Hasil Survei: Warga Jakarta Kebanyakan Kerja, Kurang Olahraga

Nadi Tirta Pradesha | CNN Indonesia
Selasa, 19 May 2015 17:45 WIB
Mengutip data survei, lima dari 10 karyawan di Jakarta mudah mengantuk dalam jam kerja pada satu pekan terakhir. Ilustrasi kemacetan pada jam pulang kantor di Jakarta. (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Apa yang terbersit di pikiran ketika menyebut kata Jakarta? Tak mengherankan jika orang menyebut satu kata: kemacetan. Kemacetan mungkin memang jadi faktor utama penyebab stres dan jadi kurang sehatnya orang yang tinggal di Jakarta.

Tapi ini bukan satu-satunya penyebab. Ada dua lagi faktor yang menyumbang paling besar dari kondisi kurang bugarnya orang Jakarta, yaitu kurang berolah raga dan terlalu banyak bekerja.

Hal ini terungkat dalam peluncuran sebuah hasil survei yang diberi judul  Jakarta Professional Health Index 2015. Survei dilakukan terhadap 1.000 orang pria dan wanita berusia 25-45 tahun. Para responden ini berasal dari status ekonomi A-B dan tinggal di Jabodetabek, dengan 378 di antaranya adalah staff di tempatnya bekerja, dan 622 berada di jenjang manajer ke atas.  


Survei yang dirilis pada Jakarta Health Week bertempat di Atrium Senayan City hari ini (19/5) ini juga mengungkapkan apa saja faktor penunjang hidup sehat di kalangan pekerja Jakarta.

Mengutip data survei tersebut, lima dari 10 karyawan di Jakarta mudah mengantuk dalam jam kerja pada satu pekan terakhir. Tak hanya itu mereka juga mengeluhkan badan pegal-pegal dan rasa mudah lelah.

Kemacetan Jakarta, juga jadi faktor penyebab tidak sehatnya warga Jakarta, dengan menyumbang 70 persen dari penyebab stres. Simak saja hasil penelitian ini bahwa enam dari 10 responden menghabiskan 2-4 jam per hari untuk berada di perjalanan. Baik menuju kantor, kembali ke rumah atau keperluan lainnya.

Penyebab kedua adalah beban pekerjaan, termasuk di dalamnya adalah tenggat, beban kerja,  tekanan dari atasan dan kolega kerja. Lebih dari sepertiga responden menghabiskan waktu di kantor selama lebih dari 10 jam per hari.  Padahal idealnya orang bekerja hanya selama delapan jam saja dalam sehari.

Sementara faktor kurangnya olahraga juga tak kalah penting. Terhitung sebanyak 23,8 persen responden yang terdiri dari mayoritas wanita tidak berolahraga sama sekali.

Gaya hidup yang sehat dapat dicapai namun tidak dapat ditempuh dengan satu cara. Belum lagi hubungan antara kondisi fisik, mental dan prestasi karier. Sebanyak 96 persen responden setuju bahwa kesehatan memengaruhi kesuksesan karier. Tapi  hanya 50 persen responden yang sudah menjalani gaya hidup sehat.

Untuk mengatasi tiga masalah kesehatan itu, salah satu pembicara dalam peluncuran hasil survei ini,  Dr. dr. Inge Permadhi, ahli gizi klinis menekankan pentingnya pola makan sehat dan seimbang dalam menjaga kesehatan. “Kesehatan dipengaruhi banyak faktor, salah satu faktor yang penting adalah apa yang kita makan,” Inge menegaskan.

Prinsip makan sehat sebenarnya cukup sederhana, yakni bagaimana kita mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan, menjaga keseimbangan komposisi zat gizi, mengolahnya secara sehat dan mematuhi waktu makan.

Terkadang kita tidak dapat mengonsumsi makanan secara sehat, padahal tubuh menuntut makanan yang optimal untuk dapat mempertahankan kesehatan, pada saat seperti inilah kita dapat mengonsumsi suplemen kesehatan. “Namun apabila kita menyayangin diri kita, adalah sangat baik apabila kita memperhatikan dan menerapkan pola makan sehat dan seimbang,” kata Inge.

(utw/utw)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER