski sembari terikat dalam aturan holding.
"Apakah nantinya ekosistem ini akan tunduk pada perbankan? Jawabannya tidak, karena ini bukan merger. Ini adalah pembentukan ekosistem yang terikat oleh kepemilikan di holding, jadi bukan merger, entitas Pegadaian, masih Pegadaian," jelas Sunarso.
Di sisi lain, eks direktur utama Pegadaian itu mengatakan saat ini tim pembentukan holding tengah mengkaji skema pinjaman atau pembiayaan baru yang mungkin akan diberikan ke nasabah setelah holding resmi terbentuk.
Salah satunya, meminjam dana dengan jaminan beristilah hukum perikatan. Sederhananya, pinjaman bisa diberikan dengan jaminan atas barang yang digadaikan.
"Dia nanti tidak harus membawa barangnya, bisa juga dengan analisa proyek," imbuhnya.
Bunga Murah
Direktur Utama PNM Arief Mulyadi mengatakan holding ultra mikro secara jelas nanti akan menurunkan tingkat bunga pinjaman atau pembiayaan yang didapat perseroan. Begitu juga dengan bunga pinjaman ke nasabah program Mekaar.
Artinya, bunga pinjaman menjadi lebih murah. Sebab, PNM sudah mendapat kepastian sumber dana dari BRI nanti. Begitu juga dengan Pegadaian untuk menjalankan bisnisnya.
Khusus di PNM, menurut hitung-hitungannya saat ini, bunga pinjaman yang didapat kemungkinan bisa turun 1 persen. Sebelumnya menurut catatan Kementerian BUMN, bunga yang didapat PNM berkisar 6-7 persen, dengan begitu nantinya mungkin berada di 5-6 persen.
"Untuk Pegadaian akan menurunkan suku bunga sebesar 1 persen. Untuk nasabah Mekaar PNM, sinergi ini bisa menurunkan bunga 3 persen, untuk nasabah baru ini bisa terjadi," jelas Arief.
Tak cuma bunga pinjaman yang lebih rendah, ia memastikan holding ultra mikro juga akan mempercepat aliran pinjaman. Sebab, tak perlu menunggu kondisi pasar tertentu, dana akan selalu siap dari BRI.
Direktur Utama Pegadaian Kuswiyoto mengungkapkan holding ultra mikro akan memberi manfaat pada peningkatan aset ketiga perusahaan secara akumulasi. Proyeksinya, aset akan tembus Rp2.235 triliun pada 2024.
Sementara bila tidak ada holding, kemungkinan aset cuma sekitar Rp2.187 triliun. Begitu juga dengan laba, sumbangan pajak, hingga dividen. "Laba diperkirakan (kalau tidak ada holding) Rp74,5 triliun, diproyeksikan ada tambahan Rp8,4 triliun (bila holding) menjadi Rp82,9 triliun," papar Kuswiyoto.
Setoran pajak tanpa holding diasumsikan hanya sekitar Rp18,2 triliun, tapi kalau ada holding mungkin bisa nyaris Rp20 triliun atau tepatnya Rp19,9 triliun.
Lalu, proyeksi setoran dividen ke negara bila tidak ada holding mungkin sekitar Rp19,4 triliun, namun dengan holding akan mencapai Rp20,4 triliun.
Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan holding ultra mikro yang diisi oleh PT BRI (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero), dan PT PNM (Persero) akan menciptakan 30 juta nasabah UMKM baru pada 2024 mendatang. Holding BUMN itu akan dibentuk dalam waktu dekat.
"Targetnya empat tahun ke depan, kita bisa onboard 30 juta nasabah baru di tiga entitas bisnis ini secara terintegrasi," ungkap Tiko, sapaan akrabnya, saat rapat bersama Komisi VI DPR, Kamis (18/3).
Dari segi operasional, eks direktur utama Bank Mandiri itu mengatakan kementerian sudah memetakan bagaimana pembagian dan penempatan lokasi cabang masing-masing perusahaan ke depan setelah holding terbentuk.
Ia memastikan cabang akan tetap tersebar di seluruh Indonesia untuk menjangkau para nasabah UMKM.
"Saat ini sudah lakukan piloting dalam bentuk co-location di mana cabang-cabang di desa. BRI ke depan akan dilengkapi dengan loket untuk Pegadaian dan untuk Mekaar (program PNM) untuk menjangkau pembiayaan kepada masyarakat, khususnya ibu-ibu," tuturnya.
Bersamaan dengan pemetaan ini, nantinya dipastikan Pegadaian dan PNM tak perlu lagi menyewa ruko atau gedung sendiri untuk menjalankan operasi bisnis mereka. Mereka bisa menempelkan unitnya di BRI hanya dengan membangun counter atau safe deposit, sehingga biaya pembukaan kantor ke depan bisa lebih sedikit.
Selanjutnya, aktivitas bisnis Pegadaian dan PNM di BRI dikendalikan dengan sistem digital. Dengan skema ini, ia memastikan keuangan masing-masing perusahaan pelat merah bisa lebih efisien dan sehat.
Dari sisi bunga pembiayaan, ia memastikan akan turun, meski tidak menyebut bisa mencapai kisaran berapa untuk masing-masing entitas. Tapi proyeksinya akan lebih rendah dari bunga pinjaman dari masing-masing sumber untuk tiap perusahaan.
Tiko mencatat biaya pendanaan BRI kini berada di kisaran 2,3 persen. Sementara, Pegadaian sekitar 6-7 persen dan PNM 9-10 persen.
Dari sisi tenaga kerja, ia kembali menekankan tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK). Bahkan, tidak ada pengurangan manfaat dari gaji dan tunjangan masing-masing karyawan.
"Bahkan kami meyakini dengan efisiensi akan ada kenaikan laba PNM dan Pegadaian dan bisa di-pass on kepada benefit dari karyawan. Kami akan terus komunikasikan bahwa holding ini bukan hanya mengejar benefit bisnis, tetapi juga untuk kesejahteraan pegawai," jelasnya.
Lebih lanjut, Tiko mengatakan rencana holding ultra mikro sudah mendapat restu dari berbagai lembaga keuangan. Mulai dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang diketuai Menteri Keuangan Sri Mulyani, hingga Komite Privatisasi yang dipimpin Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto.
Para lembaga juga sudah memberi pesan-pesan khusus kepada Kementerian BUMN terkait pembentukan holding. OJK misalnya, ingin agar ekosistem holding bisa menerapkan panduan perlakuan akuntansi sesuai PSAK 71 mengenai Instrumen Keuangan.
"Kemudian ada satu anak perusahaan di Pegadaian yang diminta untuk investasi ke depan yang adalah anak usaha pegadaian dalam hal jual-beli emas," ujarnya.
Lalu, wasit lembaga keuangan bank dan non-bank itu juga ingin penerbitan saham atau rights issue dilakukan dengan valuasi saham yang wajar, sehingga mendapat perlindungan dari pemegang saham minoritas.
Sementara BI menitipkan agar PNM dan Pegadaian tetap punya sumber pendanaan lain di luar BRI. Kemudian, bank sentral nasional ingin agar segala transaksi menggunakan QRIS.
Sedangkan LPS memberi masukan agar holding turut menggandeng Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebagai mitra, sehingga kehadiran holding tidak mematikan bisnis mereka dan menghindari aksi monopoli.
"KSSK secara bersama memastikan bahwa pelaksanaan (holding untuk) UMi ini tidak menimbulkan resiko sistemik bagi perbankan nasional," ucapnya.
Terakhir, Komite Privatisasi meminta agar saham minoritas di Pegadaian dan PNM juga ditawarkan ke publik saat rights issue.
Dari sisi pendanaan, Tiko mengungkapkan rencananya BRI akan rights issue pada kuartal III 2021. Namun, belum ada proyeksi nilainya, tapi yang pasti dana itu akan digunakan untuk membeli saham seri B negara milik Pegadaian dan PNM.
"Harapannya, konsultasi dengan Komisi VI dan XI bisa diselesaikan hari ini. Kemudian pemerintah akan menyetorkan modal nontunai dan pertahankan satu lembar saham dwiwarna di PNM dan Pegadaian, sehingga pemeirntah memiliki kontrol langsung ke PNM dan Pegadaian melalui saham dwiwarna itu," imbuh dia.
Holding Ultra Mikro Bukan Merger
Wamen BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyebut holding ultra mikro yang diisi BRI, Pegadaian, dan PNM akan menggaet 30 juta nasabah UMKM baru hingga 2024. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Direktur Utama BRI Sunarso memastikan holding ultra mikro bukan merger atau penggabungan tiga perusahaan secara permanen menjadi satu entitas. Sebab, masing-masing perusahaan masih bisa menjalankan model bisnisnya masing-masing, meski sembari terikat dalam aturan holding.
"Apakah nantinya ekosistem ini akan tunduk pada perbankan? Jawabannya tidak, karena ini bukan merger. Ini adalah pembentukan ekosistem yang terikat oleh kepemilikan di holding, jadi bukan merger, entitas Pegadaian, masih Pegadaian," jelas Sunarso.
Di sisi lain, eks direktur utama Pegadaian itu mengatakan saat ini tim pembentukan holding tengah mengkaji skema pinjaman atau pembiayaan baru yang mungkin akan diberikan ke nasabah setelah holding resmi terbentuk.
Salah satunya, meminjam dana dengan jaminan beristilah hukum perikatan. Sederhananya, pinjaman bisa diberikan dengan jaminan atas barang yang digadaikan.
"Dia nanti tidak harus membawa barangnya, bisa juga dengan analisa proyek," imbuhnya.
Bunga Murah
Direktur Utama PNM Arief Mulyadi mengatakan holding ultra mikro secara jelas nanti akan menurunkan tingkat bunga pinjaman atau pembiayaan yang didapat perseroan. Begitu juga dengan bunga pinjaman ke nasabah program Mekaar.
Artinya, bunga pinjaman menjadi lebih murah. Sebab, PNM sudah mendapat kepastian sumber dana dari BRI nanti. Begitu juga dengan Pegadaian untuk menjalankan bisnisnya.
Khusus di PNM, menurut hitung-hitungannya saat ini, bunga pinjaman yang didapat kemungkinan bisa turun 1 persen. Sebelumnya menurut catatan Kementerian BUMN, bunga yang didapat PNM berkisar 6-7 persen, dengan begitu nantinya mungkin berada di 5-6 persen.
"Untuk Pegadaian akan menurunkan suku bunga sebesar 1 persen. Untuk nasabah Mekaar PNM, sinergi ini bisa menurunkan bunga 3 persen, untuk nasabah baru ini bisa terjadi," jelas Arief.
Tak cuma bunga pinjaman yang lebih rendah, ia memastikan holding ultra mikro juga akan mempercepat aliran pinjaman. Sebab, tak perlu menunggu kondisi pasar tertentu, dana akan selalu siap dari BRI.
Direktur Utama Pegadaian Kuswiyoto mengungkapkan holding ultra mikro akan memberi manfaat pada peningkatan aset ketiga perusahaan secara akumulasi. Proyeksinya, aset akan tembus Rp2.235 triliun pada 2024.
Sementara bila tidak ada holding, kemungkinan aset cuma sekitar Rp2.187 triliun. Begitu juga dengan laba, sumbangan pajak, hingga dividen. "Laba diperkirakan (kalau tidak ada holding) Rp74,5 triliun, diproyeksikan ada tambahan Rp8,4 triliun (bila holding) menjadi Rp82,9 triliun," papar Kuswiyoto.
Setoran pajak tanpa holding diasumsikan hanya sekitar Rp18,2 triliun, tapi kalau ada holding mungkin bisa nyaris Rp20 triliun atau tepatnya Rp19,9 triliun.
Lalu, proyeksi setoran dividen ke negara bila tidak ada holding mungkin sekitar Rp19,4 triliun, namun dengan holding akan mencapai Rp20,4 triliun.