Menepis Mitos Sakit Mag Makin Parah di Bulan Puasa

Merry Wahyuningsih, CNN Indonesia | Rabu, 17/06/2015 11:20 WIB
Ada beberapa orang penderita kondisi tertentu yang ragu untuk menjalankan ibadah puasa lantaran takut penyakitnya akan semakin parah Ilustrasi (Thinkstock/Ana Blazic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bulan Ramadan sudah di depan mata. Semua umat Muslim di seluruh dunia bersiap menjalankan ibadah puasa. Namun, ada beberapa orang penderita kondisi tertentu yang ragu untuk menjalankan ibadah tersebut lantaran takut penyakitnya akan semakin parah, salah satunya penderita sakit mag.

Banyak mitos berkembang di masyarakat yang menyatakan bahwa berpuasa di bulan Ramadan akan memperburuk gangguan sakit mag pada orang yang memang sudah ada masalah dengan lambung.

“Dasar kenapa mereka menganut mitos ini adalah berpatokan bahwa orang yang sakit mag harus makan dengan frekuensi sedikit dan sering,” kata Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, dokter dari Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, dalam keterangan tertulis yang diterima CNN Indonesia.



Menurut Ari, memang betul kalau orang yang mempunyai masalah dengan sakit mag harus mengonsumsi makanan dengan porsi sedikit dan frekuensi sering.

“Hal ini memang ada benarnya. Tetapi jika kita melihat klasifikasi dari sakit mag itu sendiri, bahwa sakit mag dibagi menjadi sakit mag fungsional dan sakit mag organik,” ujar Ari menjelaskan.

Dijelaskan Ari, berdasarkan hasil penelitian, 70-80 persen sakit mag yang ada di masyarakat adalah sakit mag fungsional. Sakit mag fungsional terjadi karena ketidakteraturan makan, kebiasaan mengonsumsi camilan yang tidak sehat sepanjang hari yang dapat memperburuk sakit mag, seperti makanan asam, pedas, cokelat dan keju.


Merokok sepanjang hari juga bisa menjadi pemicu masalah pada lambung. Selain itu, sakit mag juga berhubungan dengan faktor stres, baik di keluarga atau pekerjaan.

“Jika mereka berpuasa maka makannya menjadi teratur pada saat buka dan sahur, pasti akan mengurangi camilan yang tidak sehat, dan tidak merokok sepanjang hari karena sedang berpuasa,” kata Ari.


Selama melakukan rangkaian ibadah puasa, orang yang sakit mag akan lebih melakukan pengendalian diri, lebih banyak beribadah dan dirinya akan lebih tenang.

“Hal ini semua akan membuat orang sakit mag yang sebagian besar karena sakit mag fungsional sakit magnya akan sembuh,” ujar Ari menegaskan.

Mitos lain seputar sakit mag yang muncul adalah mengonsumsi obat mag agar terhindar dari gangguan lambung saat berpuasa.

“Jelas mitos ini tidak tepat. Justru orang yang mempunyai sakit mag, sakit magnya akan membaik saat berpuasa, apalagi orang yang memang tidak mempunyai sakit mag tentu akan lebih sehat saat berpuasa, dan tidak perlu obat untuk mencegah agar tidak sakit mag,” kata Ari.



(mer)