ANALISIS

Bongkar Pasang Perseroan Pelat Merah Demi Holding BUMN Pangan

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Selasa, 21/09/2021 07:02 WIB
Pengamat menilai holding BUMN Pangan penting demi menghasilkan produk pangan yang bisa bersaing, terjamin kualitas dan harganya. Pengamat menilai holding BUMN Pangan penting demi menghasilkan produk pangan yang bisa bersaing, terjamin kualitas dan harganya. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adi Maulana).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana membentuk holding BUMN pangan. Holding ini akan dipimpin oleh PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) alias RNI.

Sementara itu, anggotanya yaitu PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) atau PPI, PT Bhanda Ghara Reksa (Persero), PT Sang Hyang Seri (Persero), PT Pertani (Persero), PT Perikanan Indonesia (Persero) atawa Perindo, PT Perikanan Nusantara (Persero) atau Perinus, PT Berdikari (Persero), PT Garam (Persero).

Pembentukan holding BUMN pangan terdiri dari beberapa tahap, yaitu yang sudah dimulai ialah pengubahan status perusahaan umum (perum) menjadi persero bagi Perindo. Selanjutnya, yakni penggabungan beberapa anggota holding dengan inti bisnis sama.


Kebetulan, Jokowi baru saja menyelesaikan tahap ini. Dia menerbitkan tiga peraturan pemerintah (PP) untuk menggabungkan Bhanda Ghara Reksa ke PPI, Pertani ke Sang Hyang Seri, dan Perinus ke Perindo.

"Penggabungan dari enam menjadi tiga BUMN pangan ini merupakan tahap kedua yang harus dilakukan sebagai proses persyaratan pembentukan holding BUMN pangan," ungkap Direktur Utama RNI Arief Prasetyo Adi dalam keterangan resmi, Senin (20/9).

Bersamaan dengan penggabungan, nantinya akan ada pengalihan keuangan dari perusahaan yang dilebur. Kemudian, setelah penggabungan, pemerintah akan melakukan tahap final, yaitu pembentukan holding BUMN pangan pada kuartal IV 2021.

Nantinya, Jokowi akan menerbitkan lagi satu PP terkait pembentukan holding ini. Dalam prosesnya, akan ada inbreng saham dengan proyeksi aset holding bakal mencapai Rp28 triliun.

Lantas, apa tujuan holding BUMN pangan? Seperti apa untung ruginya nanti?

Arief mengatakan holding BUMN pangan bertujuan untuk memperkuat sinergi antar perusahaan negara dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional, baik di sektor pertanian, perikanan, peternakan, dan lini pangan lainnya. Kemudian, memperkuat koordinasi antar BUMN di bidang pangan.

Selain itu, holding juga bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, nelayan, dan peternak yang diukur dari nilai tukar pangan. Diharapkan, holding pangan dapat meningkatkan kemitraan, menurunkan biaya distribusi dan logistik pangan, menstabilisasi harga pangan, meningkatkan akses pangan, hingga pengembangan teknologi pangan.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet ikut setuju dengan pembentukan holding BUMN pangan bila tujuan tersebut bisa dicapai oleh para perusahaan pelat merah. Sebab, ia menilai sinergi di bidang pangan ini memang mau tidak mau harus turut dilakukan oleh antar BUMN.

Harapannya, holding BUMN pangan di Indonesia bisa meniru kesuksesan China Oil and Foodstuffs Corporation (COFCO), holding pangan milik China.

"Salah satu pelajaran penting dari COFCO, unit usaha sangat terintegrasi mulai dari pengolahan dan produksi makanan, hingga rantai pasok perdagangannya," kata Yusuf kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/9).

Selain itu, menurutnya, diversifikasi unit bisnisnya sangat bervariasi, mulai produksi bahan pangan, transportasi hingga warehouse. Produk COFCO kemudian banyak digunakan oleh masyarakat lokal mereka.

Menurutnya, ketika pemerintah membentuk holding pangan, maka idealnya apa yang berhasil dilakukan COFCO bisa juga dicapai. Khususnya, bagian manfaat dari holding pangan ke masyarakat selaku konsumen.

"Harapannya holding pangan ini nantinya bisa menghasilkan produk pangan yang bisa bersaing dengan produk pangan dan beverage lainnya," tutur dia.

Dengan begitu, masyarakat semakin banyak memiliki opsi produk lokal hasil perusahaan nasional yang tentunya terjamin kualitas dan harganya.

Hal ini selanjutnya bisa menambah nilai kehadiran BUMN, sehingga semakin bersaing, bahkan kalau bisa turut merambah rantai pasok global.

Perlu Suntikan Modal

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK