Sepuluh ribu bayi lahir setiap tahun di Amerika Serikat dengan kondisi tuli sensorineural. Data menunjukkan bahwa setengah dari mereka menerima implan koklea, yakni perangkat kecil yang membantu hadirnya suara untuk orang tuli.
Beberapa ahli menyarankan, semua anak tuli, dengan atau tanpa implan koklea, untuk belajar bahasa isyarat. Sementara, beberapa orang khawatir mempelajari bahasa isyarat akan mengganggu rehabilitasi yang dibutuhkan untuk memaksimalkan perangkat koklea.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
John Lantos, profesor pediatri dari Universitas Missouri, Kansas City, menulis dalam jurnal, “Semakin banyak bahasa yang mereka pelajari, semakin baik anak-anak ini akan dapat berkomunikasi.”
Lantos mengatakan, terlalu banyak anak-anak yang menerima implan koklea gagal untuk mencapai fungsionalitas penuh pendengaran. “Jika idenya adalah untuk memberikan potensi terbesar dalam berkomunikasi dengan banyak cara yang dapat mereka lakukan, memelajari keduanya adalah pendekatan terbaik.”
Sementara, Donna Jo Napoli, memberikan pendapat tentang mendesaknya pengadopsian bahasa isyarat. Napoli berkata, “Anak-anak harus dikelilingi oleh bahasa isyarat sebanyak mungkin sesegera mungkin ketika status audiologi ditentukan.”
“Jika anak mendapat implan koklea dengan berfungsi dengan baik, fantastis. Lalu anak tersebut akan mempelajari bilingual.”
Patti Martin, direktur audiologi di Rumah Sakit Anak Arkansas, yang masuk dalam panel Pediatrics, mengatakan, lebih dari 95 persen anak-anak tuli lahir dari orang tua yang dapat mendengar.
Mereka dihadapkan pada keputusan sulit agar tidak kehilangan waktu berharga dalam pengembangan komunikatif anak mereka.
"Kenyatannya adalah, tidak ada pilihan yang mudah bagi anak untuk memiliki akses bahasa secara penuh," kata Martin. "Terlepas dari pilihan Anda, tingkat keterlibatan keluarga merupakan kunci dari kesuksesan anak Anda.”
(win/mer)