BPS Yakin Ekonomi Kembali ke Zona Positif Kuartal II 2021

CNN Indonesia | Selasa, 15/06/2021 20:15 WIB
BPS meyakini kinerja pertumbuhan dalam negeri yang sempet berada di zona negatif belakangan ini akan kembali ke arah positif karena tertopang kinerja ekspor. BPS meyakini kinerja pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang belakangan ini berada di zona negatif akan kembali positif berkat ekspor yang membaik . (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) meyakini kinerja pertumbuhan ekonomi dalam negeri akan positif pada kuartal II 2021 ini. Keyakinan didasarkan pada neraca perdagangan Indonesia yang mengalami surplus sebesar US$2,36 miliar secara bulanan (month to month/mtm) pada Mei 2021.

BPS meyakini surplus neraca perdagangan yang terjadi lima kali berturut-turut  pada 2021 ini bakal mendorong ekonomi. Ini mengingat kontribusi ekspor impor pada Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar 19 persen-21 persen .

"Dan kalau nanti ditambah dengan performa konsumsi pemerintah, investasi, dan konsumsi rumah tangga, saya yakin ekonomi Indonesia di kuartal II 2021 akan masuk ke zona positif," ujar Kepala BPS Suhariyanto saat rilis data neraca perdagangan periode Mei 2021, Selasa (15/6).

Ia mengakui meskipun surplus, kinerja ekspor pada Mei 2021 sejatinya turun 10,25 persen secara bulanan dari US$18,49 miliar pada April menjadi US$16,60 miliar. Namun, ia memastikan penurunan tersebut dipicu faktor musiman yakni Ramadan dan Lebaran.


Namun, secara tahunan ekspor tetap meningkat tajam 58,76 persen dari Mei 2020 sebesar U$10,45 miliar.

"Saya tidak terlalu khawatir dengan penurunan ekspor secara bulanan. Karena pada April kemarin, memang ekspor kita tinggi dan juga nilai impor tinggi, karena setiap Ramadan dan Lebaran kegiatan pasti meningkat, kemudian dia akan melandai dan meningkat lagi. Jadi penurunan ekspor secara bulanan itu karena faktor seasonality," tuturnya.

[Gambas:Video CNN]

Dari sisi impor, ia menuturkan sepanjang Januari-Mei 2021 mencapai US$73,82 miliar atau naik 22,74 persen dari Januari-Mei yang US$60,15 miliar.

Meskipun, secara bulanan turun 12,16 persen dari US$16,20 miliar pada April 2021 menjadi US$14,23 miliar pada Mei 2021.

Apabila ditengok, ia menuturkan impor bahan baku/penolong dan barang modal naik pada Mei ini secara tahunan masing-masing 79,11 persen dan 35,28 persen. Meskipun, secara bulanan turun masing-masing turun 11,60 persen dan minus 14,09 persen.

Ia mengatakan kenaikan impor secara tahunan menandakan geliat industri manufaktur di Indonesia mulai bangkit.

"Ini menunjukkan bahwa bergeraknya manufaktur di Indonesia didukung oleh bahan baku baik dari domestik maupun luar negeri. Demikian juga barang modal yang nanti akan pengaruh pada komponen PMTB atau investasi," katanya.

Secara tahunan, sumbangan impor terbesar dari sektor minyak dan gas adalah impor minyak mentah. BPS mencatat nilai impor minyak mentah melonjak 303,92 persen. Ini sejalan dengan peningkatan volume impor minyak mentah sebesar 26,28 persen.

"Jadi volumenya hanya naik 26,28 persen, tapi nilainya naik 303,29 persen karena ada kenaikan harga minyak mentah global yoy yang tinggi sekali," katanya.

Secara total, impor migas pada Mei terbang 213,6 persen secara tahunan dari US$660 juta menjadi US$2,06 miliar pada Mei 2021.

Selain impor minyak mentah, BPS mencatat nilai impor hasil minyak juga naik signifikan 288,4 persen. Demikian juga impor gas naik 43,16 persen.

"Untuk menjadi catatan bahwa impor migas ini tidak seluruhnya untuk konsumsi tapi sebagian kita gunakan sebagai bahan baku," imbuhnya.

Pada Mei 2021, Indonesia mengalami surplus dagang terhadap AS sebesar US$1,08 miliar, Filipina US$539,2 juta dan Malaysia US$444,2 juta.

Sebaliknya, perdagangan Indonesia mengalami defisit terhadap China senilai US$512,5 juta, Australia US$332,6 juta, dan Korea Selatan US$185,5 juta.

(agt/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK