Salah satu keprihatinanya adalah mengenai penyelenggaraan pekan mode atau fashion week yang memiliki banyak nama, mulai dari Jakarta Fashion Week hingga Indonesia Fashion Week.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak seperti di luar negeri yang jadi penentu tren fesyen, penyelenggaraan pekan mode di Indonesia masih kurang jelas, sehingga tidak bisa menjadi penentu tren fesyen negerinya sendiri," ujar Ayla.
"Mungkin jika konsepnya sudah menyatu, perhatian publik akan semakin banyak dan bahkan bisa menjadi penentu tren fesyen di sekitar Asia," katanya melanjutkan.
Ditemui di acara pembukaan gerai fesyen dari Berlin, Ayla tentu saja menuruti kode busana yang ditentukan, yaitu Berlin street style.
Memakai atasan lengan panjang berwarna khaki dengan aksen berbulu yang sangat Berlin dengan celana bahan berwarna senada, Ayla mengaku memang tidak terlalu suka berbusana yang terlalu minim.
Banyaknya perancang busana Muslim saat ini diakui Ayla membuat dirinya malah tertarik memakai busana mereka, meski ia tidak berhijab.
"Aku tertarik banget memakai baju rancangan perancang busana Muslim. Apalagi sekarang busana rancangan mereka semakin gaya dan sesuai dengan tren saat ini yaitu tomboy, girlie, layering dan boyish," ujar Ayla.
Untuk perancang busana Indonesia favoritnya, Ayla menggemari rancangan dari F Budi, Vinora dan Toton.
Tapi yang ada lebih banyak di rumahnya justru koleksi tas model clutch berbahan kulit.
"Di lemariku banyak sekali tas model clutch, karena aku enggak suka bawa banyak barang tapi tetep pengen bawa tas. Rasanya kalau bawa clutch tetep cocok sama semua gaya berbusana aku," kata Ayla menutup pembicaraan.
(ard/mer)