Alasan Susu Tinggi Lemak Lebih Baik dari Susu Rendah Lemak

Windratie, CNN Indonesia | Senin, 09/03/2015 16:07 WIB
Alasan Susu Tinggi Lemak Lebih Baik dari Susu Rendah Lemak Ilustrasi minum susu. (Getty Images/Purestock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menghindari lemak susu tak sebaik yang dikira selama ini. Seringkali kita bertanya, susu skim atau susu tinggi lemak? Yoghurt non-fat atau full-fat?

Ada anggapan memotong lemak susu dapat menghindari kalori tanpa kehilangan hal-hal baik yang dikandung susu seperti kalsium dan protein. Tampaknya itu seperti solusi terbaik, tapi itu salah, kata para ahli baru-baru ini, seperti dilansir laman Time.

Tinjauan baru terhadap penelitian tentang lemak susu sebelumnya melaporkan hasil mengejutkan. Orang-orang yang mengonsumsi susu tinggi lemak (full-fat) tidak mengembangkan penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2, daripada orang-orang yang setia mengonsumsi susu rendah lemak,


Menurut penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Nutrition tersebut, susu tinggi lemak sebenarnya lebih baik untuk seseorang jika dikaitkan dengan berat badan seseorang.

“Dalam hal obesitas, kami menemukan tidak ada bukti yang mendukung gagasan susu rendah lemak lebih sehat,” kata Mario Kratz, penulis penelitian yang juga ahli nutrisi di Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle.

Dari 25 penelitian, termasuk penelitian dalam kajian timnya, Kratz berkata, 18 penelitian melaporkan berat badan yang rendah, berat badan kurang, atau rendahnya risiko obesitas di kalangan orang-orang yang mengonsumsi susu tinggi lemak.

Tujuh penelitian lain tidak menghasilkan kesimpulan. “Tak satu pun penelitian menyarankan susu rendah lemak lebih baik,” katanya.

Penelitian berikutnya mendukung temuan timnya. Penelitian pada 2013 di Scandinavian Journal of Primary Health Care melacak tingkat asupan dan obesitas susu pada lebih dari 1500 orang dewasa paruh baya dan yang lebih tua.

Orang-orang yang sering makan mentega lemak tinggi, susu, dan krim memiliki obesitas lebih rendah daripada mereka yang menghindari lemak susu. “Berdasarkan penelitian saya sendiri dan penelitian yang lain, saya percaya susu tinggi lemak cenderung kurang berkontribusi terhadap obesitas dari susu rendah lemak,” kata Sara Holmberg, penulis penelitian seperti dilansir dari laman Time.

Keyakinan bahwa lemak bukan penjahat kesehatan jadi daya tarik pada beberapa tahun terakhir. Terutama, saat data yang menunjukkan diet rendah lemak tidak bekerja telah demikian menumpuk. Kendati organisasi kesehatan nasional melunakkan sikap pada lemak, mereka tetap merekomendasikan untuk mengonsumsi susu dengan lemak lebih rendah, atau susu tanpa lemak dari supermarket.

Pembenarannya, “Penelitian menunjukkan secara konsisten bahwa makanan kaya nutrisi, makanan dengan mikronutrien yang banyak dalam setiap kalori, adalah lebih sehat,” kata Isabel Maples, ahli gizi.

“Susu rendah lemak menyediakan kalsium, kalium, dan hal-hal baik lainnya yang dibutukan. Susu rendah lemak juga mengandung lemak jenuh lebih sedikit,” kata Maples.

Namun, pendapat tersebut disanggah oleh Kratz. Katanya, Maples membuat asumsi tentang susu yang tidak didukung oleh bukti-bukti yang ada. “Data harus dipertimbangkan lebih besar daripada asumsi,” katanya.

Beberapa peneliti berpendapat, tidak semua kalori sama, terutama jika berhubungan dengan berat badan. Jumlah kalori per sajian juga seringkali diabaikan sebagai faktor besar dalam hal obesitas.

Asam lemak susu juga berperan dalam ekspresi gen dan hormon. Istilah sederhananya, asam dapat mendongkrak berapa banyak energi tubuh yang dibakar, atau membatasi jumlah lemak tubuh. “Temuan kami menunjukkan konsumsi susu tinggi lemak adalah lebih baik dari susu rendah lemak jika menyangkut risiko obesitas seseorang.”


(win/mer)