Peregangan Ternyata Tidak Selalu Mencegah Cedera

Utami Widowati, CNN Indonesia | Senin, 20/04/2015 07:24 WIB
Peregangan Ternyata Tidak Selalu Mencegah Cedera Ilustrasi (Thinsktock/A75)
Jakarta, CNN Indonesia -- Cedera otot dan tendon adalah hal lumrah terjadi dalam kegiatan olahraga. Selama ini kita percaya bahwa senam ringan untuk peregangan adalah cara efektif untuk mencegahnya. Benarkah demikian?

Nanti dulu, karena ternyata sebuah analisa baru terhadap sejumlah penelitian yang dilakukan sebelumnya menyimpulkan hal berbeda. Ternyata peregangan tidak selalu membantu atau mengurangi risiko cedera bagi semua orang.

“Peregangan seringkali dipandang sebagai metode yang bisa diterima untuk mencegah cedera karena olahraga, termasuk pada tendinopathy atau masalah pada tendon,” kata penulis hasil penelitian, Janne A. Peters dari University Medical Center Groningen, Belanda seperti dikutip dari Reuters. “Namun tak ada bukti ilmiah yang mengkonfirmasi hal ini,” Peters melanjutkan laporannya dalam Journal of Science and Medicine in Sport.


Tendon adalah pita tebal yang menghubungkan otot ke tulang. Ketika mereka terkikis atau meradang disebut tendinitis. Tendinosis, adalah robekan tipis terjadi di dalam dan di dekat jaringan tendon. Sebagian besar ahli menggunakan kata tendinopathy untuk menjelaskan kedua masalah itu, peradangan dan robekan di tendon.

Kondisi ini bisa terjadi di seluruh tubuh, sering di sendi, termasuk di pergelangan kaki, lutut, pinggul, kunci paha, bahu dan siku. Rasanya bisa sangat menyakitkan, dengan angka kekambuhan yang cukup tinggi, hingga bisa jadi kondisi menahun.

“Ini adalah cedera yang tak hanya bisa menyerang para atlet, tapi juga orang dewasa yang suka berolahraga dan cenderung terlalu berat berolahraga,” kata Dr. David Geier, ahli bedah ortopedik dan mantan direktur pengobatan olah raga di Medical University di South Carolina, yang tak terlibat dalam penelitian.

“Achilles tendinopathy sering menyerang atlet pelari, sementara pattelar atau tendinopathy pada lutut sering menyerang mereka yang melakukan lompat berulang seperti bola basket,” kata Geier. Untuk atlet kondisi ini bisa memengaruhi karier mereka, sekaligus kualitas hidup mereka.

Peters dan sejumlah koleganya meneliti 10 artikel yang meneliti metode pencegahan tendinopathy. Dari analisa itu, ditemukan tiga keuntungan dari intervensi spesifik dalam pencegahan cedera di tendon Achilles yang menghubungkan antara tulang tumit dan otot betis.

Satu studi menghubungkan program spesifik seperti latihan keseimbangan pada olahraga sepak bola yang bisa mengurangi risiko cedera. Penelitian kedua menunjukkan manfaat penggunaan sepatu dengan sol yang bisa menyerap hentakan, dan ketiga adalah terapi pengganti hormon untuk wanita.

Jadi tak ada bukti bahwa peregangan bisa bermanfaat untuk semua kondisi. Terutama justru menambah risiko cedera pada mereka yang sudah punya masalah dengan lutut atau tendonnya.



(utw/mer)