ANALISIS

Plus Minus PLN Masuk Bisnis Internet Bersaing dengan Telkom

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Kamis, 03/06/2021 07:00 WIB
Pengamat menilai layanan internet dari PLN akan mendorong harga semakin kompetitif namun tetap perlu diawasi oleh Kementerian BUMN. Pengamat menilai layanan internet dari PLN akan mendorong harga semakin kompetitif namun tetap perlu diawasi oleh Kementerian BUMN. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT PLN (Persero) tiba-tiba membuat gebrakan dengan meluncurkan layanan jaringan internet tetap (fixed broadband internet), ICONNET. Layanan ini ditawarkan lewat anak usaha perseroan, yakni PT Indonesia Comnets Plus (ICON+).

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengungkapkan ICONNET merupakan bagian dari transformasi perusahaan. Menurutnya, ICONNET akan menjawab kebutuhan pelanggan yang menginginkan internet cepat, andal, dan sesuai dengan keekonomian masyarakat Indonesia

"PLN membangun jaringan listrik hingga ke seluruh pelosok negeri yang akan kami ekspansi dengan jaringan internet. Ke depan, tentunya di mana ada listrik, di situ ada ICONNET," ujar Zulkifli dalam keterangan resmi, Rabu (2/6).


Berdasarkan catatannya, data pengguna fixed broadband internet di Indonesia pada 2020 meningkat dari 12 persen menjadi 15 persen. Hal ini menjadi peluang bagi ICONNET untuk berkontribusi menyediakan layanan internet fiber optic.

Layanan fixed broadband internet ini bisa dibilang bentuk diversifikasi bisnis PLN. Sebagai catatan, bisnis inti PLN adalah pembangkitan, transmisi, distribusi, dan jasa lain terkait kelistrikan.

Lantas, apakah bisnis baru PLN yang digerakkan oleh anak usaha ini akan memberikan kontribusi signifikan untuk induk usaha, atau justru mengganggu BUMN lain yang memiliki bisnis inti layanan internet?

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Tallatov mengatakan sudah memprediksi sejak lama bahwa PLN akan terjun ke bisnis layanan internet. Pasalnya, PLN memiliki infrastruktur pendukung bisnis internet berupa kabel listrik yang tersebar di Indonesia.

"Kabel listrik yang sudah tersebar di pelosok rumah mengikuti rasio elektrifikasi. Kelebihan atas jaringan infrastruktur ini yang membuat PLN masuk ke bisnis jaringan internet," ungkap Abra kepada CNNIndonesia.com.

Menurut Abra, PLN tak perlu lagi pusing-pusing mencari pelanggan untuk bisnis barunya. BUMN setrum itu langsung memiliki target pasar sendiri.

"PLN kan punya basis data pelanggan, ini akan menjadi sumber data penting dalam mempromosikan bisnis ini," terang Abra.

Selain itu, PLN bisa dengan mudah memberikan harga murah ke pelanggan. Maklum, beban biaya PLN untuk 'nyemplung' ke bisnis internet tidak besar karena sudah memiliki beberapa infrastruktur yang dibutuhkan, sehingga tak perlu 'ngoyo' untuk mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan sebelumnya.

Berdasarkan laman resmi iconnet.id, ICONNET menawarkan layanan internet 10 Mbps sebesar Rp185 ribu per bulan, layanan internet 20 Mbps sebesar Rp207 ribu per bulan, layanan internet 50 Mbps sebesar 297 ribu per bulan, dan layanan internet 1000 Mbps sebesar 427 ribu per bulan.

Kalau dibandingkan dengan tarif yang ditawarkan IndiHome, bisnis internet di bawah PT Telkom Indonesia (Persero), harga ICONNET terbilang lebih murah.

Mengutip laman resmi IndiHome, layanan internet 20 Mbps dibanderol sebesar Rp275 ribu per bulan, layanan 30 Mbps sebesar Rp315 ribu per bulan, 40 Mbps sebesar Rp385 ribu per bulan, dan 50 Mbps sebesar Rp445 ribu per bulan.

Persaingan harga ini, kata Abra, secara tak langsung akan menjadi ancaman bagi Telkom Indonesia atau perusahaan internet lain. Tapi dari segi bisnis, harga layanan internet otomatis akan semakin kompetitif atau murah, sehingga konsumen akan diuntungkan.

"Jadi kalau dalam jangka menengah ICONNET menyalip bisnis Telkom Indonesia, dalam konteks bisnis tidak apa-apa," ujar Abra.

BIsnis Menjanjikan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK