Profil 7 BUMN yang Akan Dibubarkan Erick Thohir

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 24/09/2021 18:28 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir akan membubarkan 7 perusahaan pelat merah yang sudah lama tidak beroperasi. Berikut daftarnya. Menteri BUMN Erick Thohir akan membubarkan 7 perusahaan pelat merah yang sudah lama tidak beroperasi. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan 7 perusahaan pelat merah akan dibubarkan. Pasalnya, perusahaan negara tersebut sudah lama tidak beroperasi meski masih memiliki pekerja.

"Sekarang yang perlu ditutup tujuh (BUMN) yang sudah lama tidak beroperasi. Zalim kalau jadi pemimpin tidak memberikan kepastian," kata Erick kepada media, Kamis (23/9).

Namun, Erick belum memberikan penjelasan terperinci mengenai waktu pembubaran ketujuh BUMN tersebut. Berikut profil perusahaan yang akan dibubarkan.


1. PT Merpati Nusantara Airlines (Persero)

Dikutip dari berbagai sumber, maskapai penerbangan nasional ini didirikan pada 6 September 1962. Berkantor pusat di Surabaya, Merpati memiliki 39 armada dengan 84 tujuan dalam negeri.

Merpati pernah memiliki catatan merah dalam penerbangan seperti terperosoknya pesawat jenis MA-60 di Bandar Udara Haji Asan Sampit pada 2012, kecelakaan di Bandara El Tari Kupang pada 2013, hingga jatuhnya Xian MA60X ke laut pada 7 Mei 2011.

PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) sempat memberikan dana restrukturisasi hingga Rp663,99 miliar.

Sejak saat itu, Merpati sempat berhenti beroperasi pada 2014 dan dikabarkan kembali mengudara pada 2019. Hingga akhirnya, perusahaan akan dibubarkan oleh pemerintah.

2. PT Industri Gelas (Persero) atau Iglas

Perusahaan negara ini berdiri pada 29 Oktober 1956 dan bergerak di bidang pembuatan kemasan gelas. 

PPA sudah mengucurkan dana talangan sebesar Rp49,96 miliar dan pinjaman dana restrukturisasi Rp89,08 miliar.

Sebelum dibubarkan, Industri Gelas (Iglas) telah menyelesaikan hak eks karyawan dengan membayarkan 429 eks karyawannya, Senin (13/9). Ini merupakan bagian dari langkah restrukturisasi yang dilakukan PPA terhadap Iglas.

3. PT Istaka Karya (Persero)

Perusahaan bergerak dalam bidang konstruksi konsorsium dan didirikan pada 1979. Sebelumnya Istaka bernama Indonesian Consortium of Construction Industries (PT ICCI).

Sejumlah prestasi pernah membangun sejumlah infrastruktur seperti rumah sakit, jalan lintas, gedung perkantoran, flyover, hingga bendungan.

Ironinya, perusahaan ini justru mengalami masalah dan tidak membayarkan gaji karyawan hingga setahun lebih. Hingga PPA memberikan dana talangan senilai Rp62,44 miliar, namun belum ada kejelasannya.

4. PT Kertas Kraft Aceh (Persero) atau KKA

Perusahaan yang didirikan pada 1983 ini berfokus pada produksi kertas kantong semen. Pemerintah bahkan mengandalkan KKA untuk menciptakan swasembada kertas kantong dalam negeri.

Bahkan, Presiden Joko Widodo pernah bekerja di perusahaan ini, jauh sebelum menjadi pejabat negara.

Sayangnya, KKA harus 'dirawat' oleh PPA dengan memberikan dana talangan sebesar Rp51,34 miliar dan pinjaman dana restrukturisasi Rp141,61 miliar. Namun, hingga saat ini belum ada kelanjutan pembenahannya.

5. PT Industri Sandang Nusantara (Persero) atau ISN

ISN didirikan pada 1961 dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan sandang di Indonesia. Perusahaan ini berfokus pada produksi pemintalan benang dan pertenunan nasional yang memproduksi benang hingga garment.

Namun perusahaan ini justru menjadi 'pasien' PPA dengan menerima suntikan dana sebesar Rp26 miliar untuk bantuan keberlangsungan usaha.

6. PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero) atau PANN

Perusahaan ini didirikan pada 1974 sebagai wahana menyelenggarakan program investasi kapal niaga nasional. Namun, PANN juga pernah berkecimpung di usaha perhotelan sehingga, menurut Erick, tidak fokus pada sektor bisnisnya.

Erick pernah membongkar fakta terkait fakta yang mengejutkan publik lantaran PANN disebut hanya memiliki tujuh pegawai, dari direksi sampai komisaris.

7. PT Kertas Leces (Persero)

Pabrik ini berkedudukan di Leces, Probolinggo dan bergerak di bidang produksi kertas. Didirikan pada 1939, pabrik ini menjadi yang tertua kedua di Indonesia setelah Kertas Padalarang.

Pada 1940 Leces mampu memproduksi 10 ton kertas per hari dan menghasilkan kertas print yang memproses bahan baku jerami.

Perusahaan ini pernah mendapat suntikan dana talangan dari PPA senilai Rp38,5 miliar. Hingga kini, belum ada kejelasan dari proses penyehatan BUMN tersebut.

[Gambas:Video CNN]



(fry/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK