Jelang kemerdekaan RI, jutaan angkatan kerja harus 'jungkir balik' mencari kerja karena pandemi corona telah 'menghapus' pekerjaan mereka. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --
Panggung megah, gemerlap sorot lampu, dan riuh tepuk tangan penonton tak lagi dirasakan Andes (30 tahun). Gerakan penuh energi dan semangat yang selalu mewarnai hidup pekerja seni itu kini menghilang.
Pasalnya, pandemi corona yang telah menyebar luas di dunia dan juga Indonesia selama beberapa bulan belakangan ini turut berdampak pula pada mata pencariannya. Andes harus putar haluan supaya periuk nasinya tetap bisa terisi. Bila dulu tampil di panggung, kini menantang matahari mengirim paket hingga mengurus kolam ikan di sawah.
"Pastinya sangat ingin tampil lagi, nerima job secara normal, supaya kebutuhan sehari-hari terpenuhi lagi," tuturnya kepada CNNIndonesia.com belum lama ini.
Andes merupakan salah satu penari tradisional di Sanggar Bale Seni Ciwasiat, Pandeglang, Banten. Sejak bergabung pada 2009, ia telah melanglang buana memperkenalkan kesenian Indonesia ke Belanda, Australia, dan Malaysia.
Dalam setahun, ia bersama sekitar 30 rekan di Bale Seni Ciwasiat bisa tampil bergiliran kurang lebih 70 kali. Para pekerja seni itu memeriahkan berbagai acara mulai dari upacara adat, hajatan, hingga tampil di layar TV nasional.
"Setahun, bisa dicatat kurang lebih 70 kali pentas, ada yang sehari dua, sehari tiga. Kalau puasa lebih ramai, bisa tampil di mal, di TV, mengisi konser-konser begitu," katanya.
Tetapi, keadaannya berubah 360 derajat ketika pandemi melanda. Pembatasan sosial membuat pekerja seni seperti Andes kehilangan pekerjaan lantaran pemerintah melarang keramaian publik demi menekan penularan virus.
Tak pelak, tidak ada pundi-pundi penghasilan masuk ke kantongnya. Padahal, sebelum pandemi ia bisa mengantongi Rp200 ribu hingga Rp250 ribu sekali tampil mengisi acara. Dalam sebulan ia bisa tampil delapan sampai sepuluh kali.
"Sekarang, sebulan paling cuma sekali, dua kali, itu juga pemainnya enggak full," tuturnya.
Demi bertahan, Andes pun menjadi kurir paket. Ia mengantarkan baju dari bisnis rintisan kawannya di Pandeglang ke Serang, dan sebaliknya. Meski hasilnya tidak sebanding dengan perjalanan satu jam yang harus ditempuh, namun ia mengaku bersyukur masih ada rezeki.
Satu kali pengantaran, ia bisa mengantongi Rp120 ribu-Rp150 ribu.
"Seminggu kadang dua kali, kadang tiga kali. Lumayan buat sehari-hari, ada buat jajan, buat makan, apa aja sebenarnya. Freelance begitulah," ujarnya.
Tak berhenti sebagai kurir, Andes mencoba semua peluang yang ada. Setelah PPKM darurat, ia mulai usaha budi daya ikan konsumsi dengan tiga orang teman pekerja seni yang juga kehilangan sumber nafkahnya.
Ia menyadari tidak selamanya bisa bergantung pada penghasilan kurir baju. Sebab, penjualan baju pun tidak menentu di tengah pandemi.
"Setelah PPKM darurat bingung enggak ngapa-ngapain, ya sudah usaha pelihara ikan konsumsi. Modalnya, dari tabungan sedikit ada sekitar Rp1,5 juta," ujarnya.
Mereka menyewa lahan di area sawah, sehingga sistem pendapatannya bagi hasil dengan pemilik lahan. Maklum, mereka belum memiliki kecukupan modal untuk membeli tanah.
Dengan modal yang dimiliki, mereka telah membudidayakan 1.500 benih ikan nila dan 2.000-3.000 benih ikan mas. Harapannya, mereka bisa panen 4 bulan-5 bulan mendatang.
"Sambil nunggu ada job, ya itu sampingannya pelihara ikan. Mudah-mudahan kalau dilonggarkan (PPKM level 4) ada saja kerjaan," katanya.
Setali tiga uang dengan Andes, pengalaman yang serupa pun dialami oleh Bianca (bukan nama sebenarnya). Jika Andes merupakan pekerja seni, Bianca merupakan pekerja kantoran di sebuah startup di ibu kota.
Sayangnya, pandemi merenggut pekerjaan Bianca satu-satunya. Juni lalu, sebuah email masuk ke inbox-nya. Ia menyangka email tersebut merupakan undangan meeting rutin. Namun, harapannya pupus ketika membaca isi email tersebut.
"Bakal ada restrukturisasi perusahaan karena kondisi keuangan lagi tidak bagus. Jadi harus ada yang di PHK," ujarnya kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Dia tak menyangka setelah 1,5 tahun pandemi akhirnya giliran kantornya yang terkena imbas. Pasalnya, sejak awal tidak ada informasi sama sekali soal masalah keuangan di kantor.
"Dibilangnya baik-baik aja. Ternyata di tim lain kerjaan semakin sedikit karena klien semakin berkurang," kisahnya.
Perusahaan rintisan dengan kisaran karyawan 70 orang tersebut terpaksa melepas 12 karyawannya. Bianca sempat merasa bingung karena tidak ada penjelasan lebih lanjut terkait alasan mengapa dirinya yang harus terkena PHK.
"Kesel. Tapi ya sudahlah mau gimana lagi," paparnya.
Sejak kena PHK, Bianca kini hanya bisa pasrah dan terus mencari kerja demi mengisi pundi-pundi keuangannya. Ia pun sadar mencari pekerjaan di tengah pandemi ini akan menjadi tantangan tersendiri karena harus bersaing dengan ribuan orang lainnya yang bernasib sama dengannya.
Andes dan Bianca merupakan dua di antara 29,12 juta penduduk usia kerja yang terdampak pandemi covid-19, berdasarkan data BPS per Agustus 2020. Perayaan kemerdekaan yang sebentar lagi datang, tampaknya belum bisa membawa kemerdekaan hidup bagi mereka.
Pasalnya, pada periode itu, jumlah pengangguran justru naik 2,67 juta menjadi 9,77 juta orang. Sejalan dengan itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) bertambah menjadi 7,07 persen. Angka ini merupakan jumlah pengangguran tertinggi selama pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak 2014 lalu.
Padahal, pada Februari 2020 jumlah pengangguran bisa ditekan ke level 6,88 juta orang, dengan TPT 4,99 persen. Data itu merupakan posisi TPT terendah selama kepemimpinan Jokowi.
Jelang kemerdekaan RI, jutaan angkatan kerja harus 'jungkir balik' mencari kerja karena pandemi corona telah 'menghapus' pekerjaan mereka. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi).
Selama Jokowi memimpin, jumlah pengangguran rata-rata berjumlah 7 juta orang, dengan TPT di kisaran 5 persen. Jumlah pengangguran sempat berada di bawah 7 juta orang, yakni pada Februari 2018 sebanyak 6,9 juta, Februari 2019 mencapai 6,82 juta, dan Februari 2020 yakni 6,88 juta.
Sayangnya, capaian tersebut tidak bisa dipertahankan karena pandemi covid-19. Namun, sejalan dengan pemulihan ekonomi, jumlah pekerja terdampak pandemi berkurang 10,02 juta orang menjadi 19,10 juta pada Februari 2021.
Sementara, jumlah pengangguran juga berkurang menjadi 8,75 juta, dengan TPT 6,26 persen.
Sebelumnya, Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin menyatakan permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia saat ini memang semakin kompleks. Sebab, angka pengangguran di Indonesia tinggi, sedangkan di sisi lain tingkat daya saing atau produktivitas masih rendah.
"Persoalan ketenagakerjaan saat ini semakin kompleks," ungkapnya beberapa waktu lalu.
Menurut Wapres, permasalahan ketenagakerjaan diperparah dengan pandemi covid-19. Data Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan 19,1 juta penduduk usia kerja terdampak pandemi covid-19. Sementara itu, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 8,75 juta orang di Februari 2021.
"Persoalan tersebut ditambah pula dengan pertumbuhan angkatan kerja baru yang cenderung terus meningkat setiap tahun, serta minimnya penduduk usia angkatan kerja yang siap pakai atau pernah mengikuti pelatihan kerja, sehingga menyebabkan terjadinya mismatched skill," imbuh dia.
Selain itu, persoalan ketenagakerjaan disebabkan oleh ketidaksiapan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia untuk beradaptasi terhadap perubahan dan disrupsi teknologi.
Oleh sebab itu, lanjutnya, pemerintah telah menetapkan pembangunan SDM sebagai program prioritas nasional, karena kualitas SDM menjadi kunci memenangkan persaingan global.
"Tenaga kerja yang berkualitas akan meningkatkan daya saing suatu negara terhadap negara-negara lainnya, baik dari sisi daya tarik investasi maupun produk yang dihasilkan," terang dia.
Panggung megah, gemerlap sorot lampu, dan riuh tepuk tangan penonton tak lagi dirasakan Andes (30 tahun). Gerakan penuh energi dan semangat yang selalu mewarnai hidup pekerja seni itu kini menghilang.
Pasalnya, pandemi corona yang telah menyebar luas di dunia dan juga Indonesia selama beberapa bulan belakangan ini turut berdampak pula pada mata pencariannya. Andes harus putar haluan supaya periuk nasinya tetap bisa terisi. Bila dulu tampil di panggung, kini menantang matahari mengirim paket hingga mengurus kolam ikan di sawah.
"Pastinya sangat ingin tampil lagi, nerima job secara normal, supaya kebutuhan sehari-hari terpenuhi lagi," tuturnya kepada CNNIndonesia.com belum lama ini.
Andes merupakan salah satu penari tradisional di Sanggar Bale Seni Ciwasiat, Pandeglang, Banten. Sejak bergabung pada 2009, ia telah melanglang buana memperkenalkan kesenian Indonesia ke Belanda, Australia, dan Malaysia.
Dalam setahun, ia bersama sekitar 30 rekan di Bale Seni Ciwasiat bisa tampil bergiliran kurang lebih 70 kali. Para pekerja seni itu memeriahkan berbagai acara mulai dari upacara adat, hajatan, hingga tampil di layar TV nasional.
"Setahun, bisa dicatat kurang lebih 70 kali pentas, ada yang sehari dua, sehari tiga. Kalau puasa lebih ramai, bisa tampil di mal, di TV, mengisi konser-konser begitu," katanya.
Tetapi, keadaannya berubah 360 derajat ketika pandemi melanda. Pembatasan sosial membuat pekerja seni seperti Andes kehilangan pekerjaan lantaran pemerintah melarang keramaian publik demi menekan penularan virus.
Tak pelak, tidak ada pundi-pundi penghasilan masuk ke kantongnya. Padahal, sebelum pandemi ia bisa mengantongi Rp200 ribu hingga Rp250 ribu sekali tampil mengisi acara. Dalam sebulan ia bisa tampil delapan sampai sepuluh kali.
"Sekarang, sebulan paling cuma sekali, dua kali, itu juga pemainnya enggak full," tuturnya.
Demi bertahan, Andes pun menjadi kurir paket. Ia mengantarkan baju dari bisnis rintisan kawannya di Pandeglang ke Serang, dan sebaliknya. Meski hasilnya tidak sebanding dengan perjalanan satu jam yang harus ditempuh, namun ia mengaku bersyukur masih ada rezeki.
Satu kali pengantaran, ia bisa mengantongi Rp120 ribu-Rp150 ribu.
"Seminggu kadang dua kali, kadang tiga kali. Lumayan buat sehari-hari, ada buat jajan, buat makan, apa aja sebenarnya. Freelance begitulah," ujarnya.
Tak berhenti sebagai kurir, Andes mencoba semua peluang yang ada. Setelah PPKM darurat, ia mulai usaha budi daya ikan konsumsi dengan tiga orang teman pekerja seni yang juga kehilangan sumber nafkahnya.
Ia menyadari tidak selamanya bisa bergantung pada penghasilan kurir baju. Sebab, penjualan baju pun tidak menentu di tengah pandemi.
"Setelah PPKM darurat bingung enggak ngapa-ngapain, ya sudah usaha pelihara ikan konsumsi. Modalnya, dari tabungan sedikit ada sekitar Rp1,5 juta," ujarnya.
Mereka menyewa lahan di area sawah, sehingga sistem pendapatannya bagi hasil dengan pemilik lahan. Maklum, mereka belum memiliki kecukupan modal untuk membeli tanah.
Dengan modal yang dimiliki, mereka telah membudidayakan 1.500 benih ikan nila dan 2.000-3.000 benih ikan mas. Harapannya, mereka bisa panen 4 bulan-5 bulan mendatang.
"Sambil nunggu ada job, ya itu sampingannya pelihara ikan. Mudah-mudahan kalau dilonggarkan (PPKM level 4) ada saja kerjaan," katanya.
Setali tiga uang dengan Andes, pengalaman yang serupa pun dialami oleh Bianca (bukan nama sebenarnya). Jika Andes merupakan pekerja seni, Bianca merupakan pekerja kantoran di sebuah startup di ibu kota.
Sayangnya, pandemi merenggut pekerjaan Bianca satu-satunya. Juni lalu, sebuah email masuk ke inbox-nya. Ia menyangka email tersebut merupakan undangan meeting rutin. Namun, harapannya pupus ketika membaca isi email tersebut.
"Bakal ada restrukturisasi perusahaan karena kondisi keuangan lagi tidak bagus. Jadi harus ada yang di PHK," ujarnya kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Dia tak menyangka setelah 1,5 tahun pandemi akhirnya giliran kantornya yang terkena imbas. Pasalnya, sejak awal tidak ada informasi sama sekali soal masalah keuangan di kantor.
"Dibilangnya baik-baik aja. Ternyata di tim lain kerjaan semakin sedikit karena klien semakin berkurang," kisahnya.
Perusahaan rintisan dengan kisaran karyawan 70 orang tersebut terpaksa melepas 12 karyawannya. Bianca sempat merasa bingung karena tidak ada penjelasan lebih lanjut terkait alasan mengapa dirinya yang harus terkena PHK.
"Kesel. Tapi ya sudahlah mau gimana lagi," paparnya.
Sejak kena PHK, Bianca kini hanya bisa pasrah dan terus mencari kerja demi mengisi pundi-pundi keuangannya. Ia pun sadar mencari pekerjaan di tengah pandemi ini akan menjadi tantangan tersendiri karena harus bersaing dengan ribuan orang lainnya yang bernasib sama dengannya.
Jelang HUT kemerdekaan RI ke-76, angka pengangguran justru meningkat. Peningkatan dipicu pandemi corona. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono),
Andes dan Bianca merupakan dua di antara 29,12 juta penduduk usia kerja yang terdampak pandemi covid-19, berdasarkan data BPS per Agustus 2020. Perayaan kemerdekaan yang sebentar lagi datang, tampaknya belum bisa membawa kemerdekaan hidup bagi mereka.
Pasalnya, pada periode itu, jumlah pengangguran justru naik 2,67 juta menjadi 9,77 juta orang. Sejalan dengan itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) bertambah menjadi 7,07 persen. Angka ini merupakan jumlah pengangguran tertinggi selama pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak 2014 lalu.
Padahal, pada Februari 2020 jumlah pengangguran bisa ditekan ke level 6,88 juta orang, dengan TPT 4,99 persen. Data itu merupakan posisi TPT terendah selama kepemimpinan Jokowi.
Jelang kemerdekaan RI, jutaan angkatan kerja harus 'jungkir balik' mencari kerja karena pandemi corona telah 'menghapus' pekerjaan mereka. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi).
Selama Jokowi memimpin, jumlah pengangguran rata-rata berjumlah 7 juta orang, dengan TPT di kisaran 5 persen. Jumlah pengangguran sempat berada di bawah 7 juta orang, yakni pada Februari 2018 sebanyak 6,9 juta, Februari 2019 mencapai 6,82 juta, dan Februari 2020 yakni 6,88 juta.
Sayangnya, capaian tersebut tidak bisa dipertahankan karena pandemi covid-19. Namun, sejalan dengan pemulihan ekonomi, jumlah pekerja terdampak pandemi berkurang 10,02 juta orang menjadi 19,10 juta pada Februari 2021.
Sementara, jumlah pengangguran juga berkurang menjadi 8,75 juta, dengan TPT 6,26 persen.
Sebelumnya, Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin menyatakan permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia saat ini memang semakin kompleks. Sebab, angka pengangguran di Indonesia tinggi, sedangkan di sisi lain tingkat daya saing atau produktivitas masih rendah.
"Persoalan ketenagakerjaan saat ini semakin kompleks," ungkapnya beberapa waktu lalu.
Menurut Wapres, permasalahan ketenagakerjaan diperparah dengan pandemi covid-19. Data Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan 19,1 juta penduduk usia kerja terdampak pandemi covid-19. Sementara itu, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 8,75 juta orang di Februari 2021.
"Persoalan tersebut ditambah pula dengan pertumbuhan angkatan kerja baru yang cenderung terus meningkat setiap tahun, serta minimnya penduduk usia angkatan kerja yang siap pakai atau pernah mengikuti pelatihan kerja, sehingga menyebabkan terjadinya mismatched skill," imbuh dia.
Selain itu, persoalan ketenagakerjaan disebabkan oleh ketidaksiapan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia untuk beradaptasi terhadap perubahan dan disrupsi teknologi.
Oleh sebab itu, lanjutnya, pemerintah telah menetapkan pembangunan SDM sebagai program prioritas nasional, karena kualitas SDM menjadi kunci memenangkan persaingan global.
"Tenaga kerja yang berkualitas akan meningkatkan daya saing suatu negara terhadap negara-negara lainnya, baik dari sisi daya tarik investasi maupun produk yang dihasilkan," terang dia.