Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa percaya ekonomi Indonesia bisa tumbuh 6 persen year on year (yoy) pada 2026. Pasalnya, ia telah menyalakan mesin ekonomi sejak menjabat September lalu.
Mesin pendorong itu mulai dari penempatan uang negara di bank pelat merah lebih dari Rp200 triliun hingga beragam insentif fiskal lainnya.
"Sekarang saya kan sedang hidupkan semua mesin ekonomi. Fiskal sudah mulai jalan, moneter sudah semakin sinkron, iklim investasi akan diperbaiki. Saya tetap melihat 6 persen bukan angka yang mustahil untuk 2026, walaupun asumsi kita di 5,4 persen," ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN Kita di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Kamis (18/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, apakah 'mimpi' Purbaya bisa terwujud tahun depan?
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Riza A Pujarama skeptis dengan keyakinan Purbaya. Ia mewanti-wanti ketidakpastian global yang masih tinggi masih terjadi tahun depan.
Kondisi tersebut bakal menekan ekspor, arus modal, dan nilai tukar.
Tantangan lain juga datang dari sisi domestik. Ia mencontohkan bagaimana mesin-mesin pertumbuhan ekonomi masih belum bertransformasi.
"Untuk pertumbuhan 6 persen, nampaknya masih sulit tercapai di 2026," ucap Riza kepada CNNIndonesia.com, Rabu (24/12) lalu.
"Pertumbuhan ekonomi masih bergantung pada konsumsi rumah tangga, sementara sektor ini nampaknya masih akan tertekan karena harga energi dan pangan serta daya beli yang belum pulih sepenuhnya," jelasnya.
Peneliti Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) Muhammad Anwar punya pandangan serupa. Ia mengatakan risiko global yang berat muncul dari ketidakpastian geopolitik, perlambatan ekonomi, hingga fragmentasi perdagangan internasional.
Di lain sisi, rendahnya kualitas dan kuantitas lapangan kerja bermutu juga mengganjal. Anwar menyebut pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi kerap tidak sejalan dengan penciptaan pekerjaan berkualitas atau peningkatan upah nyata.
Ia melihat yang menyerap banyak tenaga kerja sering kali adalah sektor dengan nilai tambah rendah. Pada akhirnya, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tinggi tak otomatis tercermin dalam kesejahteraan rakyat luas.
"Melihat kondisi ekonomi Indonesia saat ini dan proyeksi berbagai lembaga internasional serta domestik, mencapai pertumbuhan ekonomi 6 persen di 2026 secara realistis sangat berat dan berada di luar konsensus umum banyak analis ekonomi," tegasnya.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Proyeksi Laju Ekonomi 2026 versi Bank Dunia Dkk
Sejumlah lembaga ekonomi telah merilis memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan di kisaran 4,9 persen-5,7 persen.
Berikut rangkuman proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 dari setiap lembaga:
1. International Monetary Fund (IMF)
Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi Oktober 2025, IMF merevisi ke atas proyeksipertumbuhan ekonomiIndonesia 2026 dari 4,8 persen menjadi 4,9 persen. Angkanya sama dengan proyeksi tahun ini.
Laju tersebut didukung oleh ketahanan ekonomi domestik menghadapi tekanan ketidakpastian global.
2. Bank Dunia
Bank Dunia memperkirakan ekonomi RI tahun depan tumbuh 5 persen, sama dengan tahun ini. Angka itu meningkat dari proyeksi Juni lalu, 4,8 persen.
Lead Country Economist untuk Indonesia dan Timor LesteBank Dunia David Knight mengatakan pertumbuhan ekonomi akan ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan investasi.
"Pertumbuhan investasi dalam perkiraan kami karena tiga faktor. Pertama, peningkatan investasi melalui Danantara. Kedua, pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut. Ketiga, implementasi reformasi yang akan mendukung peningkatan penanaman modal asing,"ujar Knight dalam acara 'The Launch of World Bank Indonesia Economic Prospects December 2025 Edition' di Energy Building Jakarta, Selasa (16/12) lalu.
3. Asian Development Bank (ADB)
Dalam laporan Asian Development Outlook yang dirilis Desember lalu, ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun depan 5,1 persen. Lajunnya meningkat dari proyeksi tahun ini, 5 persen.
"Proyeksi pertumbuhan 2026 sekarang menjadi 5,1 persen dari 5 persen, didukung oleh peningkatan permintaan domestik yang didorong oleh stimulus fiskal dan moneter," tulis laporan ADB tersebut.
4. Bank Indonesia (BI)
Gubernur BI Perry Warjiyo memproyeksikanpertumbuhan ekonomi RI ada di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen pada 2026. Angkanya meningkat dari proyeksi tahun ini, 4,7-5,5 persen.
Perry menyebutkan setidaknya ada tiga faktor yang memengaruhi prediksi itu. Rinciannya, kinerja ekspor dipercaya terus membaik, belanja pemerintah diprediksi ekspansif, dan investasi berbagai sektor yang tengah mengalami tren peningkatan.
"Kita bersyukur ekonomi nasional berdaya tahan, dari rentetan gejolak global,
stabilitas terjaga, pertumbuhan relatif tinggi. Kuncinya hanya satu, sinergi. Dengan sinergi itu insyaallah kinerja ekonomi Indonesia tahun 2026 dan 2027 akan lebih baik," ujar Perry dalam Pertemuan Tahunan BI (PTBI) pada Jumat (28/12) lalu.
Bank sentral siap bersinergi dengan pemerintah. Sinergi itu dalam lima area penting. Pertama, memperkuat stabilitas dan mendorong permintaan. Kedua, hilirisasi, industrialisasi, dan ekonomi kerakyatan.
Ketiga, meningkatkan pembayaan dan pasar keuangan. Keempat, akselerasi ekonomi keuangan digital nasional. Kelima, terjasama investasi dan perdagangan internasional.
[Gambas:Photo CNN]
5. Bank Mandiri
Tim ekonom Bank Mandiri memproyeksipertumbuhan ekonomiIndonesia mencapai 5,2 persen pada 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan prediksi laju tahun ini, 5,1 persen.
Percepatan laju ekonomi RI tahun depan didorong oleh konsumsi rumah tangga, pemulihan investasi, serta kebijakan fiskal yang lebih ekspansif. Kendati, secara global, ekonomi masih menghadapi tekanan perlambatan
"Program strategis pemerintah diproyeksikan memberikan multiplier effect ke berbagai sektor, khususnya manufaktur, industri pengolahan, dan sektor padat karya," terang Tim Ekonom Bank Mandiri dalam Macro Economic Outlook Kuartal IV 2025 yang dipaparkan pada Rabu (3/12) lalu.
[Gambas:Video CNN]