Dari mi basah, bakso, ikan asin, dan makanan lainnya, setiap hari kita dirundung perasaan khawatir, takut terpapar zat berbahaya itu. Namun, sebetulnya ada cara sederhana menghapus peredaran formalin, yakni dengan prinsip kuliner lokal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tujuannya menurut Bondan, agar ongkos transportasi rendah. “Supaya kita enggak terlalu banyak bakar-bakar bensin untuk membawa makanan ke tempat kita.”
Prinsip eat local ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari Bondan. “Saya pencinta makanan, tapi kalau teman-teman saya bilang, ayo makan kepiting Papua, saya enggak ikutan karena saya anti itu.”
Menurutnya, kepiting di daerah Muara Baru, Jakarta Utara tak kalah nikmat.
“Enggak usah cari kepiting Papua yang sudah pasti harganya mahal. Kalau saya sedang ke Papua cari kepiting Papua boleh saja, karena di situ menjadi lokal,” katanya mengungkapkan.
Bondan mencontohkan, konsep makanan lokal adalah ketika seseorang membeli makanan dari lingkungan di sekitarnya. “Katakanlah kalau kita beli tempe dari tempe tetangga kita.”
Dengan cara ini, terjadi pengawasan melekat. “Kita bisa lihat, 'kamu jangan jorok dong aku kan makan tempe kamu', dia pun enggak berani macam-macam, karena dia tahu konsumen dia ada di sekitar dia,” kata Bondan menjelaskan.
Di lain pihak, masih ada salah kaprah tentang kesegaran makanan. “Kita itu kurang pintar. Kita selalu mau makanan itu segar, fresh, itu salah karena ikan beku itu sama bagusnya dengan ikan segar,” kata Bondan.
Bondan bertanya, “Kamu pilih makan ikan segar yang sudah sepuluh jam lalu di pasar, atau pilih ikan beku yang begitu keluar dari kapal langsung dibekukan?” Dirinya sendiri mengaku akan memilih ikan beku.
“Karena sudah pasti kualitasnya lebih bagus dari yang sudah sepuluh jam dikerubungi lalat.” Membekukan adalah cara terbaik untuk menjaga kesegaran, ucapnya.
(win/mer)