CEO Rakuten: Gelar Olimpiade Seperti Misi Bunuh Diri

tim, CNN Indonesia | Sabtu, 15/05/2021 13:53 WIB
CEO Rakuten memprotes kebijakan pemerintah Jepang yang terus menggelar persiapan jadi tuan rumah Olimpiade. Penyelenggaraan Olimpiade di Tokyo Jepang terus menjadi sorotan publik. (AP/Eugene Hoshiko)
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama Rakuten, salah satu perusahaan e-commerce terkenal di Jepang, menyebut bahwa negaranya tengah menjalankan bunuh diri dengan menjadi tuan rumah Olimpiade.

Hiroshi Mikitani menjadi salah satu pemimpin perusahaan yang paling khawatir negaranya menggelar ajang olah raga empat tahunan itu karena  pandemi Covid-19 masih mendera Jepang.

"Keuntungannya tidak terlalu besar, dan kami melihat banyak negara masih berjuang keras (melawan Covid), termasuk India dan Brasil. Dan ini belum waktunya merayakan," kata Hiroshi seperti dilansir dari CNN, Sabtu (15/5).


Hiroshi mengaku telah berusaha meyakinkan pemerintah untuk membatalkan Olimpiade, yang dijadwalkan dimulai pada 23 Juli mendatang. Dia memberi pemerintah Jepang skor "dua dari 10" dalam penanganan Covid-19 di Jepang.

Selain Hiroshi, sejumlah eksekutif Jepang terkenal lain juga ikut menyuarakan kekhawatiran serupa, namun Hiroshi menjadi yang paling kritis.

Menurut Hiroshi, Olimpiade masih sangat mungkin untuk dibatalkan saat ini, dan lagipula, katanya "sulit" untuk membuat pertandingan itu aman.

Seiring meningkatnya kasus Covid-19, lebih dair 350 ribu orang telah menandatangani petisi online yang menyerukan agar Olimpiade dibatalkan, termasuk para eksekutif terkenal Jepang. 

Selain Hiroshi, CEO SoftBank (SFTBF) Masayoshi Son mengaku khawatir jika Olimpiade benar akan dilaksanakan musim panas ini, baik untuk Jepang maupun negara peserta.

"Saya sangat takut mengadakan Olimpiade, tidak hanya untuk Jepang tetapi untuk banyak negara. Mereka mengalami situasi yang sulit. Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa mendukung pengiriman atlet," kata dia kepada CNBC, Kamis (13/5).

Toyota (TM), salah satu sponsor utama even olahraga akbar ini juga mengungkapkan keprihatinan atas kekecewaan publik kepada para atlet.

"Kami sangat prihatin dengan laporan bahwa para atlet telah menjadi sasaran frustrasi beberapa orang tentang situasi medis saat ini," kata petinggi Operasional Toyota, Jun Nagata, Rabu (12/5).

Toyota merupakan satu dari 15 perusahaan global yang mengikuti program Mitra Olimpiade, tingkat sponsor Olimpiade tertinggi, yang memberi hak kepada mereka memasarkan secara eksklusif di Olimpiade Musim Panas, Musim Dingin, dan Remaja.

"Kami telah bekerja untuk mengidentifikasi apa yang dapat kami lakukan sebagai sponsor untuk membantu situasi itu karena kami sangat prihatin dengan situasi sebagai sponsor utama," tambah Nagata.

Jepang baru-baru ini menerapkan kondisi darurat untuk kali ketiga. Kondisi itu semakin menambah kekhawatiran bagi sukarelawan, atlet, ofisial, dan publik Jepang.

Sementara itu, tim atletik Amerika Serikat mengumumkan telah membatalkan kamp pelatihan pra-Olimpiade di Jepang, dengan alasan ketidakpastian seputar kompetisi.

Juru bicara Komite Olimpiade Internasional (IOC) Mark Adams meyakinkan wartawan bahwa rencana untuk menjadi tuan rumah pertandingan akan terus berlanjut, kendati kecemasan publik semakin meningkat.

(thr/vws)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK