Integrasi Pelindo dan Harapan Baru Penurunan Biaya Logistik
Agus Triyono | CNN Indonesia
Rabu, 15 Sep 2021 07:13 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pelindo I,II,III dan IV akan digabung jadi I. Penggabungan ditargetkan selesai Oktober nanti. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Djonet Sugiarto).
Jakarta, CNN Indonesia --
Masih butuh banyak perbaikan. Begitulah cerita para pengusaha atas kondisi logistik di dalam negeri kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Untuk di sektor kelautan misalnya, Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto mengatakan perbaikan salah satunya perlu dilakukan terhadap biaya pengiriman barang melalui laut.
"Rp30 juta per kontainer kalau mengirim barang dari Jakarta ke Sulawesi," katanya.
Pengusaha logistik Zaldy Ilham Masita yang pernah juga menjabat sebagai ketua ALI mengatakan biaya pengiriman barang di dalam negeri memang lebih mahal jika dibandingkan ke luar negeri. Untuk ke Singapura saja misalnya, secara kasar selisih harga pengiriman mencapai 30 persen.
"Kalau (Jakarta) ke Makassar sama Jakarta ke Singapura, ke Makassar lebih mahal 30 persen untuk non tol laut," katanya.
Tak hanya mahal, Kuntoro Alfred Kusno seorang pengusaha perikanan mengatakan logistik di dalam negeri juga masih membutuhkan waktu. Saat berkeluh kesah kepada Presiden Jokowi dalam dialog presiden bersama dengan pengusaha ikan dan penyedia jasa pelayaran beberapa waktu lalu, ia mengatakan untuk mengirim ikan cakalang ke Fukuoka, Jepang, waktu yang dibutuhkan 35 hari.
Maklum, sebelum ekspor, dia harus memesan kontainer 40 feet dari Surabaya terlebih dulu. Waktu yang dibutuhkan paling tidak dua minggu.
Setelah dapat kontainer pun, pengiriman tak bisa dilakukan dengan cepat. Pasalnya, pengiriman harus melalui Surabaya atau Jakarta.
"Logistik ini memang masalah. Mungkin bapak lihat di Maluku dan Ambon tidak banyak investor di sektor perikanan. Karena kita alami biaya logistik tinggi. Makanya perlu new port terintegrasi semua supaya bisa memudahkan segalanya," katanya seperti dikutip dari video yang diunggah Sekretariat Presiden pada 25 Maret lalu.
Mahendra mengatakan tingginya biaya logistik di sektor kelautan itu salah satunya dipicu oleh ketidakseimbangan muatan kapal. Selama ini, kapal yang mengirimkan barang dari kawasan barat Indonesia ke timur selalu mengalami masalah dengan keseimbangan volume angkut mereka.
Ketika berlayar ke timur, muatan bisa penuh. Tapi sebaliknya dari timur ke barat, muatan kurang maksimal.
"Akibatnya, biaya kontainer pulang balik dibebankan pada saat berangkat, supaya biayanya ketutup. Itu yang membuat biayanya masih mahal," katanya.
Masalah logistik itu tidak dipungkiri oleh salah satu otoritas pengelola pelabuhan di dalam negeri, Pelindo II. Mengutip data Bank Dunia, Dirut Pelindo II Arif Suhartono mengatakan biaya logistik di dalam negeri memang mencapai 23 persen dari total PDB.
Biaya disumbang oleh inventory sebesar 8,9 persen, darat 8,5 persen dan laut 2,8 persen, administrasi 2,7 persen dan lainnya 0,8 persen.
Berkaitan dengan kontribusi sektor laut, pelabuhan dan pengapalan, Arif mengatakan persentase kontribusinya terhadap total biaya logistik memang kecil; hanya 1,4 persen dari 23 persen.
Tapi katanya, permasalahan yang terjadi di sektor laut, khususnya pelabuhan bisa berdampak luas terhadap biaya logistik.
"Ketidakperforman pelabuhan akan mendorong cost logistic di darat," katanya dalam rapat kerja dengan komisi VI DPR akhir Juni lalu.
Ia menambahkan salah satu faktor pemicu biaya logistik tinggi di sektor laut adalah kondisi pelabuhan di dalam negeri yang belum seragam. Menurutnya, pelabuhan di dalam negeri sudah banyak yang bagus.
Tapi kinerja bagus tersebut tertutup oleh pelayanan pelabuhan lain yang tak optimal. Itu akibat terpecahnya pengelolaan pelabuhan Pelindo dalam empat entitas perusahaan berbeda; Pelindo I, II, III, dan IV.
Ia menyebut terpisahnya Pelindo itu memang tidak menghalangi komunikasi dan koordinasi pengelolaan pelabuhan. Tapi, perbedaan kapasitas masing-masing Pelindo, baik dari sisi keuangan, SDM maupun pengalaman yang tidak setara menyebabkan operasional pelabuhan menjadi tidak terstandar.
Dan masalah itulah yang menjadi beban bagi logistik di dalam negeri.
"(Karena) Kalau bicara soal kinerja logistik dari sisi pelabuhan, kita tidak bisa bicara single port, harus network. Jadi meski pelabuhan A bagus tapi masuk ke B sebagai pasangannya tidak optimal ya tentunya secara network tidak akan optimal," katanya.
Nah, agar masalah itu tidak berlanjut, Arif mengatakan pemerintah bersama dengan pemangku kepentingan terkait saat ini tengah berusaha melebur Pelindo I,II,III, dan IV menjadi satu.
Penggabungan yang ditargetkan bisa dicapai pada Oktober 2021 itu diharapkan bisa membuat kontrol pengelolaan lebih terpusat sehingga pelayanan pelabuhan dari timur sampai barat Indonesia lebih terstandar dan optimal.
"Diharapkan juga capex lebih optimal karena skalanya lebih besar, dan SDM kita bisa standarkan dan IT bisa single IT," katanya.
Penggabungan Pelindo menjadi satu sebenarnya bukan cerita baru. Cerita ini sempat muncul pada awal 2000-an.
Menteri BUMN era Presiden SBY, Soegiharto pernah membuka wacana untuk mengurangi jumlah BUMN yang saat itu mencapai 158 menjadi tinggal 85 dengan melakukan merger.
Salah satu yang katanya siap melakukan merger adalah Pelindo. Namun wacana itu kemudian hilang bak ditelan bumi.
Wacana dikemukakan lagi oleh Presiden Jokowi pada Mei 2015 lalu. Saat memberikan pengarahan pada jajarannya pada acara revitalisasi alur pelayaran barat Surabaya dan Terminal Teluk Lamong, Jokowi menyebut integrasi diperlukan supaya terbentuk satu sistem logistik nasional yang bisa dioperasikan dari satu tempat sehingga lebih terkoordinasi dengan baik.
Setelah itu, wacana integrasi Pelindo terus digodok.
"Ini memang rencana panjang. Kebetulan saya asli Pelindo. Sejak saya masuk, bicara terkait integrasi sudah ada. Tapi Alhamdulillah, belum berhasil," kata Arif.
Arif mengatakan proses integrasi Pelindo nantinya dilakukan dalam tiga fase. Pertama, akan dilakukan pada 2021-2022 ini yang fokusnya pada standarisasi pola operasi dan komersil.
Kedua, ekspansi bisnis dan kemitraan. Fase ini akan dilakukan pada 2023-2024. Dalam fase ini nantinya Pelindo hasil merger akan bergerak dan bersinergi dengan BUMN lain dalam mengelola pelabuhan.
Fase ketiga yang akan dilakukan pada 2025, mengintegrasikan ekosistem dan melakukan ekspansi usaha baik regional maupun internasional.
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan karakteristik geografi Indonesia yang berbentuk negara kepulauan memang membuat integrasi pelindo menjadi sebuah keharusan. Menurutnya, kalau Pelindo tetap dibiarkan terbagi dalam empat entitas, pemerintah akan kesulitan untuk merencanakan alur dan investasi yang bisa mendukung upaya penurunan biaya logistik nasional.
Ia yakin kalau jadi dilakukan integrasi Pelindo bisa memberikan manfaat besar. Keyakinan didasarkan pada nilai aset hasil penggabungan Pelindo yang ia perkirakan mencapai Rp112 triliun.
Penggabungan juga membuka ruang bagi Pelindo untuk go global.
"Dari kacamata persaingan global, sulit bersaing dengan 4 (Pelindo) ini. Kita tak memiliki daya tawar terhadap shipping line global. Dengan penggabungan kami harap bisa masuk ke top ten global player di container port sehingga bisa bernegosiasi untuk menarik trafik internasional dengan global shipping partner yang lebih kuat," katanya.
Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menyambut positif rencana penggabungan Pelindo tersebut. Ketua DPP ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi berharap integrasi bisa membuat pengelolaan dan pelayanan di pelabuhan ke depan lebih terstandarisasi sehingga kinerja logistik bisa dibenahi.
"Standarisasi penting. Kalau bicara peti kemas, bagaimana standarisasi IT, kedalaman alur kapal, produktifitas layanan pengguna jasa dari Aceh sampai papua, termasuk jaminan bongkar muat, harus ada kejelasan. Makanya kami harap merger ini ini bisa membuat pelayanan lebih efektif dan efisen," katanya.
Harapan sama juga disampaikan Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara. Ia berharap merger bisa membuat sistem pelayanan angkutan barang di pelabuhan lebih terstandarisasi.
Dengan standar yang bagus itu, ia harapkan pelayanan bisa sama. Selain itu biaya dan waktu pelayanan juga ia harapkan bisa semakin seragam dan pasti.
Tak hanya itu, Bhima juga berharap merger bisa meningkatkan kapasitas Pelindo dalam mencari sumber pembiayaan untuk memperbaiki dan meningkatkan kapasitas pelabuhan. Khususnya, pelabuhan di Indonesia timur yang selama ini pelayanannya masih belum memadai.
Peningkatan kapasitas ia harapkan bisa meningkatkan minat investor untuk berinvestasi di kawasan timur.
"Jadi kalau ada kapasitas pelabuhan yang besar, kemudian volume barang meningkat itu akan menciptakan efisiensi. Sebenarnya gak perlu pelabuhan baru. Yang ada saja diperbesar kapasitasnya sehingga kapal logistik besar bisa masuk," katanya.
Namun demikian, Bhima mengingatkan upaya integrasi Pelindo dalam penurunan biaya logistik ini baru satu jalan yang harus dilalui. Agar upaya penurunan biaya logistik ke depan bisa semakin cepat, induk Pelindo hasil merger nantinya juga harus meningkatkan sinergi dengan pengelola moda transportasi lain di darat dan udara.
Ia berharap Pelindo sebagai lead bisa berkoordinasi dengan pengelola bandara dan angkutan darat dalam mengintegrasikan layanan angkutan barang sehingga biaya logistik bisa ditekan.
"Ini perlu kerja sama dan integrasi. Integrasi Pelindo ini baru satu dari sekian jalan yang harus dilalui untuk membenahi masalah logistik kita," katanya.
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis Jurnalistik Pelabuhan Indonesia Award 2021
Jakarta, CNN Indonesia --
Masih butuh banyak perbaikan. Begitulah cerita para pengusaha atas kondisi logistik di dalam negeri kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Untuk di sektor kelautan misalnya, Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto mengatakan perbaikan salah satunya perlu dilakukan terhadap biaya pengiriman barang melalui laut.
"Rp30 juta per kontainer kalau mengirim barang dari Jakarta ke Sulawesi," katanya.
Pengusaha logistik Zaldy Ilham Masita yang pernah juga menjabat sebagai ketua ALI mengatakan biaya pengiriman barang di dalam negeri memang lebih mahal jika dibandingkan ke luar negeri. Untuk ke Singapura saja misalnya, secara kasar selisih harga pengiriman mencapai 30 persen.
"Kalau (Jakarta) ke Makassar sama Jakarta ke Singapura, ke Makassar lebih mahal 30 persen untuk non tol laut," katanya.
Tak hanya mahal, Kuntoro Alfred Kusno seorang pengusaha perikanan mengatakan logistik di dalam negeri juga masih membutuhkan waktu. Saat berkeluh kesah kepada Presiden Jokowi dalam dialog presiden bersama dengan pengusaha ikan dan penyedia jasa pelayaran beberapa waktu lalu, ia mengatakan untuk mengirim ikan cakalang ke Fukuoka, Jepang, waktu yang dibutuhkan 35 hari.
Maklum, sebelum ekspor, dia harus memesan kontainer 40 feet dari Surabaya terlebih dulu. Waktu yang dibutuhkan paling tidak dua minggu.
Setelah dapat kontainer pun, pengiriman tak bisa dilakukan dengan cepat. Pasalnya, pengiriman harus melalui Surabaya atau Jakarta.
"Logistik ini memang masalah. Mungkin bapak lihat di Maluku dan Ambon tidak banyak investor di sektor perikanan. Karena kita alami biaya logistik tinggi. Makanya perlu new port terintegrasi semua supaya bisa memudahkan segalanya," katanya seperti dikutip dari video yang diunggah Sekretariat Presiden pada 25 Maret lalu.
Mahendra mengatakan tingginya biaya logistik di sektor kelautan itu salah satunya dipicu oleh ketidakseimbangan muatan kapal. Selama ini, kapal yang mengirimkan barang dari kawasan barat Indonesia ke timur selalu mengalami masalah dengan keseimbangan volume angkut mereka.
Ketika berlayar ke timur, muatan bisa penuh. Tapi sebaliknya dari timur ke barat, muatan kurang maksimal.
"Akibatnya, biaya kontainer pulang balik dibebankan pada saat berangkat, supaya biayanya ketutup. Itu yang membuat biayanya masih mahal," katanya.
Masalah logistik itu tidak dipungkiri oleh salah satu otoritas pengelola pelabuhan di dalam negeri, Pelindo II. Mengutip data Bank Dunia, Dirut Pelindo II Arif Suhartono mengatakan biaya logistik di dalam negeri memang mencapai 23 persen dari total PDB.
Biaya disumbang oleh inventory sebesar 8,9 persen, darat 8,5 persen dan laut 2,8 persen, administrasi 2,7 persen dan lainnya 0,8 persen.
Berkaitan dengan kontribusi sektor laut, pelabuhan dan pengapalan, Arif mengatakan persentase kontribusinya terhadap total biaya logistik memang kecil; hanya 1,4 persen dari 23 persen.
Tapi katanya, permasalahan yang terjadi di sektor laut, khususnya pelabuhan bisa berdampak luas terhadap biaya logistik.
"Ketidakperforman pelabuhan akan mendorong cost logistic di darat," katanya dalam rapat kerja dengan komisi VI DPR akhir Juni lalu.
Ia menambahkan salah satu faktor pemicu biaya logistik tinggi di sektor laut adalah kondisi pelabuhan di dalam negeri yang belum seragam. Menurutnya, pelabuhan di dalam negeri sudah banyak yang bagus.
Tapi kinerja bagus tersebut tertutup oleh pelayanan pelabuhan lain yang tak optimal. Itu akibat terpecahnya pengelolaan pelabuhan Pelindo dalam empat entitas perusahaan berbeda; Pelindo I, II, III, dan IV.
Ia menyebut terpisahnya Pelindo itu memang tidak menghalangi komunikasi dan koordinasi pengelolaan pelabuhan. Tapi, perbedaan kapasitas masing-masing Pelindo, baik dari sisi keuangan, SDM maupun pengalaman yang tidak setara menyebabkan operasional pelabuhan menjadi tidak terstandar.
Dan masalah itulah yang menjadi beban bagi logistik di dalam negeri.
"(Karena) Kalau bicara soal kinerja logistik dari sisi pelabuhan, kita tidak bisa bicara single port, harus network. Jadi meski pelabuhan A bagus tapi masuk ke B sebagai pasangannya tidak optimal ya tentunya secara network tidak akan optimal," katanya.
Nah, agar masalah itu tidak berlanjut, Arif mengatakan pemerintah bersama dengan pemangku kepentingan terkait saat ini tengah berusaha melebur Pelindo I,II,III, dan IV menjadi satu.
Penggabungan yang ditargetkan bisa dicapai pada Oktober 2021 itu diharapkan bisa membuat kontrol pengelolaan lebih terpusat sehingga pelayanan pelabuhan dari timur sampai barat Indonesia lebih terstandar dan optimal.
"Diharapkan juga capex lebih optimal karena skalanya lebih besar, dan SDM kita bisa standarkan dan IT bisa single IT," katanya.
Penggabungan Pelindo menjadi satu sebenarnya bukan cerita baru. Cerita ini sempat muncul pada awal 2000-an.
Menteri BUMN era Presiden SBY, Soegiharto pernah membuka wacana untuk mengurangi jumlah BUMN yang saat itu mencapai 158 menjadi tinggal 85 dengan melakukan merger.
Salah satu yang katanya siap melakukan merger adalah Pelindo. Namun wacana itu kemudian hilang bak ditelan bumi.
Wacana dikemukakan lagi oleh Presiden Jokowi pada Mei 2015 lalu. Saat memberikan pengarahan pada jajarannya pada acara revitalisasi alur pelayaran barat Surabaya dan Terminal Teluk Lamong, Jokowi menyebut integrasi diperlukan supaya terbentuk satu sistem logistik nasional yang bisa dioperasikan dari satu tempat sehingga lebih terkoordinasi dengan baik.
Setelah itu, wacana integrasi Pelindo terus digodok.
"Ini memang rencana panjang. Kebetulan saya asli Pelindo. Sejak saya masuk, bicara terkait integrasi sudah ada. Tapi Alhamdulillah, belum berhasil," kata Arif.
Ekonom menyebut integrasi Pelindo baru satu dari sekian jalan yang bisa dilakukan untuk membenahi biaya logistik di dalam negeri. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru).
Tiga Fase
Arif mengatakan proses integrasi Pelindo nantinya dilakukan dalam tiga fase. Pertama, akan dilakukan pada 2021-2022 ini yang fokusnya pada standarisasi pola operasi dan komersil.
Kedua, ekspansi bisnis dan kemitraan. Fase ini akan dilakukan pada 2023-2024. Dalam fase ini nantinya Pelindo hasil merger akan bergerak dan bersinergi dengan BUMN lain dalam mengelola pelabuhan.
Fase ketiga yang akan dilakukan pada 2025, mengintegrasikan ekosistem dan melakukan ekspansi usaha baik regional maupun internasional.
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan karakteristik geografi Indonesia yang berbentuk negara kepulauan memang membuat integrasi pelindo menjadi sebuah keharusan. Menurutnya, kalau Pelindo tetap dibiarkan terbagi dalam empat entitas, pemerintah akan kesulitan untuk merencanakan alur dan investasi yang bisa mendukung upaya penurunan biaya logistik nasional.
Ia yakin kalau jadi dilakukan integrasi Pelindo bisa memberikan manfaat besar. Keyakinan didasarkan pada nilai aset hasil penggabungan Pelindo yang ia perkirakan mencapai Rp112 triliun.
Penggabungan juga membuka ruang bagi Pelindo untuk go global.
"Dari kacamata persaingan global, sulit bersaing dengan 4 (Pelindo) ini. Kita tak memiliki daya tawar terhadap shipping line global. Dengan penggabungan kami harap bisa masuk ke top ten global player di container port sehingga bisa bernegosiasi untuk menarik trafik internasional dengan global shipping partner yang lebih kuat," katanya.
Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menyambut positif rencana penggabungan Pelindo tersebut. Ketua DPP ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi berharap integrasi bisa membuat pengelolaan dan pelayanan di pelabuhan ke depan lebih terstandarisasi sehingga kinerja logistik bisa dibenahi.
"Standarisasi penting. Kalau bicara peti kemas, bagaimana standarisasi IT, kedalaman alur kapal, produktifitas layanan pengguna jasa dari Aceh sampai papua, termasuk jaminan bongkar muat, harus ada kejelasan. Makanya kami harap merger ini ini bisa membuat pelayanan lebih efektif dan efisen," katanya.
Harapan sama juga disampaikan Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara. Ia berharap merger bisa membuat sistem pelayanan angkutan barang di pelabuhan lebih terstandarisasi.
Dengan standar yang bagus itu, ia harapkan pelayanan bisa sama. Selain itu biaya dan waktu pelayanan juga ia harapkan bisa semakin seragam dan pasti.
Tak hanya itu, Bhima juga berharap merger bisa meningkatkan kapasitas Pelindo dalam mencari sumber pembiayaan untuk memperbaiki dan meningkatkan kapasitas pelabuhan. Khususnya, pelabuhan di Indonesia timur yang selama ini pelayanannya masih belum memadai.
Peningkatan kapasitas ia harapkan bisa meningkatkan minat investor untuk berinvestasi di kawasan timur.
"Jadi kalau ada kapasitas pelabuhan yang besar, kemudian volume barang meningkat itu akan menciptakan efisiensi. Sebenarnya gak perlu pelabuhan baru. Yang ada saja diperbesar kapasitasnya sehingga kapal logistik besar bisa masuk," katanya.
Namun demikian, Bhima mengingatkan upaya integrasi Pelindo dalam penurunan biaya logistik ini baru satu jalan yang harus dilalui. Agar upaya penurunan biaya logistik ke depan bisa semakin cepat, induk Pelindo hasil merger nantinya juga harus meningkatkan sinergi dengan pengelola moda transportasi lain di darat dan udara.
Ia berharap Pelindo sebagai lead bisa berkoordinasi dengan pengelola bandara dan angkutan darat dalam mengintegrasikan layanan angkutan barang sehingga biaya logistik bisa ditekan.
"Ini perlu kerja sama dan integrasi. Integrasi Pelindo ini baru satu dari sekian jalan yang harus dilalui untuk membenahi masalah logistik kita," katanya.