Menkeu Era Soeharto Tak Percaya Proyeksi Ekonomi Pemerintah

CNN Indonesia | Jumat, 23/07/2021 19:14 WIB
Fuad Bawazier mengungkapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dari pemerintah kerap lebih tinggi dari realisasinya. Fuad Bawazier mengungkapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dari pemerintah kerap lebih tinggi dari realisasinya. (Detikcom/Lamhot Aritonang).
Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan menteri keuangan era Presiden Soeharto Fuad Bawazier mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi pemerintah kerap kali meleset terlampau tinggi dari realisasinya. Tak ayal, ia mengaku tidak terlalu berpatokan pada angka-angka ramalan pertumbuhan ekonomi versi pemerintah.

"Jujur saja, saya semakin tidak percaya pada prediksi angka pertumbuhan ekonomi versi petinggi negeri yang hampir selalu terlalu tinggi dan kemudian hampir selalu juga salah meski sudah berkali-kali diralat. Tapi, yang terakhir angkanya masih salah, konsisten salah ketinggian," ujarnya dalam diskusi secara daring, Jumat (23/7).

Misalnya, pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 3,7 persen sampai 4,5 persen sepanjang tahun ini. Angka ini merupakan revisi kedua dari target semula 4,5 persen-5,5 persen.


Menurutnya, ramalan pertumbuhan ekonomi yang terlampau optimis itu merupakan bentuk propaganda untuk menghimpun kepercayaan masyarakat dan investor.

"Lebih kepada upaya propaganda saya lihat, bisa untuk tujuan politis, menjaga nilai tukar rupiah, menjaga optimisme masyarakat, investor, dan lain-lain," imbuhnya.

Namun, menurut Fuad, proyeksi itu tidak didukung kondisi riil di lapangan di mana UMKM mulai menjerit, sektor pariwisata banyak yang tumbang, dan sebagainya. Oleh karenanya, ia memprediksi realisasi pertumbuhan ekonomi jauh dari perkiraan pemerintah.

Untuk prediksinya, ia lebih setuju pada angka yang disampaikan oleh Director Political Economy & Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan yakni 2 persen pada kuartal II 2021, lalu minus 0,5 persen pada kuartal III dan IV 2021.

"Saya menduga pertumbuhan ekonomi itu akan turun jauh daripada prediksi pemerintah karena indikasinya pertumbuhan kredit 2021 saya kira paling tinggi paling sepersen," ujarnya.

Sepakat, Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal memprediksi target pertumbuhan ekonomi pemerintah pada tahun ini tidak akan tercapai. Proyeksinya, pertumbuhan ekonomi mentok di angka 3 persen sepanjang tahun.

"Pada April kami sudah prediksi di 2021 ini hanya 3 persen-4 persen selalu kami bilang begitu. Dengan lonjakan kasus kami memang masih berada pada range itu tapi sekarang lebih mengarah ke 3 persen, tapi belum rendah dari itu," katanya.

Ia menuturkan dua alasan pertumbuhan ekonomi masih berada di level 3 persen meskipun ada PPKM darurat. Pertama, basis pertumbuhan ekonomi 2020 lalu sangat rendah yakni minus 2,07 persen.

"Dengan basis yang dalam untuk kemudian tumbuh lebih positif kemungkinannya lebih besar," katanya.

Kedua, ekspor Indonesia mengalami lonjakan pesat ditopang oleh kenaikan harga komoditas. Sebaliknya, impor diprediksi turun karena PPKM darurat sehingga sejumlah industri manufaktur tidak beroperasi maksimal.

"Ini menciptakan gap yang makin lebar antara ekspor dan impor, sehingga net ekspor besar ini meredam kontraksi yang terjadi pada konsumsi rumah tangga," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK