Ilmuwan Temukan Hubungan Kepemilikan Kucing dan Skizofrenia

Windratie, CNN Indonesia | Senin, 15/06/2015 13:54 WIB
Ilmuwan Temukan Hubungan Kepemilikan Kucing dan Skizofrenia Keluarga yang memelihara kucing secara signifikan memiliki anak yang didiagnosis dengan skizofrenia atau penyakit mental lain yang serius. (CNN Indonesia/Kiky Makkiah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para ilmuwan menemukan hubungan antara orang-orang yang memelihara kucing dan perkembangan penyakit mental, termasuk skizofrenia. Mereka percaya, parasit mungkin penyebab hal tersebut.

Pada penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Penelitian Skizofrenia, para ahli menulis, keluarga yang memelihara kucing secara signifikan memiliki anak yang didiagnosis dengan skizofrenia atau penyakit mental lain yang serius, seperti dilansir dari laman Huffington Post.

Peneliti menganalisis kuesioner dari tahun 1982 yang sebelumnya tidak digunakan. Kuesioner milik Institut Nasional Penyakit Mental ini diisi oleh 2,125 keluarga. Dari kuesioner tersebut, para ilmuwan menemukan, 50,6 persen orang yang mengembangkan skizofrenia memiliki kucing di masa kecil.


Hasil ini serupa dengan dua penelitian lain pada 1990-an, kata para ahli. Sekitar satu dari seratus orang akan mengalami skizofrenia dalam hidup mereka. Namun, penyakit ini paling sering didiagnosis antara usia 15 sampai 35 tahun, menurut badan kesehatan nasional NHS di Inggris.

Skizofrenia adalah penyakit mental jangka panjang yang dapat menyebabkan gejala seperti halusinasi, delusi, dan perubahan perilaku.

Kendati contoh keseluruhan skizofrenia dalam penelitian ini rendah, para ilmuwan mencoba untuk memahami mengapa ada hubungan tersebut. Namun, para peneliti percaya bahwa toxoplasma gondii, parasit bersel tunggal yang ada pada beberapa kucing, barangkali jadi penyebabnya.

E. Fuller Torrey, peneliti dari Stanley Medical Research Institut, yang ikut dalam penelitian ini, berkata, “T. gondii masuk ke otak dan membentuk kista mikroskopis. Parasit tersebut menjadi aktif pada masa remaja akhir dan menyebabkan penyakit yang mungkin dapat memengaruhi neurotransmitter.”

Penelitian sebelumnya menunjukkan, toxoplasma gondii dapat masuk ke dalam otak manusia dengan menggunakan jenis sel darah putih di dalam sistem kekebalan tubuh sebagai kuda Trojan untuk masuk ke sistem saraf pusat.

Toxoplasma gondii bisa hidup di banyak spesies berbeda, tapi hanya bisa menyelesaikan siklus hidupnya pada kucing, karena kucing mengeluarkan parasit dalam kotoran mereka.


(win/mer)