Indonesia Akan Impor Garam 3,07 Juta Ton

CNN Indonesia | Jumat, 24/09/2021 20:36 WIB
Indonesia akan impor garam 3,07 juta ton tahun ini. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan impor dilakukan demi jamin ketersediaan garam nasional. Indonesia akan impor garam 3,07 juta ton tahun ini. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan impor dilakukan demi jamin ketersediaan garam nasional. Ilustrasi. (iStockphoto/chaofann).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kebutuhan garam nasional mencapai 4,6 juta ton pada 2021. Dari total tersebut, pemerintah menyepakati alokasi impor garam industri sebanyak 3,07 juta ton.

Agus menjelaskan sebanyak 1,5 juta ton garam akan dipenuhi dari produksi garam lokal. Rinciannya, 1,2 juta ton dari industri besar pengolahan garam dan 300 ribu ribu dari Industri Kecil Menengah (IKM).

"Untuk menjamin ketersediaan bahan baku garam bagi industri dalam negeri, pada 2021 telah disepakati alokasi impor komoditas pergaraman industri sebesar 3,07 juta ton," ungka Agus dalam Webinar National Webinar SBE UISC 2021 x FDEP: Industrialisasi Garam Nasional Berbasis Teknologi, Jumat (24/9).


Agus menjelaskan pihaknya memberikan izin impor garam untuk empat sektor usaha. Beberapa sektor itu, antara lain khlor alkali, aneka pangan, farmasi dan kosmetik, dan pengeboran minyak.

"Sektor industri lain di luar yang disebutkan tadi diminta untuk menggunakan bahan baku garam hasil produksi dalam negeri," kata Agus.

Ia menjelaskan pemerintah masih harus mengimpor garam karena beberapa faktor. Pertama, jumlah produksi lokal tak mampu memenuhi kebutuhan industri.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan jumlah produksi garam lokal hanya sebanyak 1,3 juta ton pada tahun lalu. Jumlahnya masih jauh dari kebutuhan garam nasional yang mencapai 4,6 juta ton.

[Gambas:Video CNN]

Kedua, kualitas garam lokal tak sepadan dengan kebutuhan industri. Menurut Agus, industri membutuhkan garam dengan spesifikasi cukup tinggi.

"Baik dari sisi kandungan NaCl maupun cemaran-cemaran logam yang cukup rendah," terang Agus.

Ketiga, kepastian pasokan garam. Industri melakukan produksi sepanjang tahun.

"Dengan demikian kontinuitas pasokan bahan baku sangat diperlukan," imbuh Agus.

Ia menambahkan bahwa manufaktur menjadi industri yang membutuhkan garam terbanyak, yakni 84 persen dari total kebutuhan garam nasional yang mencapai 4,6 juta.

Agus mencontohkan sektor khlor dan alkali yang merupakan turunan dari industri manufaktur membutuhkan garam 2,4 juta ton per tahun. Sektor khlor dan alkali menghasilkan produk petrokimia, pulp, dan kertas.

"Angka kebutuhan garam sebagai bahan baku dan bahan penolong bagi industri tentu terus meningkat seiring dengan adanya pertumbuhan industri pengguna garam sebesar 5-7 persen per tahun," pungkas Agus.

(aud/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK