Asuransi perlu untuk memproteksi diri dan keluarga dari risiko. Namun, berapa hitungan idealnya membayar asuransi dari gaji? Ilustrasi. (Istockphoto/zimmytws).
Jakarta, CNN Indonesia --
Curhat artis sekaligus politikus Wanda Hamidah soal minimnya dana manfaat asuransi kesehatan Prudential Indonesia membuat produk asuransi jadi sorotan publik dalam beberapa waktu terakhir.
Padahal, manfaat asuransi itu tak pernah digunakannya selama 12 tahun menjadi peserta. Iuran yang ia bayarkan pun tak sedikit, dari awalnya Rp500 ribu, kemudian naik menjadi Rp750 ribu sampai Rp1 juta per bulan per peserta dengan total lima peserta asuransi.
Tetapi, ketika hendak digunakan untuk biaya operasi bernilai Rp50 juta sampai Rp60 juta, rupanya dana manfaat yang didapat cuma Rp10 juta saja. Fakta ini langsung membuat Wanda kecewa dan membagi kisahnya di unggahan Instagram pribadinya.
Kendati begitu, Pendiri sekaligus Direktur OneShildt Financial Planning Budi Raharjo mengatakan kasus Wanda bukan cerminan buruk bagi seseorang untuk tidak perlu memiliki asuransi. Sebab, menurutnya, manfaat asurnasi tetap besar bila perencanaannya matang dan digunakan dengan cermat.
"Karena asuransi salah satu fondasi keuangan seseorang, setelah penghasilan dan dana darurat. Apalagi, ketika terjadi hal emergency yang tidak bisa ditutup oleh penghasilan dan dana darurat, seperti meninggal dunia dan sakit parah," ucap Budi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (19/10).
Karena itu, kepemilikan asuransi tetap perlu, tapi bukan berarti semua jenis asuransi harus dimiliki. Ia mengatakan kepemilikan asuransi tetap harus menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan keuangan seseorang karena ada premi yang harus dibayar setiap bulannya.
Lalu, bagaimana cara memilih asuransi berdasarkan kebutuhan? Nah, beli sesuai prioritas, dari yang paling dasar hingga signifikan.
Urutannya, asuransi kesehatan, asuransi jiwa, baru asuransi aset, misalnya untuk rumah atau properti lain, kendaraan pribadi, hingga barang koleksi.
"Paling minimal punya asuransi kesehatan, kalau sudah berkeluarga atau punya tanggungan, apalagi merupakan tulang punggung atau pencari nafkah, maka perlu asuransi jiwa yang memadai. Baru ditambah asuransi lain jika dirasa perlu," jelasnya.
Kenapa demikian? Pasalnya, asuransi kesehatan punya manfaat memitigasi risiko yang terjadi pada diri sendiri. Sementara, asuransi jiwa untuk memitigasi risiko terhadap diri sendiri yang bisa berdampak ke orang lain.
Misalnya, kepala keluarga meninggal. Padahal, dia selama ini menjadi sumber nafkah bagi istri dan anaknya. Maka, ketika kepala keluarga pergi, asuransji jiwa yang dimilikinya setidaknya bisa menggantikan perannya sebagai sumber penghasilan bagi keluarga melalui santunan yang didapat.
Nah, jika masih punya bujet lebih, boleh saja menambahkan asuransi aset. "Tapi jangan sampai kebalikan, rumah dan kendaraannya sudah diasuransikan, tapi kesehatan dan jiwanya belum," imbuhnya.
Sementara, menurut CFP Learning & Development Manager Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho, prioritas asuransi yang perlu dimiliki adalah asuransi kesehatan, jiwa, pendidikan anak, baru aset.
Sebab, menurutnya, kebutuhan biaya pendidikan anak rentan meningkat cepat dari waktu ke waktu. "Ini perlu untuk menjamin ketersediaan dana agar ada atau tidak ada orang tuanya nanti, tapi si anak dapat tetap bersekolah tanpa ada kendala dana," ungkap Andy.
Di sisi lain, khusus untuk asuransi kesehatan, menurutnya, jika bujet terbatas, maka minimal seseorang punya BPJS Kesehatan. Toh, fungsinya sama-sama untuk melindungi diri dari mahalnya biaya perawatan di rumah sakit, meski tingkat pelayanan yang didapat mungkin berbeda.
"Karena premi asuransi swasta relatif lebih besar dibandingkan BPJS Kesehatan, tapi BPJS Kesehatan bisa menjadi kebutuhan dasar untuk dapat perlindungan biaya kesehatan," terangnya.
Usai mengatur prioritas asuransi, maka selanjutnya adalah menyesuaikan dengan bujet. Khususnya, penghasilan atau gaji yang didapat setiap bulan karena premi asuransi akan menjadi pengeluaran rutin per bulan ketika sudah dibeli.
Bagaimana formula bujet yang ideal? Budi mengatakan umumnya seseorang melakukan pengeluaran dengan formula 40 persen, 30 persen, 20 persen, dan 10 persen. Pertama, 40 persen untuk pengeluaran sehari-hari, seperti kebutuhan makan hingga perlengkapan rumah sehari-hari.
Kedua, 30 persen untuk membayar utang produktif, misalnya cicilan rumah melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan cicilan kredit kendaraan. Ketiga, 20 persen untuk investasi. Keempat, 10 persen untuk proteksi, bisa untuk dana darurat hingga beli asuransi.
Misal, seseorang berpenghasilan Rp6 juta per bulan, maka bujet pengeluaran sehari-hari maksimal sekitar Rp2,4 juta. Lalu, biaya untuk cicilan kredit berkisar Rp1,8 juta dan dana untuk investasi sekitar Rp1,2 juta.
Nah, sisanya bisa untuk dana darurat dan membeli asuransi sekitar Rp600 ribu per bulan. Maka carilah asuransi dengan premi di bawah Rp600 ribu per bulan.
"Tapi ini bisa di-switch sesuai kebutuhan pengeluaran karena ini bukan sebuah pakem, meski bisa menjadi formula ideal. Semua tergantung tujuan berasuransinya, kalau memang kebutuhannya dirasa lebih besar dan perlu lebih dari 10 persen, maka bisa disesuaikan dengan pengeluaran di pos lain," jelas Budi.
Misal, seseorang merasa perlu memiliki asuransi kesehatan dan asuransi jiwa dengan bujet premi mencapai Rp1 juta per bulan. Sementara, penghasilannya Rp6 juta per bulan.
Maka pos yang perlu disesuaikan adalah pengeluaran sehari-hari dan investasi. Sebab, pos cicilan kredit biasanya cukup 'saklek' dari bank di kisaran 30 persen dari gaji.
Dengan begitu, utak-atiklah dua pos pengeluaran, bisa dengan berhemat maupun sedikit mengurangi aliran investasi atau memilih kembali instrumen investasi.
Formula lain, misal bila pengeluaran dan cicilan kredit cukup besar pada saat ini, maka formulanya bisa diracik lagi. Misalnya, dengan cara menggabungkan pos pengeluaran investasi dengan proteksi melalui unit link, yakni produk asuransi yang tak hanya berisi manfaat proteksi, tapi juga investasi.
"Kelebihannya pengeluaran jadi bisa digabung, namun ada kekurangannya juga dari sisi biaya, karena kadang preminya jadi lebih besar dan kita tidak bisa mengatur sendiri penempatan dana untuk investasinya. Maka, harus bisa menilai kemampuan perusahaan asuransi yang mengelola dana asuransi kita," tuturnya.
Langkah ini juga diamini oleh Andy jika memiliki gaji yang terbatas. Tapi ia mewanti-wanti agar pemilihan produk unit link dilakukan dengan hati-hati dan tetap disesuaikan dengan profil risiko seseorang.
Di luar formula bujet ini, Andy juga memastikan agar pengeluaran asuransi sangat disesuaikan dengan penghasilan dan pengeluaran per bulan.
"Jangan sampai demi bisa mendapat benefit asuransi yang tinggi, kita mengabaikan kebutuhan-kebutuhan lain yang juga penting, misal membayar cicilan kredit rumah, kendaraan bermotor, atau kebutuhan makan sehari-hari," tandasnya.
Curhat artis sekaligus politikus Wanda Hamidah soal minimnya dana manfaat asuransi kesehatan Prudential Indonesia membuat produk asuransi jadi sorotan publik dalam beberapa waktu terakhir.
Padahal, manfaat asuransi itu tak pernah digunakannya selama 12 tahun menjadi peserta. Iuran yang ia bayarkan pun tak sedikit, dari awalnya Rp500 ribu, kemudian naik menjadi Rp750 ribu sampai Rp1 juta per bulan per peserta dengan total lima peserta asuransi.
Tetapi, ketika hendak digunakan untuk biaya operasi bernilai Rp50 juta sampai Rp60 juta, rupanya dana manfaat yang didapat cuma Rp10 juta saja. Fakta ini langsung membuat Wanda kecewa dan membagi kisahnya di unggahan Instagram pribadinya.
Kendati begitu, Pendiri sekaligus Direktur OneShildt Financial Planning Budi Raharjo mengatakan kasus Wanda bukan cerminan buruk bagi seseorang untuk tidak perlu memiliki asuransi. Sebab, menurutnya, manfaat asurnasi tetap besar bila perencanaannya matang dan digunakan dengan cermat.
"Karena asuransi salah satu fondasi keuangan seseorang, setelah penghasilan dan dana darurat. Apalagi, ketika terjadi hal emergency yang tidak bisa ditutup oleh penghasilan dan dana darurat, seperti meninggal dunia dan sakit parah," ucap Budi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (19/10).
Karena itu, kepemilikan asuransi tetap perlu, tapi bukan berarti semua jenis asuransi harus dimiliki. Ia mengatakan kepemilikan asuransi tetap harus menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan keuangan seseorang karena ada premi yang harus dibayar setiap bulannya.
Lalu, bagaimana cara memilih asuransi berdasarkan kebutuhan? Nah, beli sesuai prioritas, dari yang paling dasar hingga signifikan.
Urutannya, asuransi kesehatan, asuransi jiwa, baru asuransi aset, misalnya untuk rumah atau properti lain, kendaraan pribadi, hingga barang koleksi.
"Paling minimal punya asuransi kesehatan, kalau sudah berkeluarga atau punya tanggungan, apalagi merupakan tulang punggung atau pencari nafkah, maka perlu asuransi jiwa yang memadai. Baru ditambah asuransi lain jika dirasa perlu," jelasnya.
Kenapa demikian? Pasalnya, asuransi kesehatan punya manfaat memitigasi risiko yang terjadi pada diri sendiri. Sementara, asuransi jiwa untuk memitigasi risiko terhadap diri sendiri yang bisa berdampak ke orang lain.
Misalnya, kepala keluarga meninggal. Padahal, dia selama ini menjadi sumber nafkah bagi istri dan anaknya. Maka, ketika kepala keluarga pergi, asuransji jiwa yang dimilikinya setidaknya bisa menggantikan perannya sebagai sumber penghasilan bagi keluarga melalui santunan yang didapat.
Nah, jika masih punya bujet lebih, boleh saja menambahkan asuransi aset. "Tapi jangan sampai kebalikan, rumah dan kendaraannya sudah diasuransikan, tapi kesehatan dan jiwanya belum," imbuhnya.
Sementara, menurut CFP Learning & Development Manager Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho, prioritas asuransi yang perlu dimiliki adalah asuransi kesehatan, jiwa, pendidikan anak, baru aset.
Sebab, menurutnya, kebutuhan biaya pendidikan anak rentan meningkat cepat dari waktu ke waktu. "Ini perlu untuk menjamin ketersediaan dana agar ada atau tidak ada orang tuanya nanti, tapi si anak dapat tetap bersekolah tanpa ada kendala dana," ungkap Andy.
Di sisi lain, khusus untuk asuransi kesehatan, menurutnya, jika bujet terbatas, maka minimal seseorang punya BPJS Kesehatan. Toh, fungsinya sama-sama untuk melindungi diri dari mahalnya biaya perawatan di rumah sakit, meski tingkat pelayanan yang didapat mungkin berbeda.
"Karena premi asuransi swasta relatif lebih besar dibandingkan BPJS Kesehatan, tapi BPJS Kesehatan bisa menjadi kebutuhan dasar untuk dapat perlindungan biaya kesehatan," terangnya.
Bujet Ideal Beli Asuransi
Asuransi perlu untuk memproteksi diri dan keluarga dari risiko. Namun, berapa hitungan idealnya membayar asuransi dari gaji? Ilustrasi asuransi. (Istockphoto/Courtneyk).
Usai mengatur prioritas asuransi, maka selanjutnya adalah menyesuaikan dengan bujet. Khususnya, penghasilan atau gaji yang didapat setiap bulan karena premi asuransi akan menjadi pengeluaran rutin per bulan ketika sudah dibeli.
Bagaimana formula bujet yang ideal? Budi mengatakan umumnya seseorang melakukan pengeluaran dengan formula 40 persen, 30 persen, 20 persen, dan 10 persen. Pertama, 40 persen untuk pengeluaran sehari-hari, seperti kebutuhan makan hingga perlengkapan rumah sehari-hari.
Kedua, 30 persen untuk membayar utang produktif, misalnya cicilan rumah melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan cicilan kredit kendaraan. Ketiga, 20 persen untuk investasi. Keempat, 10 persen untuk proteksi, bisa untuk dana darurat hingga beli asuransi.
Misal, seseorang berpenghasilan Rp6 juta per bulan, maka bujet pengeluaran sehari-hari maksimal sekitar Rp2,4 juta. Lalu, biaya untuk cicilan kredit berkisar Rp1,8 juta dan dana untuk investasi sekitar Rp1,2 juta.
Nah, sisanya bisa untuk dana darurat dan membeli asuransi sekitar Rp600 ribu per bulan. Maka carilah asuransi dengan premi di bawah Rp600 ribu per bulan.
"Tapi ini bisa di-switch sesuai kebutuhan pengeluaran karena ini bukan sebuah pakem, meski bisa menjadi formula ideal. Semua tergantung tujuan berasuransinya, kalau memang kebutuhannya dirasa lebih besar dan perlu lebih dari 10 persen, maka bisa disesuaikan dengan pengeluaran di pos lain," jelas Budi.
Misal, seseorang merasa perlu memiliki asuransi kesehatan dan asuransi jiwa dengan bujet premi mencapai Rp1 juta per bulan. Sementara, penghasilannya Rp6 juta per bulan.
Maka pos yang perlu disesuaikan adalah pengeluaran sehari-hari dan investasi. Sebab, pos cicilan kredit biasanya cukup 'saklek' dari bank di kisaran 30 persen dari gaji.
Dengan begitu, utak-atiklah dua pos pengeluaran, bisa dengan berhemat maupun sedikit mengurangi aliran investasi atau memilih kembali instrumen investasi.
Formula lain, misal bila pengeluaran dan cicilan kredit cukup besar pada saat ini, maka formulanya bisa diracik lagi. Misalnya, dengan cara menggabungkan pos pengeluaran investasi dengan proteksi melalui unit link, yakni produk asuransi yang tak hanya berisi manfaat proteksi, tapi juga investasi.
"Kelebihannya pengeluaran jadi bisa digabung, namun ada kekurangannya juga dari sisi biaya, karena kadang preminya jadi lebih besar dan kita tidak bisa mengatur sendiri penempatan dana untuk investasinya. Maka, harus bisa menilai kemampuan perusahaan asuransi yang mengelola dana asuransi kita," tuturnya.
Langkah ini juga diamini oleh Andy jika memiliki gaji yang terbatas. Tapi ia mewanti-wanti agar pemilihan produk unit link dilakukan dengan hati-hati dan tetap disesuaikan dengan profil risiko seseorang.
Di luar formula bujet ini, Andy juga memastikan agar pengeluaran asuransi sangat disesuaikan dengan penghasilan dan pengeluaran per bulan.
"Jangan sampai demi bisa mendapat benefit asuransi yang tinggi, kita mengabaikan kebutuhan-kebutuhan lain yang juga penting, misal membayar cicilan kredit rumah, kendaraan bermotor, atau kebutuhan makan sehari-hari," tandasnya.