Makan Tiga Kali Sehari Mungkin Berbahaya Untuk Kesehatan

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Kamis, 12/03/2015 12:56 WIB
Makan Tiga Kali Sehari Mungkin Berbahaya Untuk Kesehatan ilustrasi makan (Ali Inay/unsplash)
Jakarta, CNN Indonesia -- Makan tepat waktu itu baik, dan ngemil itu buruk. Sarapan adalah makanan paling penting dalam satu hari, makan bersama keluarga bisa menjamin kehidupan sehat sampai istirahat makan siang akan membuat Anda sukses di pekerjaan. Sejak dulu, Anda selalu dijejali dengan konsep makanan semacam itu. Sekarang saatnya untuk pelan-pelan melupakan semua itu.

Ternyata, menurut penelitian terbaru, ada beberapa hal di atas yang tak sesuai dengan kenyataan. Salah satunya, konsep makan tiga kali sehari ternyata dianggap tak ada hubungannya dengan kebutuhan metabolik Anda yang sesungguhnya. Faktanya lagi, patuh makan tiga kali sehari, sarapan, makan siang, dan makan malam bisa berpotensi membuat Anda justru jadi sakit.

Penelitian yang dilakukan oleh University of Bath tahun 2014 lalu dinilai tak memiliki efek pada metabolisme tubuh. Orang yang rajin sarapan memang membakar kalori lebih banyak daripada yang tidak sarapan. Namun, jumlah kalori bersih yang dikonsumsinya sama, karena orang yang sarapan akan membakar kalori ekstra dari makanan yang disantap saat sarapan. Tak cuma itu, penelitian di University of Alabama, sarapan juga tak berpengaruh pada kesuksesan diet Anda.


Mitos lainnya tentang sarapan, makanan pagi ini ternyata bukan satu-satunya makanan penting dalam metabolisme Anda. Kapan pun Anda makan, jumlah kalori dalam tubuh akan sama saja. Dikutip dari laman Mother Jones, kapan pun Anda makan, baik pagi, siang, sore, atau malam, jumlah kalori yang Anda dapatkan dinilai akan sama saja.

Studi yang dilakukan tahun 2010 lalu dakam British Journal of Nutrition melakukan penelitian terhadap satu kelompok orang. Mereka dibagi dua menjadi kelompok yang makan tiga kali sehari dan lainnya enam kali sehari. Nyatanya, peneliti tidak menemukan perbedaan berat badan dan metabolisme hormonal yang berbeda di antara keduanya. Tahun 2014 lalu, peneliti dari Universitas Warwick juga mengatakan tak menemukan adanya perbedaan metabolisme tubuh antara perempuan yang makan dua kali sehari dan lima kali sehari.

Christopher Ochner, ahli penurunan berat badan dan ahli gizi dari Mt. Sinai Hospital New York mencatat bahwa tak semua orang cocok untuk semua solusi ini, Beberpa orang bisa makan semua kalori harian mereka sekaligus, dan lainnya lebih memilih untuk membaginya ke dalam ukuran per porsi.

Namun, perubahan metabolik tubuh akan terjadi ketika Anda justru melewatkan waktu makan atau bahkan berpuasa. Di Indonesia, berpuasa memang bukan hal yang baru. Bahkan sudah banyak orang yang merasakan banyaknya manfaat berpuasa.

Para ahli pun mengklaim, bahwa sesekali berpuasa akan memberi pengaruh baik untuk tubuh. Sebuah studi menemukan bahwa berpuasa selama dua hari atau lebih dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, terutama yang rusak karena penuaan atau karena pengobatan kanker.

"Ketika Anda kelaparan, sistem tubuh akan mencoba menghemat energi. Dan salah satu hal yang terjadi ketika energi dihemar adalah dengan mendaur ulang sel-sel kekebalan tubuh yang tak diperlukan, terutama yang rusak," kata Valter Longo, seorang ahli dari Unoversity of Southern California.

Ia dan timnya menemukan bahwa puasa selama 2-4 hari setiap enam bulan sekali akan memaksa tubuh berubah ke mode bertahan hidup. Dalam mode ini, tubuh akan menggunakan cadangan lemak dan gula untuk mendaur ulang sel kekebalan tubuh yang lama.

"Tubuh akan mengirimkan sinyal pemberitahuan kepada sel induk untuk membangun kembali seluruh sistem imun ini.

Daripada terobsesi dengan jumlah dan frekuensi makan, Ochner merekomendasikan gaya makan yang lebih sederhana. Jangan makan ketika itu waktunya untuk makan. Tetapi makanlah ketika Anda merasa lapar. Hal ini akan mencegah Anda untuk mengonsumsi makanan dalam jumlah yang berlebihan dan menyebabkan kegemukan. Dalam masyarakat industri, di mana ada makanan berlimpah maka banyak orang yang makan karena isyarat sosial atau karena kelihatannya baik. Artinya, banyak orang yang makan karena lapar mata atau karena ikut-ikutan lingkungan sekitar. Ini adalah seni yang hilang.

Anda harus belajar untuk memerhatikan diri sendiri dan bukan lingkungan. Ini adalah diet yang terbaik dari semua saran diet yang ada.  (chs/utw)